[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Chapter 3

[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Chapter 3

Translator: Chesky Aseka & Friends
Proofreader: Chesky Aseka

CHAPTER 3 :Dalang Memberikan Ujian Pertama

Aku benci hujan. 

Karena aku malu pada kelemahanku sendiri, bagian dari diriku yang justru merasa tenang karenanya. 

Saat aku menyingkirkan minoritas yang seharusnya bisa diselamatkan. Saat aku menebas musuh yang mungkin masih bisa diajak saling memahami. Saat tanganku berlumuran darah. Di saat-saat itulah, aku menangis. 

Namun, aku tidak boleh memperlihatkan sisi itu pada siapa pun. Karena aku adalah seorang pahlawan. 

“Jadi... hari ini hujan, ya.” 

Hari-hari penting selalu diiringi hujan. Dan aku selalu menangis di hari-hari itu. 

Mungkin... hari ini akan menjadi yang terakhir. 

Kami akan menumbangkan Ordo Pahlawan, lalu menuju Hutan Tanpa Jalan Pulang untuk mencari guru kami. Sambil membayangkan masa depan, kami terus melangkah maju. 

“Aku tidak menyangka bahkan dirimu, seorang petualang dari negeri tetangga, akan ikut bertempur.” 

“Negeri kami pernah dimusnahkan sekali oleh Dewa Iblis Kara. Apakah kami benar-benar telah dibebaskan atau tidak, itu tugasku untuk memastikan dengan mata kepala sendiri. Karena itu, mohon jangan hitung aku sebagai kekuatan tempur.” 

“Begitu rupanya.” 

Petualang peringkat S dari negeri tetangga, yang disebut-sebut sebagai yang terkuat, Nordi. 

Seorang pemuda tampan dengan aura tenang, yang konon memiliki kemampuan khusus bernama Penilai. 

Kemampuan bertarungnya begitu tinggi hingga namanya terdengar ke negeri kami. Meski dia berkata untuk tidak menganggapnya sebagai kekuatan tempur, kehadirannya saja sudah sangat berarti. 

Dalam skenario terburuk, bahkan jika kami semua gugur, dia pasti akan membawa pulang informasi tentang Ordo Pahlawan. 

“Jika dipikir-pikir, bukannya ini berlebihan?” 

“Tidak, justru mungkin masih kurang...” 

Nordi tampaknya menilai para petualang di belakangnya sebagai kekuatan yang berlebihan. 

Memang, termasuk kami, pasukan penyerang ini berjumlah 20 orang dan semuanya memiliki kemampuan tempur setara peringkat S. 

Jika lawannya hanya Dewa Iblis, mungkin memang berlebihan. Namun, Ordo Pahlawan memiliki Ortlinde Marteno. Gadis itu jauh lebih berbahaya dibanding Kara. Seorang pengguna roh ilahi yang mampu memusnahkan seluruh Tim Pahlawan sendirian. Belum lagi adanya Jenderal Iblis Bertopeng, jika semua itu diperhitungkan, kekuatan ini tetap terasa belum cukup. 

“Meskipun Dewa Iblis itu benar-benar ada, dengan kekuatan seperti ini seharusnya masih ada peluang menang, bukan?” 

“Ada Ortlinde Marteno.” 

“Bagaimanapun juga dia hanyalah manusia, bukan? Sulit membayangkan ancamannya setara dengan Dewa Iblis.” 

“Jika begitu, kami Tim Pahlawan juga manusia.” 

“Ya, benar juga. Pada akhirnya, kalian belum melampaui batas sebagai manusia, meskipun kalian Tim Pahlawan.” 

Apakah itu sindiran? Tidak, bukan begitu. 

Nordi tampaknya benar-benar menilai kami sebagai pihak yang setara. Dan itu berarti, dia menganggap kami cukup kuat untuk disetarakan dengannya. 

“Negeri kami tidak pernah menganggap Raja Iblis sebagai ancaman. Hubungan diplomatik pun berjalan dengan baik. Tidak ada alasan untuk berperang.” 

“Jika kami kalah, tidak ada jaminan negeri kalian tidak akan ikut diserbu.” 

“Raja Iblis itu bukan sosok yang menyukai konflik. Aku sendiri pernah berbicara langsung dengannya. Terus terang saja, dari sudut pandang negeri kami, perang itu hanyalah gangguan yang merepotkan.” 

Jika itu adalah diriku yang dulu, aku pasti sudah membantah ucapan Nordi. Namun sekarang, setelah mengetahui bahwa semua ini adalah bagian dari siasat Emo Sugiru, kenyataannya aku tidak bisa sepenuhnya menyangkalnya. 

Gadis penyihir yang berjalan di sampingku, Frimla, melangkah ke depan, berdiri tepat di hadapan Nordi. Sepertinya dia benar-benar tersinggung. 

“Hei, kamu. Apa maksud dari ucapanmu?” 

“Aku hanya ingin kalian mengerti bahwa saat ini, kamilah yang membersihkan kekacauan yang ditinggalkan oleh Tim Pahlawan bodoh yang dimanipulasi oleh seseorang bernama Emo Sugiru.” 

“Apa!?” 

“Jika kebangkitan Dewa Iblis berhasil dicegah sejak awal, bahkan pasukan penyerang seperti ini pun tidak akan diperlukan.” 

“Kamu berani mengoceh seperti itu karena kamu belum tahu seberapa mengerikannya kekuatan seorang pengguna roh ilahi!” 

“Hentikan, Frimla.” 

Aku menenangkan Frimla. 

Perkataan Nordi tidak sepenuhnya salah. Namun, satu hal yang harus dia koreksi adalah pemahamannya tentang kekuatan Ordo Pahlawan. 

Karena bahkan dengan pasukan penyerang sebesar ini pun, mereka adalah kejahatan raksasa yang nyaris mustahil ditaklukkan. 

“Kita sudah sampai?” 

“...Iya.” 

Menanggapi pertanyaan Nordi, gadis pemanggil roh Aurora memberi tahu bahwa mereka telah tiba sampai tujuan. 

Suasana seluruh pasukan penyerang pun berubah. 

Apa pun pemikiran pribadi mereka, apa pun rasa tidak suka yang ada, saat pekerjaan dimulai, semua orang bersatu. Begitulah sikap profesional sejati. 

“Besar kemungkinan, Jenderal Iblis bertopeng adalah Dungeon Master-nya. Jika ada yang berhasil menghabisinya, keuntungan mereka di medan tempur akan langsung lenyap.” 

Selama bertarung di dalam dungeon, pihak yang dirugikan adalah kami. 

Maka dari itu, prioritas utama adalah menumbangkan Jenderal Iblis Bertopeng. Setelah itu, barulah Dewa Iblis Kara dan Ortlinde Marteno dijatuhkan satu per satu. 

Skenario terburuknya ialah menghadapi Dewa Iblis dan Ortlinde secara bersamaan. Itulah situasi mutlak yang harus dihindari, dan menuntut pergerakan yang sangat hati-hati. 

“Kalau begitu, kita jalankan sesuai rencana.” 

“Apa kamu yakin ingin masuk duluan?” 

“Bukannya sudah kubilang? Sebagai pemilik kemampuan Penilai, akulah yang paling layak masuk terlebih dahulu.” 

Nordi bukan hanya pandai bicara, dia jelas seorang petarung sejati. Dia menerima peran paling berbahaya tanpa sedikitpun keraguan. 

Nordi pun masuk ke lubang besar yang menjadi pintu masuk dungeon. Dari sinilah semuanya benar-benar dimulai. 

“...”

Seharusnya Nordi akan keluar sekali lagi dari pintu masuk. Namun, meski kami menunggu cukup lama, dia tidak kunjung datang. 

“Kita akan masuk.” 

“Orang itu kuat, bukan hanya omong kosong. Namun, dia tidak kunjung keluar. Itu aneh.” 

“Kita harus mundur.” 

Semua anggota Tim Pahlawan tampak menentang. Pasukan penyerang di belakang pun terlihat ragu. 

Memang, tidak kembalinya Nordi adalah sesuatu yang di luar dugaan. Namun, justru karena itulah kami harus masuk untuk menyelamatkannya. 

“Ada dungeon yang bisa membuatmu keluar dari dalam. Jika itu dungeon tersebut, kemungkinan besar dia memang tidak bisa kembali. Kita juga harus masuk.” 

“...”

Para petualang dalam pasukan penyerang tampaknya setuju, mereka mengangguk pelan. 

Kami semua berlari menuju pintu masuk. 

“Apa ini...” 

Luas. Ini seperti dungeon super raksasa, dan di langit-langitnya bahkan terlihat hamparan bintang. Rasanya desainnya mirip dengan istana Raja Iblis...

“Semuanya, mulai dari sini kita ha...”

Aku terdiam di tengah kalimat. Karena tidak ada siapa pun di sana. 

Di belakangku, tidak ada pasukan penyerang. Tidak ada juga anggota timku. 

“Apa pintu masuknya bekerja dengan sistem teleportasi acak?” 

Saat aku memutar otak dan memikirkan kemungkinan tersebut, aku merasakan sesuatu dari depan. Tidak, ini seharusnya disebut niat membunuh. 

Aura tajam yang menusuk, membuat kulit terasa perih. 

Dikarenakan suasananya remang-remang, aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi siluetnya jelas seperti manusia. Dia menarik pedang dari pinggangnya. 

“Tidak akan kubiarkan!” 

Aku lebih dulu mengalirkan sihir ke Pedang Suci dan menebas ke arahnya. 

“Apa...!?” 

Hanya dengan gerakan sekecil itu dan pengaturan jarak yang sempurna... dia menghindarinya? 

Lalu serangan balasan datang, cepat dan presisi yang mengerikan. 

Entah bagaimana aku berhasil menahannya tepat waktu dengan Pedang Suci. 

Itu satu tebasan yang sangat berat, hingga membuat tanganku mati rasa...

“K-Kuat sekali...”

“Aku sudah mengajarkanmu untuk tidak menahannya, tapi mengalirkannya.” 

“Hah?” 

Disinari cahaya bulan, sosok yang berdiri di depanku akhirnya terlihat jelas. 

Sepertinya dungeon ini tidak hanya memiliki langit berbintang, tapi juga bulan... pikiran seperti pelarian dari kenyataan itu menguasai kepalaku. Itu karena dorongan kuat untuk memalingkan mata dari kenyataan di hadapanku...

“Sudah lama sekali, Nak.” 

“...Kamu ‘kan...” 

Belum sempat pemahamanku mengejar, serangan berikutnya datang menerjang. Aku tidak mampu sepenuhnya menghindar, aku kembali menahannya, tapi kali ini tubuhku terlempar dan berguling di tanah. 

Aku segera bangkit. Lawan ini berada di level di mana satu detik saja hilang dari pandangan, bisa berarti kematian. 

“Seperti biasa, caramu mengelola sihir masih terlalu ceroboh. Kamu terlalu bergantung pada bakat, itulah kebiasaan burukmu. Sudah kuajarkan, bukan? Bahwa teknik adalah sesuatu yang memanen bakat melalui waktu.” 

“T-Tidak mungkin...”

Aku mengenal pedang ini. Teknik yang mutlak, keindahan ayunan yang memancarkan pengalaman dan ketajaman, aku tahu betul semua itu. 

Ini adalah pedang yang selalu kujadikan panutan. 

Bentuk akhir dari pedang yang kuimpikan. Ajaran yang selama ini aku percayai. 

“Masih terlalu cepat bagimu untuk menantang Ordo Pahlawan. Pulanglah dan persiapkan diri kembali. Kukira kamu telah mewarisi kekuatan sang Pendiri, tapi rupanya kamu mengecewakanku.” 

“Kenapa... kenapa justru kamu...!!” 

Tidak ada kata lain yang keluar. 

Kepalaku dipenuhi pertanyaan, terlalu banyak hal yang ingin kutanyakan. 

Kenapa dia masih hidup. Kenapa dia tidak pernah menemuiku. Kenapa dia harus bertarung denganku... 

“Guru!!” 

“Aku juga tidak ingin membunuh murid lamaku. Maka dari itu, lebih baik aku yang menjadi lawanmu. Jika kamu menghadapi dua orang itu, kamu tidak akan selamat.” 

“A-Apa maksudmu, Guru!?” 

“Aku menyuruhmu untuk menyerah pada yang lain.” 

“...Hah?” 

“Yang lain” itu siapa?

Cara bicara Guru terdengar seperti musuh. Seolah beliau berada di pihak Emo Sugiru... Seolah-olah beliau adalah anggota Ordo Pahlawan. 

Kata-kata tersebut terdengar seperti itu...

“Apa ini?” 

Dungeon tiba-tiba berguncang dengan hebatnya. 

Gempa...?

Tidak, ini gelombang sihir yang dapat membuatmu mual. Sebuah arus kekuatan yang menggila. Sihir Konstruksi...!? 

“Pasukan penakluk yang kamu bawa kemungkinan besar sudah bertemu dengan Dewa Iblis Kara. Katanya, dia akan menghadapi mereka sendirian...” 

“Guru, bertarunglah bersama kami! Kenapa kamu yang justru melawanku!?” 

“Bukankah itu sudah jelas?” 

Aku sebenarnya bisa menebak ucapan dari Guru. Namun, aku tetap bertanya. 

Karena aku ingin percaya... bahwa ini semua hanyalah kesalahpahaman. 

“Aku adalah anggota Ordo Pahlawan. Tidak, kalau mau lebih tepat... lebih tepatnya aku disebut sebagai perlengkapan milik muridku yang sekarang, yaitu Larschalte.” 

“Guru... Bukankah kamu yang mengatakan bahwa petualang bukanlah alat!? Lalu kenapa...”

“Ini bukan soal ideologi. Ini murni kebenaran. Saat ini, aku memang sebuah alat.” 

“Maksudmu...?” 

“Aku hanyalah mayat. Hanya boneka yang bergerak karena berada di bawah kendali Larschalte.” 

Guru sudah mati? 

Itu berarti, ada seorang necromancer yang masuk ke dalam Ordo Pahlawan...?

“Kalau begitu, aku akan...!” 

“Tidak. Aku bertarung denganmu sepenuhnya atas kehendakku sendiri.” 

“Tidak mungkin...!”

Sambil menghindari tebasan pedang Guru yang mengerikan, aku mengamatinya dengan saksama. Rupanya benar, pakaiannya kotor, dan sebagian tubuhnya sudah mulai membusuk. 

Dia jelas lebih lemah dibandingkan masa kejayaannya. 

“Kenapa... kenapa harus Ordo Pahlawan!?”

“Karena itulah tempat Larschalte berada. Dan lagi, selain diriku, mayat-mayat lain tidak diberi kebebasan. Mereka tidak bisa melawan perintah.” 

“Mayat yang lain...?”

Aku waspada terhadap sekitar, tapi tidak merasakan adanya kehadiran apa pun. 

“...Mereka akan segera datang.” 

“Bantuan?” 

“Sepertinya Emo Sugiru ingin mengajukan pertanyaan padamu. Apakah kamu akan mengutamakan perasaan pribadi, atau menuntaskan misi sebagai seorang pahlawan.” 

Aku tidak mengerti sepenuhnya maksud ucapan dari Guru. 

Aku juga tidak punya waktu untuk memikirkan detailnya. Jika bala bantuan datang, situasinya jelas sangat berbahaya. 

Bahkan hanya dengan melawan Guru saja, tidak ada jaminan aku bisa menang. Aku tidak tahu seberapa kuat bantuan itu, tapi jelas bahwa keadaanku akan semakin tidak menguntungkan. 

“Anak muda, kali ini kamu kalah. Pergilah.” 

“Aku tidak bisa melakukan itu!” 

“...Pertarungan ini sudah berakhir. Itulah yang kukatakan.”

Bersamaan dengan kata-kata Guru, tiga bayangan muncul di belakangnya. Mereka mengenakan tudung, sehingga wajah mereka tidak terlihat, tapi tampaknya bala bantuan benar-benar tiba. 

“Jangan meremehkanku yang telah bertarung sebagai pahlawan. Meski lawanku adalah Guru, aku akan menang!” 

“Apa kamu sanggup menebas rekan-rekan yang telah bertarung bersamamu?” 

“Apa...?” 

Tiga sosok bala bantuan tersebut menurunkan tudung mereka.


* * *


“Oh? Ada apa, Ortlinde?” 

“Tuan Sugiru, ada sesuatu yang ingin kami pastikan.” 

“Hmm, silakan.” 

Sambil minum teh di kamar seperti biasa, aku menanggapi telepati dari Ortlinde. 

Berbeda dengan Jenderal Iblis yang menjadi Dungeon Master, seharusnya dia tidak bisa menggunakan kemampuan ini... entah kenapa kami bisa bertelepati, dan itu cukup mengejutkan. 

“Namun... bagaimana bisa kamu menggunakan telepati?”

“Jika hanya trik sesederhana itu, saya masih bisa menirunya. Namun, ada yang lebih penting, ada pertanyaan yang sangat krusial. Tolong untuk dijawab.” 

“Mm.” 

Jenderal Iblis yang berada di sampingku tampak terkejut. Wajar saja... tapi itu tetap saja aneh. 

“Tuan Sugiru sangat menyukai sang Pahlawan, bukan? Atau termasuk juga seluruh anggota Tim Pahlawan?” 

“Hm... aku kurang paham maksud dari pertanyaannya.” 

“Jika anggota tim selain Pahlawan mati, apakah Tuan Sugiru akan marah?” 

“Tidak juga. Setidaknya aku akan merasa sedih. Karena aku berterima kasih pada mereka.” 

“Hehehe... baik, saya mengerti. Jadi, selama sang Pahlawan tetap hidup, itu saja sudah cukup, begitu maksudnya? Tidak salah, ‘kan?” 

“Iya.” 

Aku memang menyukai Tim Pahlawan. Itu sudah jelas. 

Aku adalah penggemar sang Pahlawan. 

Anggota tim lainnya itu semacam bonus, aku juga suka mereka, tapi jelas tidak setingkat dengan sang Pahlawan. 

“Kalau begitu, kami akan mencobanya... dengan memanfaatkan rekan-rekan sang Pahlawan.” 

“...?”

“Bukankah begitu cara organisasi ini berjalan? Heheh~”

“Oh, begitu ya. Kurasa itu ide yang bagus.” 

Singkatnya, maksud dari kata-kata Ortlinde adalah, seperti layaknya Tim Pendukung Pahlawan, kami akan menyiapkan kejutan perayaan bersama anggota Tim Pahlawan, semacam itu. 

Demi membuat sang Pahlawan bahagia, anggota tim lainnya akan bergerak menjadi pihak kami. Kurang lebih seperti itulah maksudnya. 

“Pahlawan pasti akan menikmatinya. Itu juga merupakan hal yang paling membuatku senang.” 

“Apakah Itu kebahagiaan yang Tuan Sugiru inginkan?” 

Saat Pahlawan terharu hingga meneteskan air mata pada waktu itu, aku merasa sangat bersyukur masih bisa hidup. 

Rasanya seperti puncak dari aktivitas mengidolakan, sebuah kebahagiaan yang murni. 

“Ortlinde.” 

“Ya.” 

“Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang dicari.” 

“...?”

“Itu adalah sesuatu yang dilupakan. Orang yang benar-benar puas tidak akan menginginkan kebahagiaan, bahkan dia tidak menyadarinya. Maka dari itu, rahasia dari kebahagiaan ialah tenggelam dalam sesuatu hingga kau melupakan segalanya.” 

“...Sungguh kata-kata yang sangat indah.” 

Memikirkan apakah diri ini bahagia atau tidak, itu bukanlah bagian dari mengidolakan. 

Mengabdikan diri pada sesuatu hingga melupakan hidupmu sendiri, mengejar tanpa ragu, itulah bentuk sejati dari aktivitas penggemar. 

“Bagiku, kepuasan sejati itu ada pada cahaya sang Pahlawan.” 

“Kalau begitu, izinkan aku mempersembahkan kepuasan yang istimewa untuk Tuan Sugiru.” 

“Ya. Aku menantikannya.” 

Percakapan batin dengan Ortlinde pun berakhir. Sungguh ide yang bagus! 

Membuat kejutan bersama Tim Pahlawan, itu ide yang luar biasa. 

“Kesenangan ini baru saja dimulai!”

Dengan perasaan berdebar penuh antusias, aku bersiap-siap, lalu bertanya pada Dewa Iblis tentang keberadaan Pahlawan.


* * *


“Kalian semua tidak diperlukan, itu yang diucapkan oleh Tuan Sugiru.” 

“...!”

Selain sang Pahlawan, para anggota tim lainnya gemetar ketakutan di hadapanku. 

Kami bertemu secara kebetulan, dan sayangnya, ketiga orang ini benar-benar tidak beruntung. 

“Sebelumnya aku masih menahan diri. Namuuun~ jika Pahlawannya tidak ada, tidak ada alasan lagi untukku melakukannya.” 

“Tidak mungkin...”

Aku melepaskan seluruh kekuatan sihirku. 

Tidak perlu lagi menahan diri agar mereka tetap hidup. Aku sudah memiliki izin, selain Pahlawan, mereka boleh dibunuh. Takdir mereka berakhir di sini. 

“Hehehe~ jasad kalian akan kugunakan dengan sebaik-baiknya.” 

“...Apa mereka boleh dikendalikan?” 

“Ya, tentu saja. Mereka adalah musuh Ordo Pahlawan, tidak perlu ragu.” 

Di sampingku ada Larschalte. 

Dia menggunakan mayat Tim Pahlawan untuk mengusir sang Pahlawan. 

Anggap saja ini sebagai “Ujian Pertama” dari Ordo Pahlawan. Demi kepuasan yang diinginkan Tuan Sugiru, aku akan mempersembahkan keputusasaan terbaik untuk sang Pahlawan. 

“Sign...” 

Aku melepaskan Sihir Konstruksi, dan memusnahkan seluruh Tim Pahlawan.


* * *


Aku selalu mengira semua orang mencintai kemunafikan yang indah.

Jika harus menyebutkan kesalahan terbesar dalam hidupku, mungkin itulah jawabannya. 

Bahkan sang Raja Iblis pun, memiliki idealisme yang sama, kemunafikan yang indah itu. Karena itulah kami saling bertarung demi menegakkan idealisme masing-masing. 

Namun, dunia ini juga memiliki orang-orang yang tidak pernah mencintai kemunafikan. Mereka benar-benar ada, kejahatan yang murni. Mereka yang sejak lahir menikmati penderitaan orang lain sebagai hiburan... 

“Kenapa...”

Di hadapan mayat-mayat yang dulu adalah rekan seperjuanganku, aku menyadarinya. 

Tiga bala bantuan yang berdiri di belakang guruku, mereka adalah rekan-rekan berharga yang telah menemaniku berpetualang selama ini. Sebagai seseorang yang hidup di medan perang, aku tahu. Mereka semua sudah mati. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. 

“Ini bohong...”

Pasti ada yang salah. 

Dengan kepala dingin, aku sampai pada satu kesimpulan yang benar, tetapi perasaanku menolaknya dengan keras. 

Tidak, bahkan menerima kenyataan bahwa aku harus bertarung melawan guruku saja sudah mustahil bagiku... apalagi jika yang berdiri di hadapanku adalah rekan-rekan yang telah menghabiskan sebagian besar hidupku. 

“...Kenapa? Kenapa kalian berdiri di sana? Ayo, bertarunglah bersamaku.” 

“Mereka akan bertarung melawanmu.” 

Seolah membenarkan ucapan itu, ketiganya mengangkat senjata. 

Sebelumnya Guru bilang bahwa ada seorang necromancer yang bisa mengendalikan para mayat. 

Dan fakta bahwa mereka mematuhi perintah itu berarti mereka sudah mati. 

“Tolong hentikan.” 

Setiap kali aku melangkah mundur, ketiganya ikut melangkah maju. 

Setiap kali aku memperlihatkan celah, ketiganya bersiap untuk menyerang. 

“Kenapa... kenapa harus seperti ini!?” 

Untuk apa aku datang ke sini? Mengapa aku harus berada di tempat ini? 

Aku hanya memutuskan untuk bertarung demi rekan-rekanku dan orang yang kucintai, itulah sebabnya aku menantang Ordo Pahlawan. 

Lalu... apa maksudnya ini...?

“Bukankah kamu seorang pahlawan? Kamu telah mengorbankan sedikit orang demi menyelamatkan banyak orang. Tidak boleh ada perlakuan khusus hanya karena mereka keluarga atau teman dekat.” 

“...!”

Guru mengatakan hal itu agar aku membunuh semuanya, termasuk dirinya sendiri. 

Jika aku memang seorang pahlawan, maka itulah jawaban yang benar. 

Jika aku memang seorang pahlawan, seharusnya aku bisa melakukannya. 

“Tidak... aku tidak sanggup.” 

Aku hanya ingin melindungi waktu yang tidak tergantikan bersama kekasih dan rekan-rekanku. 

Hanya itu alasannya. 

Aku sudah memutuskan untuk bertarung demi alasan yang manusiawi. 

Aku telah meninggalkan peran sebagai senjata. Itu sama saja dengan membuang legitimasi, membuang alasan besar. 

Jika alasan terakhir itu hilang, lalu apa yang tersisa? 

Saat ini, aku tidak memiliki alasan untuk mengayunkan pedang. Tidak memiliki misi, tidak memiliki keyakinan, bahkan tidak memiliki idealisme. 

Pedangku... sudah tidak berarti apa pun lagi. 

“...Melihat dirimu yang sekarang, bahkan Sugiru pun akan kecewa.” 

“Aku... aku tidak pernah bertarung demi orang sepertinya! Aku bertarung demi bertemu dengan Guru... dan demi senyuman umat manusia!” 

“Kalau begitu, mengapa sekarang kamu justru membuang semuanya? Baik diriku, maupun rekanmu, bukankah seharusnya kami dibunuh? Apa aku salah?” 

“Itu... karena...”

Para iblis yang telah kubunuh. Musuh-musuh yang kutebas. 

Orang-orang yang gagal kulindungi. Mereka yang kutinggalkan.

Demi membalas semua pengorbanan itu, aku harus terus bertarung. Itulah satu-satunya jalan yang tersisa. 

“Aku tidak bisa.” 

“Kalau begitu, pergilah.” 

“...”

Meskipun pergi, meskipun kembali, apa yang masih tersisa? 

Yang tersisa dalam hadapanku sekarang hanyalah kewajiban dan rasa tanggung jawab. Demi menebus masa lalu, aku harus mengakhiri orang-orang yang paling kucintai... 

“Hentikan, tolong hentikan!” 

“...Vurm.” 

“Frimla! Kamu masih sadar!?” 

Gadis penyihir, Frimla. Kekasihku. 

Sambil melepaskan sihir, dia mendekat ke arahku. Aku menghindarinya, dan saat itulah dia berbicara. 

Apakah kami masih bisa saling memahami? 

“Vurm, kamu harus segera mengakhirinya... tolong.” 

“Apa yang kamu maksudkan...?” 

Aku menahan serangan para rekanku. Gerakan dan kemampuan mereka semua sudah kukenal, serangan tersebut tidak akan berdampak padaku. 

Namun, jika Guru ikut bertarung, situasinya akan berbeda. 

Anehnya, dia tidak ikut campur. Guru hanya berdiri dan menatap kami. 

“Guru! Apa benar kamu memilih Ordo Pahlawan!? Apa kamu akan mengkhianati umat manusia, orang-orang dari masa depan yang pernah kamu ajarkan!?” 

“Percuma. Bukan dengan bujukan, satu-satunya jalan keselamatan hanyalah pemusnahan total.” 

“Tidak mungkin...”

Untuk apa semua ini...? Untuk apa hidupku selama ini!? 

Jika aku tahu akan terjadi hal seperti ini, aku tidak akan pernah menerima menjadi seorang pahlawan. 

Bagiku... tidak ada yang tersisa sama sekali...

“Guhh!” 

Aku gagal menghindar sepenuhnya, sihir itu mengenaiku tepat sasaran. 

Biasanya aku tidak akan terkena serangan seperti ini. Namun, karena guncangan batin, reaksiku terlambat. 

Dua orang selain Frimla juga terus menyerangku tanpa henti...

“Hentikan...”

“Vurm, tolong...”

Frimla menangis. 

Aku kembali membuatnya menangis. 

Selalu saja begitu, aku selalu terlambat. Jika tahu akan menjadi seperti ini, seharusnya malam terakhir itu aku memeluknya. Seharusnya aku mengabulkan permintaannya. 

Penyesalan demi penyesalan berputar tanpa henti di kepalaku. 

“Apakah ini... akhir dari kami semua...? Inikah akhir dari perjuangan kami demi umat manusia!? Tidak masuk akal, bukan!?” 

“Jika kamu mengharapkan imbalan, seharusnya sejak awal kamu bertarung hanya demi dirimu sendiri, aku pernah bilang, bukan? Meski begitu, kamu tetap memilih jalan sebagai pahlawan.” 

Seorang pahlawan tidak boleh menuntut balasan. 

Seorang pahlawan tidak boleh mendapat ganjaran selagi hidup. 

Karena mereka hanyalah pembunuh yang dibenarkan oleh zaman. Kejahatan dengan alasan mulia. 

Itulah tiga ajaran Guru. 

“Kamu memang sejak dulu menyukai hal-hal indah nan idealis...”

“Dulu... aku menyukainya.” 

Aku percaya bahwa setiap orang mencintai hal-hal yang indah, dan karena itulah konflik sering terjadi. 

Kupikir, karena keinginan dasarnya sama, semua orang suatu hari dapat tersenyum bersama. Setiap manusia dapat saling terhubung, dan pada akhirnya bisa saling memahami...

“Uu... ugh...” 

Tanganku gemetar. 

Aku akan mengakhiri orang-orang yang paling kucintai.

Dengan tanganku ini. Dengan Pedang Suci ini. Aku akan menebas musuh umat manusia.

Sama seperti biasanya. 

“UAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!”


Sambil berteriak, aku mengayunkan Pedang Suci. 

Agar mereka tidak menderita, aku menebas dengan satu tebasan yang memutus segalanya. 

Pendeta Garteld, dan pemanggil roh Aurora, keduanya berubah menjadi debu...

“Terima kasih.” 

Dengan wajah yang tampak lega, mereka mengucapkannya. 

Pedang Suci memiliki kemampuan untuk memusnahkan orang yang sudah mati. Berkat hal itu, bahkan tulang pun tidak tersisa. 

Mungkin mereka berpikir, ketimbang menjadi musuh umat manusia, lebih baik diakhiri saja. Jika harus berakhir, setidaknya dilakukan oleh tangannya sendiri. 

“Jangan ayunkan pedangmu dengan rasa kebencian. Aku mencintaimu, Vurm.” 

“Aku juga mencintaimu...”

Aku pun menebas Frimla, kekasihku. 

Dengan senyum yang seolah dipaksakan, Frimla mengatakan itu padaku. Kata-kataku tidak pernah sampai hingga akhir. Dia menghilang sebelum sempat mendengarnya.

Aku jatuh dan berlutut. Air mataku tidak bisa keluar. 

Rasa kehilangan ini, terasa sangat tidak nyata untuk diterima. 

“Ah... dia sudah menghilang.” 

“...?”

Entah sejak kapan, seorang gadis telah berada di sana. 

Dia berdiri di belakang Guru. 

Aku merasakan kekuatan sihir yang luar biasa besar. Perasaan menjijikkan seolah jiwaku sedang digenggam, tapi berlawanan dengan itu, suaranya terdengar indah dan jernih. 

“Kamu... kakak yang menjadi pahlawan?” 

“Hah?” 

Gadis itu memanggilku “kakak”. Hanya dari satu kata tersebut, aku langsung mengerti makhluk seperti apa dirinya. 

“Aku Larschalte Arlgan. Padahal kita sesama murid Guru, tapi kamu lemah ya.” 

“Dan kamu...?” 

“Mm. Aku yang mengendalikan mayat itu.” 

“Kenapa... kamu melakukan hal seperti ini?” 

“Karena aku ingin bahagia.” 

“Hah?” 

Apa aku salah dengar? 

Gadis ini, Larschalte Arlgan, mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak bisa kupahami. 

“Kebahagiaan seseorang selalu berdiri di atas ketidakbahagiaan orang lain. Begitulah dunia menjaga keseimbangannya. Aku hidup dengan menerima ketidakbahagiaanku sendiri.” 

“...?”

Larschalte Arlgan mulai bercerita. 

Sambil memancarkan aura jahat yang mengerikan, dia berbicara dengan nada datar. 

“Tapi itu karena aku yang menyimpang. Aku terus meyakinkan diri bahwa akulah yang salah, bahwa aku terlahir di dunia yang salah. Meski sendirian di dalam hutan, aku berniat mati sendirian.” 

“...Hutan Tanpa Jalan Pulang ini?” 

Aku paham bagaimana Guru dapat dimanipulasi. 

Cara berpikir gadis ini sulit untuk diterima. Namun, jika dia bisa berpikir seperti itu, dia pasti memiliki latar belakang yang benar-benar tidak biasa. Hidupnya pasti sangat menyakitkan. 

“Tapi itu salah. Ada tempat bernama Ordo Pahlawan.” 

“...!”

Di saat itu, aku pun menyadarinya. Gadis ini, tidak diragukan lagi, dia adalah musuh. 

Larschalte Arlgan tersenyum. 

Senyuman jahat yang membuat tulang punggungku membeku. 

“Kalau begitu, bukannya tidak ada alasan bagiku untuk menerima ketidakbahagiaan sendirian? Aku juga memiliki hak untuk mengejar kebahagiaan. Oleh karena itu, aku akan mewarnai dunia ini dengan keputusasaan. Jika semua orang menjadi tidak bahagia, pasti aku akan bahagia.” 

Aku kehabisan kata-kata. Ini terlalu kejam. Terlalu mengerikan. 

Fakta bahwa gadis ini dibiarkan hingga rusak seperti ini, dan kini dimanfaatkan, semuanya tidak bisa kumaafkan. 

“Tidak... kamu salah!” 

“Namun, dia pasti akan senang, bukan?” 

Sebelum aku sempat menanyakan siapa, aku mendengar suara. 

Suara langkah kaki yang semakin mendekat. 

Ketika suara itu berhenti, orang itu mulai bertepuk tangan, tersenyum ceria seolah dari lubuk hatinya dia benar-benar terhibur. 

“K-Kamu...”


* * *


“Luar biasa...! Pemandangan yang sangat menakjubkan sampai-sampai membuatku terharu.” 

Saat aku berjalan di dalam dungeon, aku menemukan sang Pahlawan. Dia sedang berlutut, tampaknya dia sedang berbicara dengan Larschalte. Mungkin dia mengira gadis itu tersesat. 

Menyamakan tinggi pandangan agar tidak menakutinya, kelembutannya benar-benar khas seperti seorang pahlawan. 

“Oh iya. Apa kamu menikmati kejutan yang kami siapkan?” 

“...Ah.” 

Mungkin dia juga terharu, sampai tidak bisa berkata apa-apa. 

Aku tidak melihat anggota tim lainnya. Apa mereka sudah bubar? 

Mungkin sebaiknya aku bertanya. 

“Oh? Ke mana teman-temanmu? Aku harus mengucapkan terima kasih pada mereka. Bagaimanapun juga, mereka telah membuat acara ini menjadi sangat meriah.” 

“K-Kamu...! Kenapa... kenapa kamu bisa seperti itu!!” 

Sang Pahlawan berteriak dengan suara keras, tubuhnya gemetar hebat. 

Astaga. Aku ‘kan sudah pernah bilang sebelumnya? Sepertinya dia memang ingin mendengarnya lagi dan lagi. 

Sisinya yang suka meminta kepastian seperti itu jujur saja, menurutku cukup menawan. 

“Karena aku penggemarmu.” 

“UAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” 

Sang Pahlawan berteriak sambil berlari ke arahku. Apa dia begitu terharu sampai ingin memelukku? 

Aku memang senang, tapi... jujur agak memalukan. Kita ‘kan sudah dewasa. 

“Berhenti.”

Begitu Larschalte mengucapkannya, sang pahlawan langsung tidak dapat bergerak. 

Sepertinya dia paham dengan situasi. Sungguh anak yang baik. 

Mungkin berkat ditegur oleh gadis kecil, Pahlawan jadi tenang. Dia tidak bergerak sedikitpun. 

“Brengsek! BRENGSEEEEEEEEK!!” 

“Eh…?”

Sang Pahlawan berteriak sambil menangis. Sebegitu inginnya dia memelukku? 

Semangatnya luar biasa juga ya. 

“Aku juga ingin berbagi kebahagiaan ini denganmu, tapi tahan dulu. Kamu selalu membuatku tersenyum. Karena itu, untuk hadiah kali ini, tidak memerlukan fan service.” 

“JANGAN MAIN-MAIN!! KAMU... KAMU PIKIR, HANYA KAMU SAJA YANG...!!” 

Hmm... dia mabuk ya? 

Hari ini dia terus-menerus berteriak. Mungkin dia habis minum-minum setelah pesta perayaan selesai. 

Meskipun mabuk, dia tetap tidak mengabaikan gadis yang tersesat. Menurutku, itu benar-benar orang luar biasa. 

“Sayang sekali, waktunya sudah habis.” 

“...!”

Aku mengatakannya sambil melihat lubang besar yang muncul di belakang sang Pahlawan. Aku sudah meminta tolong pada Jenderal Iblis Bertopeng agar dia bisa kembali ke luar. 

Bagaimanapun juga, Pahlawan pasti sudah kelelahan. Jadi, wajar saja jika aku menyiapkan jalan pulang untuknya, bukan? 

“KAMU MENGANGGAP MANUSIA, NYAWA, DAN PERASAAN ITU SEBAGAI APA!?”

“Jika dipaksakan untuk menjawab... ya, mungkin semacam perangkat panggung?” 

“Hah...?” 

Pahlawan akan bersinar semakin terang jika ada orang-orang yang harus dia selamatkan. Itu karena adanya perasaan memikul seluruh umat manusia. 

Dalam artian, mereka memang seperti perangkat panggung. 

Tokoh utamanya adalah kamu. Apakah pesannya tersampaikan? Ini sedikit memalukan, aku jadi malu sendiri. 

“Jika bukan di momen seperti ini, aku tidak mungkin bisa mengatakannya.” 

Jika ini ini masih berada di tengah peperangan melawan Raja Iblis, kata-kata ini pasti terdengar tidak pantas. Namun, sekarang dunia sudah damai. 

Kedamaian tersebut dia raih dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Justru karena itulah, aku bisa mengatakan ini, sebagai ungkapan terima kasih. 

“Bisa tertawa dan mengobrol seperti ini, itu semua berkatmu.” 

“...!”

Sang pahlawan perlahan tersedot ke dalam lubang besar itu... 

Sepertinya dia masih ingin mengatakan sesuatu, tapi kali ini cukup sampai di sini. 

“EMO SUGIRUUUUUUUUUUUUUUU!!” 

Saat dia memanggil namaku, sang Pahlawan mengulurkan tangannya ke arahku. 

Sampai detik terakhir pun, dia tidak melupakan fan service, sungguh profesional. 

Tapi tetap saja, mengulurkan tangan seperti ingin melambaikan tangan, apa jangan-jangan dia mulai memiliki ketertarikan sebagai idol? 

“Senangnya...”

Sang pahlawan sepenuhnya tersedot dan menghilang. 

Sedikit terasa sepi, tapi ya mau bagaimana lagi. 

Mungkin aku seharusnya ikut melambaikan tangan juga... yah, setidaknya aku sudah bertepuk tangan, seharusnya tidak masalah. 

“Bagaimana kesanmu setelah bertemu dengan Pahlawan?” 

“...Orang yang menyedihkan.” 

“Ya. Justru karena itu, kitalah yang harus membuatnya bersinar.” 

“Aku akan kembali ke kamar bersama Guru.” 

“Baiklah. Jika sudah bergabung dengan Dewa Iblis dan yang lainnya, aku akan menyusul.” 

Aku senang Larschalte dan Guru bisa bertemu langsung dengan sang Pahlawan. 

Aku memang senang mereka mau menemani aktivitas penggemarku, Namun, rasanya cukup menyenangkan juga jika ada acara untuk mendukung idola orang lain. 

Kalau tidak salah, Dewa Iblis Kara itu merupakan penggemar Pahlawan Pertama. Mungkin selanjutnya kita dapat membuat acara yang berhubungan dengannya, itu ide yang bagus...!


* * *


“...Ah.” 

Terdengar suara hujan rintik-rintik. 

Aku tergeletak di genangan air. 

Aku sudah tidak di dalam dungeon lagi. Sepertinya aku telah dikeluarkan. 

“Ah... uaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” 

Aku berteriak. 

Aku menghantam tanah, menghantam genangan air itu tanpa henti. 

Kupukul sekuat tenaga, sampai rasanya tanganku sendiri akan hancur. 

“Apa yang aku... apa yang aku AAAAAAAAAAAAAAA!!” 

Aku kehilangan rekan-rekanku. 

Aku kehilangan ajaran yang kupercaya, guru yang kuhormati. 

Aku kehilangan kekasih yang kucintai. 

“Bukan begitu...” 

Aku tidak kehilangan mereka. Mereka direnggut dari diriku. 

Oleh kejahatan maha besar bernama Emo Sugiru, segala sesuatu dalam hidupku ditulis ulang olehnya. 

Kisah kepahlawanan demi umat manusia hanyalah permainan untuk kesenangannya. Semuanya telah diatur sejak awal, demi momen ini. 

Dia memberiku seorang guru. Dia memberiku rekan. Dia memberiku kekasih. Dia memberiku sebuah misi. 

Dan kemudian, pada hari ini, dia menulis ulang segalanya. 

“Di dunia ini, di mana sebenarnya letak idealisme...!?”

Aku membenci kata-kataku sendiri saat aku masih kecil. 

Aku tidak bisa berhenti mengutuk diriku yang pernah bercita-cita menjadi pahlawan. 

Kenapa... kenapa hanya aku yang tidak dibunuh...? Kenapa hanya aku yang harus menanggung semua ini...?

“Frimla...”

Nama kekasihku terucap begitu saja dari bibirku. 

Di saat-saat terakhirnya, dia menyuruhku untuk tidak mengayunkan pedang dengan rasa kebencian. 

Aku sudah tidak bisa menggunakan pedang. Aku juga tidak memiliki alasan maupun semangat untuk bertarung. Dalam arti tertentu, kata-kata itu sekarang sudah terwujud. 

“Aku lelah... aku sudah tidak ingin memikirkan apa pun lagi...”

Aku berdiri, lalu berjalan. 

Tanpa ada arah, aku hanya berjalan di tengah hujan. 

Aku terhuyung-huyung, dengan langkah yang tidak beraturan. 

Sudah berapa lama aku berjalan? Sudah berapa jam aku menangis? 

Pemandangan di sekelilingku sudah banyak berubah.

Dikarenakan aku benar-benar berjalan tanpa berpikir, aku tidak tahu lagi di mana aku berada sekarang. 

“...Apa ini?” 

Sebuah desa, mungkin. Tempat yang tampak tua dan usang. 

Terdengar suara orang-orang desa. Tidak, ini jeritan? 

“Hei, hei, bukannya itu sang pahlawan? ...Kelihatannya kamu sendirian sekarang, ya?” 

“Basarade?” 

Empat Raja Surgawi Raja Iblis. Basarade. Iblis bertubuh besar, dengan ekor seperti ular, sayap seperti serangga, dan wajah seperti banteng. 

Dialah musuh pertama yang kami temui dan lawan. Pada saat itu, kami belum cukup kuat untuk membunuhnya, dan dia berhasil melarikan diri. 

“...Jika hanya kamu seorang, aku bisa menang.” 

“Pasukan Raja Iblis sudah tidak ada. Kamu hanyalah sisa-sisa. Apa kamu masih ingin bertarung?” 

“...Apa kamu benar-benar pahlawan? Aku berencana membunuh seluruh manusia di desa ini, tahu?” 

“Begitu ya. Kondisiku sedang buruk. Jika aku bertarung denganmu sekarang, aku tidak punya peluang untuk menang.” 

“Ucapanmu sama sekali tidak pantas sebagainya seorang pahlawan. Kamu benar-benar seperti orang yang berbeda dibanding dulu.” 

Aku ini pengecut.

Aku sudah bukan pahlawan lagi.

Aku tidak punya keberanian untuk bertarung demi siapa pun. 

“Aku mohon, jangan libatkan aku lagi.” 

“...Lemah sekali kamu sekarang, ya? Ah, begitu rupanya.” 

Basarade menyeringai, lalu berkata... 

“Teman-temanmu sudah mati, ya?” 

“...!”

“Ya pantas saja kamu jadi selemah ini... Bahkan di antara para pahlawan sepanjang sejarah, kamu hanya mampu melepaskan ‘Belenggu Kedua’, bukan? Gaya bertarungmu yang mengandalkan kerjasama dengan rekan-rekan itu juga sudah tidak bisa dipakai lagi jika mereka semua mati, kan?” 

“...Diam.” 

“Sungguh hasrat membunuh yang hebat. Tapi aneh juga, bahkan Raja Iblis pun tidak bisa kamu bunuh. Jadi, siapa yang melakukannya?” 

“Itu bukan urusanmu.” 

Pedang Suci yang diwarisi oleh para pahlawan, memiliki Empat Belenggu. 

Di antara para pahlawan lain sepanjang sejarah, konon hanya 5 orang yang mampu melepaskan hingga Belenggu Ketiga. Aku sendiri hanya bisa melepaskan sampai Belenggu Kedua. 

Bahkan Pahlawan Pertama pun, menurut catatan, tidak pernah berhasil melepaskan Belenggu Keempat. 

Jika Belenggu Pertama dilepas, kemampuan fisik meningkat tiga kali lipat, jika Belenggu Kedua dilepas, daya hidup meningkat tiga kali lipat, jika Belenggu Ketiga dilepas, kekuatan sihir meningkat tiga kali lipat. 

“Oh ya, aku hampir lupa. Aku tidak berniat membiarkanmu hidup! Kamu sudah selemah ini, sepertinya sangat mudah untuk membunuhmu!”

“Begitu ya.” 

“Ayolah...” 

Basarade memasang wajah tercengang. 

Mungkin dia menyadari bahwa aku memang ingin mati. Bukan kegembiraan, melainkan kekecewaan yang lebih dominan, itulah yang tergambar jelas di wajahnya. 

“Kalau begitu, matilah, pelindung umat manusia.” 

“Jangan ganggu Pahlawan!” 

“...!”

Seorang gadis kecil melompat ke depan Basarade. Mungkin penduduk desa? 

Dengan kedua tangan terbuka, tubuhnya gemetar, dia berdiri seolah melindungiku. 

“Dasar anak kecil yang mengganggu.” 

“Hentikan...!” 

Basarade hendak memukul anak itu sampai mati. 

Namun, sebelum itu terjadi, aku melompat masuk dengan segenap tenagaku dan menahan tinjunya dengan Pedang Suci. 

“Apa maksudnya ini, Pahlawan?” 

“Entahlah...” 

Sungguh... apa sebenarnya yang sedang kulakukan? 

Penduduk desa yang seharusnya sudah kutinggalkan, bahkan kini dilindungi oleh seorang gadis kecil seperti ini. Tubuhku bergerak tanpa sadar. 

Apa aku secara refleks mencoba melindungi sosok di depanku? Tidak, bukan itu. Aku juga tidak bergerak karena rasa misi atau kewajiban. 

Aku hanya teringat. 

Seperti gadis ini, saat aku masih kecil pun aku hanya ingin menyelamatkan seseorang. 

“Pahlawan...?” 

“Tidak apa-apa. Aku akan menyelamatkanmu. Terima kasih telah membagikan keberanianmu.” 

Seiring aku menjadi dewasa, hal-hal yang kupikirkan semakin banyak. 

Aku mulai memilih siapa yang akan kuselamatkan, dan dituntut memiliki alasan untuk menyelamatkan mereka. Aku diberi peran sebagai senjata, dan hanya mulai memandang beban yang harus kupikul. 

Namun, aku bertarung bukan karena kewajiban atau perintah. 

Setidaknya, selama masih dalam jangkauan tanganku, aku ingin menyelamatkan mereka. Itu seharusnya adalah harapan yang murni. 

Aku bersumpah hanya ingin mencintai manusia dan melindungi senyum mereka. 

“Basarade.” 

“...?”

“Aku telah kehilangan segalanya. Peranku sebagai senjata, guru yang kupercaya, teman-teman, kekasih, semuanya. Hanya satu hal yang tersisa di tanganku. Justru karena itu, aku tidak ingin kehilangan perasaan ini... keinginan untuk melindungi!” 

Tidak peduli seberapa besar kamu tumbuh dan menjadi dewasa, ada hal yang tidak boleh aku lupakan. 

Tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang menyertainya, itu bukan sesuatu yang seharusnya dilupakan...

Kekuatan hanyalah bonus belaka. 

“Menang atau tidak, itu tidak penting...! Di sini aku akan mengalahkanmu dan menyelamatkan anak ini!” 

“Mustahil, dengan dirimu yang sekarang...” 

Ucapan Basarade terputus. Tidak, terhenti. 

Terdengar bunyi klik, seakan-akan ada sesuatu yang terlepas. 

Hujan yang turun membeku, hingga tetes terakhirnya pun berhenti. Apakah waktu berhenti? 

“Apa ini...?”

Pedang Suci itu bersinar, memancarkan cahaya api keemasan yang meluap keluar...

Apa aku berhasil melepaskan Belenggu Ketiga? Namun, api seperti ini tidak pernah ada dalam legenda. Apa yang sebenarnya terjadi? 

“Manusia?” 

Api yang keluar dari Pedang Suci itu berubah menjadi sosok manusia... 

Seorang wanita? 

“Hm... Oh? Jadi pahlawan generasi ini juga berhasil sampai pada ‘tahap ketiga’. Hebat juga.” 

“...Siapa kamu?” 

Dia... gadis yang cantiknya tiada tara. 

Pesona magisnya begitu kuat hingga seakan-akan menarik pandangan siapa pun. 

Rambut panjang biru muda hingga pinggang, mata berwarna emas. Tubuh dengan lekuk sempurna bak karya seni. Seorang gadis cantik telanjang menatap ke arahku. 

“...Tch.” 

“Hah?” 

Gadis tercantik di dunia itu mendecakkan lidahnya ke arahku. 

“Laki-laki lagi? Aku sudah bilang, selanjutnya aku mau gadis yang cantik!” 

“Eh?” 

Aku benar-benar tidak mengerti... 

Kupikir, waktu sedang berhenti, tapi tiba-tiba seorang gadis cantik keluar dari Pedang Suci lalu mendecakkan lidah padaku? 

“Aku Pahlawan Pertama.” 

“Hah?” 

“Ada banyak hal yang terjadi, jadi hanya jiwaku saja yang disegel ke dalam Pedang Suci.” 

“Jadi... kamu Pahlawan Pertama...?” 

Pahlawan Pertama yang selalu kukagumi, sosok legendaris itu, ternyata seorang gadis cantik yang ada di hadapanku?

Pahlawan Pertama, atau mungkin seharusnya kusebut begitu, tampak kesal sambil mengentakkan kaki. 

“Hei.” 

“Y-Ya.” 

“Kamu, ganti.” 

“Hah?” 

“Aku menyukai perempuan. Laki-laki itu bukan tipeku.” 

“Haa?” 

Aku sangat tidak paham apa yang baru saja dikatakannya.

...Tunggu sebentar? 

Kalau tidak salah, dalam catatan sejarah tertulis bahwa Pahlawan Pertama seumur hidup melajang dan tidak tertarik pada lawan jenis... Dan disebutkan hanya dekat dengan sesama jenis, apa maksudnya memang seperti ini? 

“Jangan-jangan...?” 

“Ah sudahlah... aku pinjam tubuhmu sebentar, oke?” 

“Hah?” 

“Tenang saja, aku tidak berniat memakai tubuhmu untuk bersetubuh dengan gadis cantik. Setidaknya, tidak untuk sekarang.” 

“Hah? Eh? Apa?” 

Tidak ada yang memikirkan hal semacam itu, atau lebih tepatnya, memangnya tadi kita sedang membicarakan itu? 

Meminjam tubuh? 

Informasinya terlalu banyak sampai otakku tidak dapat mencernanya... 

“Sekalian saja, aku mengajarimu sedikit. Lawannya terlalu lemah, mungkin cukup satu serangan, jadi perhatikan baik-baik ya. Oke?” 

“Eh, ah, iya.” 

Tanpa menunggu jawabanku, kesadaranku bergeser. 

Saat aku sadar, aku sudah telanjang, dan di depanku berdiri satu orang lagi, diriku sendiri. 

Apakah hak kepemilikan tubuhku telah dirampas? 

“Tingkat penguasaan manipulasi sihir, cara mengalirkan daya tempur, cara memperlakukan tubuh. Jika semuanya diasah hingga sempurna, kamu bisa melampaui batas manusia. Bagi pemilik Pedang Suci, tidak ada batas untuk pertumbuhan.” 

Setelah mengatakan itu, Pahlawan Pertama menjentikkan jarinya. 

Hujan kembali turun. Basarade, dan gadis kecil penduduk desa yang ketakutan itu, kembali bergerak. 

Jadi, Pahlawan Pertama yang menghentikan waktu...?

“Dirimu yang sekarang bukanlah ancaman, tidak, tunggu... apa ini? Siapa kamu?” 

Basarade yang tadinya berbicara dengan santai kini bertanya-tanya dengan wajah kaku. Meski tubuhnya secara fisik masih tubuhku, dia pasti ketakutan oleh tekanan luar biasa yang terpancar. 

Bahkan, aku sendiri yang bukan musuhnya pun sampai gemetar. 

Ada aura seperti veteran medan perang yang telah melewati banyak pertempuran. Jadi memang benar... dia adalah Pahlawan Pertama? 

“Jika kamu mau tahu namaku, maka lahirlah menjadi gadis yang cantik. Silakan kamu berharap di kehidupan berikutnya. Namun, meskipun kamu hanya iblis kelas bawah, kamu ini lemah banget ya?” 

“...Hah?” 

Raut ketakutannya menghilang dari wajah Basarade. Wajahnya kini dipenuhi oleh amarah. 

“Kamu tahu ‘kan aku ini salah satu dari Empat Raja Surgawi? Kamu berniat memancingku?” 

“Hah? Kamu... Empat Raja Surgawi?” 

“...Kamu sudah pikun?” 

“Uhee... Iblis di zaman ini benar-benar payah semua. Yah, mau bagaimana lagi.” 

“...”

Basarade tidak sanggup menahan diri dan mulai mengumpulkan energi di tangannya. 

Itu adalah gumpalan kekuatan sihir dengan daya bunuh yang mengerikan. 

Basarade juga ahli dalam pertarungan jarak jauh. Saat dulu kami melawannya, serangan itulah yang paling merepotkan. 

“Mati saja kamu. Pahlawan yang belum matang sepertimu berani-beraninya meremehkanku.” 

“Itu karena kamu memang sangat lemah.” 

Pahlawan Pertama berkata demikian, lalu menepis gelombang serangan Basarade hanya dengan satu tangan. Gelombang itu lenyap seketika. 

Hanya dengan punggung tangan... 

Dia menepisnya hingga hilang? 

“Iblis-iblis yang kuat itu, hampir semuanya sudah aku musnahkan. Wajar saja keturunannya sangat lemah.” 

“Apa...!?” 

Basarade mundur selangkah dengan wajah panik. 

Nalurinya menyadari bahwa sosok di depannya bukanlah Pahlawan yang dia kenal. 

“Hei dik, untuk mengendalikan sihir dan aura tempur itu, setidaknya harus ada di level ini.” 

“...Kamu bicara dengan siapa? Siapa kamu sebenarnya?” 

Kejadiannya hanya sekejap, tapi aku sempat melihatnya. Pahlawan Pertama mengumpulkan sihir dan aura tempur di punggung tangan lalu menepisnya. 

Konsentrasi ekstrem yang bahkan kurang dari satu detik. Sedikit saja timing-nya meleset, teknik tersebut takkan berhasil. 

Dalam beberapa detik berikutnya, energi itu sudah mengalir ke seluruh tubuh. Sungguh tingkat penguasaan yang benar-benar di luar nalar... 

“Masih belum paham juga?” 

“...?”

Pahlawan Pertama mengayunkan Pedang Suci sekali. 

Hanya dengan itu, Basarade lenyap tanpa menyadarinya, dan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. 

Bahkan gunung besar yang di belakangnya pun ikut hancur tanpa berbekas. Satu tebasan yang dapat mengubah medan. Apakah kekuatan seperti ini pantas dimiliki manusia? Perbedaannya terlalu jauh. 

“Aku ini Pahlawan.” 

Itu bukan serangan spesial. Kemungkinan besar itu hanyalah serangan biasa. 

Dia menggunakan tubuhku, seharusnya begitu, tapi itu terlalu kuat... 

Aku bahkan tidak bisa membayangkan monster seperti apa dirinya semasa hidup. Tidak diragukan lagi, dialah yang dulu menyegel Dewa Iblis Kara seorang diri. 

“Hei, dik.” 

“Ya...?”

“Kamu menyukai kata-kata indah, ya?” 

“Tidak.” 

Tubuhku beregenerasi dengan kecepatan yang mengerikan... 

Jadi, energi hidup bisa digunakan sejauh ini? Luka dan kerusakan dari pertarungan melawan Ordo Pahlawan pun tampaknya telah dihapus. 

“Jika kamu membencinya, itu berarti kamu pernah mempercayainya dengan sepenuh hati. Orang yang mudah melontarkan kata-kata indah justru tidak sepenuhnya percaya. Mereka hanya melihat orang lain sebagai alat. Justru karena kamu tulus, kamu dapat membencinya.” 

Pahlawan Pertama mengelus kepala gadis desa yang ketakutan dengan lembut. Penduduk lain pun keluar dari persembunyian dan mengucapkan terima kasih. 

Meski takut, mereka menatapnya dengan senyum, sebagai harapan umat manusia. 

“Aku gagal melindungi orang-orang yang berharga dalam hidupku...”

“Kalau begitu, lindungi mereka mulai dari sekarang.” 

“Aku takut... takut semuanya akan direnggut kembali.” 

“Orang yang tidak mengenal rasa takut itu cuma orang bodoh. Meskipun takut, kamu tetap maju. Itu sebabnya kamu adalah seorang pahlawan.” 

Kenapa orang ini bisa sekuat ini? 

Sosok yang tidak tergoyahkan, seperti panji. Dialah Pahlawan legendaris. 

Memang ada sisi yang mengecewakan, tapi tetap saja, dialah pahlawan sejati. 

“Potensi terpendammu tidak kalah dariku semasa hidup. Kamu hanya kurang pengalaman dan mental yang kuat. Itu saja, kamu hanya perlu mengumpulkannya mulai sekarang.” 

“Pendiri...!” 

“Yah, tapi sayang sekali kamu bukan gadis cantik. Padahal aku menginginkannya.” 

“...Pendiri?” 

Tidak hanya sedikit, ini cukup mengecewakan. 

Aku ingin sedikit mengembalikan rasa kagumku, tetapi keputusasaan dalam diriku telah lenyap. 

“Pendiri, sudah waktunya untuk mengembalikan tubuhku...”

Sebelum aku selesai bicara, Pahlawan Pertama menyeringai. Dia langsung memeluk gadis desa itu. 

Sambil menggosokkan pipinya, dia berkata dengan ekspresi mesum. 

“Jujur saja, gadis kecil itu memang terbaik! Nanti jika ka,u sudah besar, kita akan menikah, oke?” 

“Pendiri...? Itu ‘kan tubuhku?” 

“Tenang saja, penduduk desa ini tidak akan bisa mendengar percakapan kita!”  

“Eh?” 

Bukankah itu membuatku terdengar seperti pedofil...? 

“Ternyata pahlawan menyukai anak kecil...” 

“Tapi dia memang menyelamatkan desa, ‘kan?” 

“Lolicon.” 

Aku bisa mendengar penduduk desa berbisik-bisik di antara mereka. 

Aku berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan tubuhku kembali... 

Sejak hari itu, aku dikenal di seluruh negeri sebagai Pahlawan Lolicon.


* * *


“Jangan meremehkan nyawa seseorang, itulah yang diucapkan oleh Pahlawan Pertama, tahu? Jika kalian menantangku, kalian akan mati dalam hitungan detik.” 

Dewa Iblis Kara berkata demikian. 

Itu adalah cara halus untuk menyuruh kami pergi, sebuah pernyataan bahwa kami tidak tak memiliki peluang untuk menang. 

“Dengan jumlah petualang veteran sebanyak ini, kamu berniat menghadapi kami sendirian?” 

“Tentu saja.” 

“Hmph, itu hanya lelucon, bukan?” 

Aku menggunakan nama Nordi dan beraktivitas sebagai petualang. Saat ini, aku datang hingga ke negara tetangga untuk melakukan pengintaian, memastikan apakah Dewa Iblis benar-benar telah bangkit. 

Dungeon ini pun bukan untuk ditaklukkan olehku. Dalam artian, melarikan diri adalah pilihan yang paling masuk akal. 

Di sampingku berdiri belasan orang kuat. Kami berhasil bergabung dengan mereka sesuai rencana. Namun setelah itu, kami berhadapan dengan sosok yang mengaku sebagai Dewa Iblis. 

Saat ini, kami saling menatap dalam situasi tegang dan buntu. 

“Jika kami memilih untuk kabur, apa kamu akan membiarkan kami pergi?” 

“Terserah.” 

“Rasanya, mustahil jika kamu adalah Dewa Iblis yang sesungguhnya... Bahkan setelah dianalisis, statusmu hanyalah seperti seorang prajurit yang cukup kuat.” 

“Hmph, bahkan kamu tidak bisa menilai dengan baik. Baiklah. Sebutkan namamu.” 

“Petualang dari negara tetangga, Nordi.” 

“Baiklah, Nordi. Aku akan melenyapkan semua orang selain dirimu dalam satu serangan.” 

“Hah?” 

“Baiklah, mari kita mulai. Kita mulai pembantaian sepihak sekaligus perkenalan diri.” 

“...!”

Aku tidak bisa menahan rasa mual. 

Apa ini? Kekuatan sihirnya yang berada di luar nalar...

Yang paling mengerikan bukanlah jumlah kekuatan sihir yang diarahkan kepada kami, tetapi fakta bahwa Dewa Iblis sama sekali tidak melepaskan kekuatan sihirnya. 

Dalam beberapa detik sebelumnya, mungkin hanya aku yang menyadarinya. Kekuatan sihir itu sudah dilepaskan, tidak, dia mengalir secara alami tanpa kendali, tetapi kami sama sekali tidak mampu merasakannya. 

Dia sengaja menurunkannya hingga ke tingkat yang bisa kami sadari. 

Hal itu sudah menjelaskan bahwa kekuatannya berada di dimensi yang berbeda. 

Tidak salah lagi, dia adalah yang sesungguhnya. 

Dia adalah Dewa Iblis legendaris. 

“T-Tunggu...”

“Sign - Jurang Sirna Kekuatan.” 

27 bola sihir terbentang di udara. Apakah ini Sihir Konstruksi? 

Melihat Dewa Iblis Kara membentuk segel dengan kedua tangannya, ini pasti Sihir Konstruksi, jurus pamungkas para penyihir. Namun, yang tidak bisa kupahami ialah, mengapa dia tidak hanya memanifestasikan satu hukum saja? 

Pada dasarnya, Sihir Konstruksi adalah jenis sihir yang memanifestasikan hukum yang dibangun oleh penggunanya ke dalam suatu ruang tertentu, lalu memaksakannya pada musuh. Ini sama saja seperti pemaksaan aturan. 

Alasan mengapa biasanya hanya ada satu hukum yang terbentuk adalah karena manusia hanya memiliki satu jenis sirkuit sihir, dan bahkan untuk satu saja membutuhkan jumlah kekuatan sihir yang luar biasa serta tingkat penguasaan yang mampu menahan beban sirkuit tersebut. 

Menjalankan beberapa sekaligus, itu mustahil. 

“Tolong katakan ini hanya lelucon!” 

Aku menggunakan kemampuan Penilai dan menatap bola-bola yang terbentang itu, dan benar saja, semuanya adalah Sihir Konstruksi. Lebih parahnya lagi, masing-masing menggunakan sirkuit dengan atribut yang berbeda, dan setiap bola memiliki hukum yang berbeda pula... 

“...Mustahil.” 

Dewa Iblis Kara, dia bukanlah manusia. Jadi, meskipun aku mengalah seratus langkah, aku masih mengerti bahwa dia memiliki banyak sirkuit sihir. Aku juga dapat merasakan jumlah kekuatan sihirnya yang berada di luar skala normal. 

Masalahnya adalah jumlah atributnya. 

Atribut sihir yang saat ini dikonfirmasi keberadaannya berjumlah 16. 

Memang, ada yang namanya atribut turunan seperti es dari air, atau petir dari angin yang meskipun sangat jarang, tetap tercatat keberadaannya. Namun, sekalipun semuanya dihitung, manusia hanya mengetahui 16 jenis atribut. 

Artinya, dari Sihir Konstruksi yang saat ini sedang dikerahkan, 11 diantaranya menggunakan atribut yang sama sekali tidak dikenal oleh umat manusia. Bahkan jika aturannya bisa dipahami, tidak mungkin ada cara untuk mengatasinya. 

“Hahahahahaha.” 

Aku hanya bisa tertawa dengan pandangan kosong. Kemampuan Penilai-ku sudah tidak ada gunanya. 

Meskipun situasinya dapat dipahami, tidak ada tindakan balasan yang mungkin untuk dilakukan. Yang ada hanyalah bertambahnya rasa keputusasaan. 

Justru aku iri pada rekan-rekanku yang mungkin akan mati tanpa pernah mengetahui kenyataan ini. 

Selain diriku, mungkin belum ada yang menyadari bahwa dia adalah yang sesungguhnya. 

“Ah.” 

Suara dan cahaya, semuanya menghilang. 

Pemandangan putih bersih berubah menjadi kegelapan total. Jika ini bukan di dalam dungeon, mungkin satu negara sudah musnah. 

“Kah....!”

Aku mengembuskan napas. Sepertinya, napasku sempat terhenti tanpa aku sadari. 

Hanya aku yang tidak terluka. Dia pasti sengaja mengecualikanku dari target. Itu berarti dia mampu mengendalikan serangan berskala sebesar itu, jurus pamungkas sebesar itu, dengan sempurna. 

Sesuai dengan pernyataannya. Selain diriku, semuanya tewas seketika. 

Mereka menghilang tanpa meninggalkan satu butir debu. 

Aku bahkan tidak tahu atribut apa yang dia digunakan, atau hukum seperti apa yang diterapkan. Tidak ada waktu sedikitpun untuk memahaminya, kami diinjak-injak secara sepihak. 

“Perkenalannya sudah selesai. Sekarang, mari kita bertarung. Jangan membuatku bosan, oke?” 

“Kau... tidak lelah?” 

“Hm? Aku bahkan tidak menggunakan kekuatan sihir sebesar ujung kelingking. Mana mungkin aku lelah. Kamu kira aku ini siapa?” 

“Kenapa... kenapa ini tidak tercatat!? Aku tidak tahu jika ini... jika ada monster seperti ini! Jadi Pahlawan Pertama yang menyegelnya sendirian? Jangan bercanda!” 

“...Dibandingkan denganku, kemampuan tempur miliknya justru lebih tinggi dariku.” 

“T-Tidak... tidak mungkin...”

Ujung bibirku bergetar. Bunyi gigi yang saling beradu terdengar nyaring. 

Kakiku, bahkan seluruh tubuhku gemetar hebat. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini. Aku tidak ingin mempercayainya. 

Aku telah meremehkan keberadaan makhluk legendaris tersebut. 

Ucapan gadis dari Tim Pahlawan rupanya benar. Aku salah dalam menilai besarnya ancaman ini. 

“Ah...” 

Legenda tentang kehancuran tanah airku masih tersisa berkat adanya rakyat yang selamat. 

Dan mereka bisa selamat karena adanya Pahlawan Pertama. 

Selain itu, tidak ada satupun catatan lain yang tersisa. Karena itulah aku menilai makhluk ini hanya mampu menghancurkan satu negara. Tidak, mungkin seluruh bangsaku pun memiliki pemahaman yang sama.

Dan itu semua salah. 

Negara-negara lain tidak mampu meninggalkan catatan apa pun. Musuh-musuh lainnya pun sama. 

Sampai akhirnya Pahlawan Pertama berhasil menghentikannya, kemungkinan besar orang-orang dari seluruh negeri telah dibantai habis. Itulah sebabnya tidak ada legenda yang tersisa. Tidak seorang pun bisa mengetahui bahwa monster ini sangat mengerikan... 

Jika dia hanya ada di tingkat menghancurkan sebuah negara, baik aku maupun Pahlawan masih bisa mengalahkannya. Itu sebabnya aku meremehkannya. Namun, Dewa Iblis Kara ini, dia adalah monster yang berada pada level yang mampu membalikkan dunia itu sendiri. 

Perbedaannya terlalu jauh, benar-benar berbeda dimensi. Mustahil untuk menang. Aku ingin memukul diriku di masa lalu yang pernah mengatakan bahwa kekuatan ini berlebihan. Dunia harus bersatu. Umat manusia harus berevolusi. 

Jika tetap seperti ini, maka kehancuran sudah dipastikan... 

“Aku harus menyampaikannya!” 

Dunia masih belum tahu. Mungkin mereka sama seperti diriku yang meremehkan organisasi bernama Ordo Pahlawan. 

Bahkan hanya dengan Dewa Iblis Kara saja sudah memiliki kekuatan sebesar ini. Jika mempertimbangkan kekuatan yang lainnya, dunia benar-benar bisa musnah. 

Ini bukan hanya soal ras manusia, seluruh makhluk hidup bisa saja punah. 

“Kamu berniat untuk kabur?” 

“Ya. Bertarung denganmu bukanlah tindakan yang rasional.” 

Aku harus bertahan hidup bagaimanapun caranya dan menyampaikan informasi ini ke tanah airku. 

Tidak ada lagi yang boleh mendekati Ordo Pahlawan hingga sejauh ini. Bahkan jika ada pasukan penakluk berikutnya, mereka akan menemui nasib yang sama. Satu-satunya yang memiliki kemungkinan membawa pulang informasi ini hanyalah aku. 

“Buatlah aku terhibur. Selain itu, tidak ada kemungkinan bagimu untuk tetap hidup. Kuberitahu terlebih dahulu, kamu ini beruntung, tahu? Jika bukan aku, melainkan wanita itu yang kamu temui, kamu pasti sudah mati.” 

“...Wanita itu? Maksudmu Ortlinde Marteno?” 

“...Memang menyebalkan, tapi bahkan bagiku sendiri, menghadapi seorang pengguna roh ilahi adalah hal yang paling merepotkan.” 

“Apa...” 

Dewa Iblis ini tidak mungkin berbohong. 

Itu sudah jelas, tanpa diragukan lagi, masih ada kekuatan yang bahkan lebih besar dari yang ku hadapi. 

“T-Tidak mungkin...”

Meski aku kabur dan menyampaikan pesan ke tanah air, apakah lawan seperti ini benar-benar dapat dikalahkan? 

Organisasi bernama Ordo Pahlawan, ini terlalu kuat, mereka terlalu berlebihan. 

Bahkan seandainya, andaikata Pahlawan Pertama masih hidup di era ini, bukankah perbedaan kekuatannya tetap tidak masuk akal? 

“Ordo Pahlawan itu...? Apa sebenarnya yang ingin kalian lakukan!?” 

“Ujian, mungkin.” 

“...Ujian?” 

“Menurut Emo Sugiru, organisasi ini bertujuan untuk membuat sang Pahlawan bersinar” 

Aku tidak mengerti. 

Memang benar bahwa Emo Sugiru, seorang buronan, merupakan pemimpin Ordo Pahlawan. Namun, tujuannya terlalu konyol...

Mengapa begitu banyak orang kuat berkumpul di bawah orang seperti itu? 

Siapa sebenarnya Emo Sugiru? 

Jika aku hanya fokus melarikan diri, hasil akhirnya takkan berubah. Aku akan memanfaatkan kelengahan mereka, memberikan satu serangan, lalu mundur! 

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!” 

Aku mengalirkan sihir ke seluruh tubuhku, melepaskan energi kehidupan, lalu berlari. Ini pasti takkan mempan terhadap Dewa Iblis Kara. Namun meski begitu, aku tidak punya pilihan lain. 

“Teknik Bela Diri - Tinju Api Neraka!” 

Aku menerjang Dewa Iblis Kara, tepat pada saat hantaman mengenai sasaran, aku mengaktifkan Teknik Bela Diri. Ini adalah teknik terapan dari energi hidup, jurus yang bisa disebut sebagai titik akhir bagi seorang petarung. 

Dikarenakan ini dapat menghabiskan energi kehidupan dalam jumlah besar, teknik ini memperpendek umur penggunanya. Namun, aku tidak ada punya pilihan lain. 

Bagi penyihir, ini setara dengan Sihir Konstruksi, jurus pamungkas. Jenis tekniknya berbeda-beda tergantung bakat individu. Dalam kasus milikku, tinjuku memiliki sifat membakar sihir dengan api yang bersemayam di dalamnya. 

Ini adalah satu serangan yang tidak bisa ditahan meski dengan pertahanan sihir. Ironisnya, sama seperti Dewa Iblis Kara, aku juga seorang petarung sekaligus penyihir. 

“Hoo...” 

“Kh!” 

Dewa Iblis menahannya hanya dengan tangan kiri. Serangan sekuat tenaga itu memang melelehkan sebagian zirah merahnya. Namun, hanya itu saja. 

“...Hebat. Jadi kamu memilih untuk menantangku, dan tidak melarikan diri. Aku tidak membencinya.” 

“Apa...?” 

Dari tangan kirinya, sesuatu seperti pasir hitam mulai meluap. Dari bagian zirah yang meleleh, sesuatu yang tidak menyenangkan melayang-layang di sekitarnya...

“Zirahku bukanlah untuk melindungi tubuhku melainkan untuk menyegel kutukan yang kubawa sejak lahir.” 

“...Kutukan?” 

“Aku akan meluruskan kesalahpahamanmu. Secara teknis, aku bukan penyihir, juga bukan petarung.” 

“...?”

“Aku adalah pengguna kutukan... Dan terakhir kali aku memperlihatkan ini kepada Pahlawan Pertama. Jadi, berbanggalah.” 

“Guah...!”

Padahal aku tidak disentuh, tapi mulutku mulai menyemburkan darah. 

Muntah darah? 

Tubuhku kehilangan seluruh tenaga. 

Saat tersadar, aku sudah tergeletak di tanah. Aku bahkan tidak tahu apa yang telah dia lakukan padaku. 

“A-Apa... ini...”

“Taruhan Maut. Siapa pun yang menyentuh kutukanku, akan dirampas proses menuju kematiannya. Pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan yang seharusnya kamu peroleh mulai sekarang, semuanya menjadi milikku.” 

“P-Pahlawan Perta...ma...?” 

“Hm? Pahlawan Pertama? ...Dia mengunci waktu di dalam tubuhnya, jadi itu sama sekali tidak mempan. Bagi diriku, dia adalah musuh alami.” 

“...”

Jadi, inilah rahasia dari kekuatan Dewa Iblis Kara...

Satu-satunya alasan dia memiliki kekuatan yang begitu tidak masuk akal adalah karena dia hidup selama puluhan ribu tahun dengan membawa kutukan ini. 

Aku tidak pernah menyangka akan mengetahui satu halaman dari sejarah legendaris yang tertinggal. 

Di tengah kesadaranku yang memudar, itulah pikiran terakhirku yang terlintas.


* * *


“Hai, sudah bangun?” 

“...Siapa kamu?” 

Aku menutup buku yang sedang kubaca, lalu menyimpannya ke dalam Item Box berbentuk cincin. 

Sambil menyeduh ulang teh hitam, aku tersenyum pada sang petualang yang baru saja sadar. Dia tampak terkejut menyadari bahwa dirinya sedang duduk di atas kursi. 

“Namaku Emo Sugiru. Aku ingin sedikit berbicara denganmu, jadi, aku memintamu untuk dihidupkan kembali.” 

“D-Dihidupkan kembali...?” 

“Iya. Ada seorang gadis necromancer bernama Larschalte, dan berkat dia, kamu hidup kembali.” 

“A-Aku mati? Tidak, tunggu dulu... Emo Sugiru?” 

“Iya.” 

“Itu berarti, kamu adalah pemimpin Ordo Pahlawan!?” 

“Entahlah. Kami memiliki prinsip bahwa semua orang bebas bersenang-senang.” 

Menurut Dewa Iblis Kara, petualang ini bernama Nordi. Saat kami berkumpul kembali, aku terkejut karena entah mengapa dia menyeret seseorang yang tidak kukenal. 

Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata orang itu sudah mati. Jadi, aku meminta Larschalte untuk menghidupkannya kembali. 

“Sampai punya necromancer segala... Dengan kekuatan sebesar itu, sebenarnya apa tujuan kalian!? Aku tidak berniat menjual informasi tentang tanah airku!” 

“Haha, aku tidak butuh hal begituan. Aku hanya ingin menikmati dunia ini dengan penuh kesenangan.” 

“Kalau begitu, apa urusanmu denganku?” 

“Sudah kubilang, bukan? Aku hanya ingin berbincang-bincang. Silahkan, tehnya sudah jadi. Ini adalah favoritku.” 

Aku menuangkan teh hitam hangat ke dalam cangkir.

Lalu menaruhnya di depan Nordi. Terdengar suara ringan saat cangkir menyentuh meja. Secara pribadi, aku menyukai suara ini, terdengar menenangkan. Sampai-sampai aku sering minum teh hanya demi itu. 

Dia pasti masih bingung karena baru saja dihidupkan kembali. Jika dia menarik napas sejenak, seharusnya dia bisa lebih tenang. 

“Meskipun sudah mati, ternyata rasanya masih terasa jelas.” 

“I-Iya, benar juga...”

“Aku juga pernah mati sekali. Aku ini tipe orang yang disebut reinkarnator.” 

Rasa, suara, aroma, semua informasi itu terasa begitu jelas, tapi entah kenapa perasaan “aku sudah mati” sendiri tidak pernah benar-benar terasa. 

Itu mungkin sama saja, baik reinkarnasi maupun kebangkitan. Karena itulah, aku ingin mencoba berbicara dengan orang yang baru saja mengalaminya. 

“Bagi dirimu sekarang, dunia terlihat seperti apa? Terlihat bersinar?” 

“...Apa maksudmu?” 

“Waktu aku bereinkarnasi, dunia terlihat benar-benar hitam-putih. Tidak ada apa-apa selain rasa asing.” 

“Tidak, aku tidak merasakan perubahan apa pun...”

“Oh begitu, sayang sekali. Aku ingin berbagi kegelisahan yang sama. Tapi yah, setelah menemukan sang Pahlawan, dunia mulai terlihat berwarna. Sekarang aku benar-benar menikmatinya.” 

Nordi menatapku dengan pandangan curiga, seolah merasa aneh. Sepertinya ini bukan topik yang mudah dipahami. Yah, mau bagaimana lagi. 

Dalam situasi seperti ini, lebih baik kita mengganti topik pembicaraan! 

“Ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?” 

“Ke mana orang-orang yang lain?” 

“Hm? Kurasa mereka akan segera datang. Aku pikir mungkin akan menakutkan bagimu saat terbangun, jadi aku minta supaya mereka meninggalkan kita sendirian. Namun, ternyata kamu jauh lebih tenang dari yang kuduga.” 

“...Apa kamu benar-benar Emo Sugiru?” 

“Iya.” 

“...Terlalu lemah. Aku tidak merasakan apa pun dari dirimu. Bahkan setelah melakukan penilaian, selain alat-alat yang kamu kenakan, kamu sama sekali tidak memiliki kemampuan. Bahkan lebih rendah dari orang biasa.” 

“Haha, pedas sekali penilaiannya.” 

“Sungguh tidak masuk akal jika kamu adalah sosok yang mampu membuat Dewa Iblis Kara tunduk. Jika mereka tahu kekuatanmu yang sebenarnya, mungkin mereka akan tercerai-berai. Aku tidak berniat untuk diam saja.” 

“Menurutku, tidak masalah jika kamu ingin membicarakannya.” 

Begitu aku mengatakan itu, pintu ruangan terbuka. Satu per satu, anggota Tim Pendukung Pahlawan pun masuk. 

Saat melihat Dewa Iblis Kara, Nordi langsung terjatuh dari kursinya. 

Sepertinya dia memang menakutkan, ya? 

Padahal dia hanya penggemar berat Pahlawan Pertama yang sedang roleplay sebagai Dewa Iblis, dia hanya seorang cosplayer... 

“Hiiii...!” 

Nordi menatap orang lain sambil mengeluarkan jeritan kecil. 

Contohnya Pak Tua yang kehilangan satu matanya, lalu Jenderal Iblis Bertopeng yang merupakan mantan anggota pasukan Raja Iblis. Wajar saja jika mereka terlihat menakutkan. Namun sekarang, mereka hanyalah sesama teman penggemar, sama sekali tidak berbahaya. 

Larschalte dan gurunya pun memiliki aura yang menyeramkan, jadi mungkin agak menakutkan? 

“...K-Kalian semua begitu kuat, kenapa bisa mengikuti orang seperti Emo Sugiru!? Pria ini lemah, dia hanya sosok yang bergantung pada alat sihir!” 

“Aku sih tidak merasa sedang ‘menundukkan’ mereka.” 

Nordi berteriak dengan lantang, menyampaikan protesnya kepada semua orang. Itu memang fakta, tapi jika diucapkan sejauh itu, rasanya tetap menyakitkan. 

“Haa... Kamu punya kemampuan Penilai, bukan?” 

“Benar, memangnya kenapa?” 

Dengan nada bercampur helaan napas, Ortlinde melontarkan pertanyaan kepada Nordi. 

“Kalau begitu, silakan nilai diriku.” 

“...? Gadis yang sangat biasa. Sangat rapuh. Kenapa orang seperti ini ada di tempat seperti ini?” 

“Hehehe...”

Mendengar jawaban Nordi, Dewa Iblis Kara pun tertawa. 

Aku sendiri tidak mengerti apa yang lucu, tapi setidaknya dia tampak senang. Sambil menyilangkan tangan dan menahan tawa, Dewa Iblis berkata dengan suara rendah. 

“Wanita ini adalah Pengguna Roh Ilahi, Ortlinde Marteno. Itu pun kamu tidak tahu?” 

“...!?”

“Dia bilang aku ini gadis lemah dan rapuh, ya? Ihihi.” 

“Mustahil... Status yang muncul dari penilaianku padamu adalah milik orang biasa!” 

Ortlinde menjentikkan jarinya. 

Suaranya terdengar nyaring dan tajam. 

“Coba lakukan penilaian sekali lagi.” 

“Hah?”

Nordi berdiri dengan wajah kosong, lalu jatuh berlutut ke lantai. 

Ada apa dengannya? 

Aku sedikit tidak bisa mengikuti perkembangan situasinya... Rasanya menyedihkan jika tidak memahami lelucon semua orang. 

“A-A-Apa... status seperti ini... t-tidak mungkin ada!” 

“Penilai memang merupakan anugerah dari hukum dunia, tetapi sebaiknya jangan terlalu mempercayainya demi keselamatanmu. Bagaimanapun juga, Penilai hanya bisa mengukur sesuatu yang masih berada di dalam hukum dunia. Dia tidak berlaku pada eksistensi yang melampauinya seperti Roh Ilahi. Mereka yang benar-benar memiliki kekuatan sepertiku, bahkan bisa dengan sengaja menyesatkan hasil penilaian.” 

“Apa...” 

Entah kenapa, Nordi malah menoleh ke arahku. 

Kenapa dia melihat ke sini? 

Jangan-jangan, Nordi juga tidak bisa mengikuti suasana ini, jadi dia mencari pertolongan dariku...? 

“Kamu tidak merasa aneh karena gagal mengenaliku sebagai Dewa Iblis yang sesungguhnya sejak pandangan pertama? Kekuatan seperti itu hanya berlaku pada kelas rendahan.” 

“Hiiiiii!” 

Sambil menjerit, Nordi menjauh dariku. 

“Eh...?”

Kenapa harus menjaga jarak dariku? 

Tiba-tiba dijauhi seperti ini bisa membuatku hampir menangis. Padahal aku tidak melakukan apa pun...

Sepertinya aku harus menjelaskan. 

“Tidak perlu takut. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku hanya ingin teman bicara.” 

“J-Jika aku menyerahkan informasi tentang negaraku, apa aku akan dibebaskan!?” 

“...? Menurutku, kamu bebas melakukannya.” 

“Benarkah...?” 

“Jenderal Iblis, tolong siapkan jalan untuk keluar.” 

Untuk menenangkannya, aku meminta pada Jenderal Iblis Bertopeng untuk memberikan jalan keluar. Bagaimanapun, dia adalah Dungeon Master, jadi menyiapkan jalan keluar itu hal yang mudah. 

“Baiklah. Tapi Emo, apa tidak apa-apa membiarkannya pergi?” 

“Iya.” 

Jenderal Iblis Bertopeng itu menatapku dengan wajah heran. 

Aku sangat puas bisa berbincang-bincang dengan Nordi. Sepertinya dia ingin segera pulang, dan aku sedikit kasihan untuk menahannya, jadi mau bagaimana lagi. 

“Jika menggunakan kekuatanku, kita bisa mendapatkan informasi yang berharga. Bagaimana?” 

Larschalte berkata demikian kepadaku. 

Aku tidak begitu paham, tapi bagaimanapun juga Nordi itu sudah mati. Jika Larschalte sang necromancer, mungkin dia memang bisa menahannya. 

Namun, menurutku kita seharusnya menghormati kehendaknya sendiri. 

“Menurutku, jika seseorang memilih dengan kehendaknya sendiri, disitulah letak maknanya, apa pun itu.” 

“...Membuatnya memilih, dengan kehendaknya sendiri, untuk menjual negaranya.” 

“Emo itu menakutkan ya.” 

Jenderal Iblis Bertopeng dan Larschalte tersenyum licik. 

Keduanya berbicara dengan suara pelan sehingga tidak terlalu terdengar, tapi jika mereka bisa akrab, aku senang. 

“Nordi, apa kamu tahu sesuatu tentang Pahlawan Pertama?” 

“...! Di negaraku, jasadnya disimpan. Itu rahasia negara, tapi letaknya berada di bawah tanah kota pusat. Aku tidak tahu alasannya, sungguh!” 

“Oh...” 

Dewa Iblis tampak begitu bersemangat. Wajar saja kalau dia tertarik. Bagaimanapun juga, meski hanya jasad, dia sangat mengidolakannya. 

Kalau begitu, mungkin event berikutnya kita bisa ziarah ke makam Pahlawan Pertama? 

“Jenderal Iblis, bisakah kamu membukakan pintu masuk ke negara tersebut?” 

“Jika negara tersebut masih berada di benua ini, aku rasa bisa.” 

“Tuan Sugiru, bolehkah saya berangkat terlebih dahulu? Meskipun begini, saya adalah pedagang informasi, saya memiliki banyak jalur koneksi... Mari kita blokir informasi tentang kita terlebih dahulu.” 

Pak Tua menundukkan kepalanya. 

Padahal tanpa meminta pun, dia bebas bertindak sesuka hati. Berlebihan sekali. 

“Menurutku itu tidak masalah.” 

“Terima kasih banyak. Saya pasti akan berguna bagi Tuan Sugiru.” 

“Eh, ah... iya.” 

“Kalau begitu, kemungkinan besar negara asal petualang bernama Nordi itu ada disini. Di antara negara-negara tetangga, hanya tempat ini yang memiliki kota besar di pusat wilayahnya.” 

Pak Tua membentangkan peta di atas meja sambil menjelaskan dengan penuh semangat. 

Sepertinya dia sangat termotivasi! 

“Hehhehe, kalau begitu aku juga ikut. Aku akan menyiapkan ritual besar. Selain itu, akan kuhadiahkan roh ilahi sebagai pengawal untukmu. Bahkan jika bertemu lawan kuat sekalipun, seharusnya tidak masalah.” 

“Terima kasih, Nona Ortlinde.” 

“Kita sama-sama ingin berguna bagi Tuan Sugiru, bukan?” 

“Ya, benar sekali...” 

Sepertinya agar Pak Tua tidak tersesat, Ortlinde akan membantu menemaninya. 

Seorang kakek bermata satu yang berjalan-jalan sambil diikuti oleh roh telanjang bulat... Bagaimanapun juga, itu jelas-jelas berbau insiden. Semoga saja tidak terjadi apa-apa, mungkin? 

“Jenderal Iblis, bagaimana kalau kamu juga memberikan topeng pengubah wajah kepada Pak Tua?” 

“...Tidak masalah.” 

“Tuan Jenderal Iblis, saya pinjam topengnya.” 

“Ah, topeng yang baru biar aku saja yang memakainya. Topeng yang sedang kupakai sekarang sudah memiliki wajah yang terdaftar, jadi pakailah itu.” 

“Baik! Terima kasih banyak.” 

Aku memberikan topengku kepada Pak Tua. 

Karena sudah terdaftar wajah pria tampan bernama Kensei, jadi seharusnya aman. Dengan ini, meskipun berjalan-jalan sambil membawa roh telanjang, seharusnya tidak akan jadi masalah. 

“Ah, uh...” 

“Hm? Oh, kalau mau pulang silakan saja.” 

Nordi menyapaku dengan wajah ketakutan. Sepertinya dia benar-benar ingin pulang. 

Aku mengarahkan tanganku ke arah pintu keluar, memberi isyarat. 

“A-Aku bisa pulang!” 

Dengan wajah yang terlihat sangat lega dari lubuk hati, Nordi menuju pintu keluar. 

Tidak lama kemudian, sosoknya tersedot ke dalam lubang besar dan menghilang. Sepertinya dia berhasil keluar dengan selamat. 

“...Apa benar tidak masalah?” 

“Kenapa?”

Pak Tua bertanya kepadaku. 

Aku memang sedikit merasa kesepian karena Nordi sudah pulang, tapi suatu hari nanti pasti bisa bertemu lagi, jadi tidak masalah. 

“Mungkin saja dia akan menyampaikan informasi tentang kita.” 

“Menurutku itu bukan masalah.” 

“...Maafkan saya. Saya dengan bodohnya sempat meragukan kehendak Tuan Sugiru.” 

Pak Tua meminta maaf dengan cara yang berlebihan. 

Dia selalu bersikap sangat rendah hati, sampai-sampai membuatku merasa tidak enak. 

Sepertinya dia sudah memahami bahwa kami hanyalah kelompok penggemar yang tidak berbahaya. Bahkan, jika dia ingin menyebarkannya ke luar, ini bisa jadi kesempatan agar status buronan kami dicabut. 

Ngomong-ngomong, apa kami juga diburu di negara tetangga? 

“...Informan, kami ini penguji. Jika hanya ingin menginjak-injak, itu pekerjaan yang tidak perlu. Namun setidaknya, kita harus menyisakan peluang bagi mereka untuk menang.” 

“Begitu ya... Kalau begitu, justru sebaiknya informasi ini disebarkan? Saya akan bergerak agar sampai ke telinga pahlawan generasi sekarang.” 

“Bagus! Jika sang pahlawan juga datang, itu akan menjadi hal yang terbaik.” 

Dewa Iblis Kara dan Pak Tua memberikan usulan yang sangat luar biasa. Membayangkan menikmati ziarah ke makam Pahlawan Pertama bersama sang Pahlawan saja sudah membuat dadaku berdebar. 

Pasti sang Pahlawan juga akan senang. Mungkin aku bisa melihatnya menangis terharu sekali lagi! 

“Kalau begitu, saya akan pergi lebih dulu untuk melakukan peninjauan.” 

“Ya, hati-hati.” 

“...Baik!” 

Mendengar ucapanku “hati-hati”, dia bereaksi dengan wajah yang terlihat sangat senang. 

Melihat dari keadaan hidup Ortlinde, mungkin memang tidak pernah ada orang yang mengucapkan hal itu padanya. Semoga dia bisa menikmati event kali ini dan melupakan masa lalunya yang kelam. 

“...Kalau begitu, aku juga akan berangkat. Sekalian meneliti informasi tentang Pahlawan Pertama, aku akan membereskan kekhawatiran yang ada.” 

Pak Tua juga tampaknya pergi untuk peninjauan. 

Sebagai seorang informan, mungkin dia akan memesan tempat wisata atau toko yang bagus...!

Sungguh, semua orang sangat bisa diandalkan.


Post a Comment

Join the conversation