[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Chapter 4

[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Chapter 4

Translator: Chesky Aseka & Friends
Proofreader: Chesky Aseka

CHAPTER 4 :Dalang adalah Sosok yang Mendorong Evolusi...

Pandangan orang terhadap diriku yang cantik dan anggun seperti bunga mawar adalah hukum alam. 

Namun, kali ini ada alasan lain mengapa aku menarik perhatian. Sebagai buronan, potret wajahku yang tampan beredar luas, sehingga aku tidak bisa sembarang berjalan di luar. 

“Jangan-jangan, aku ini memang pria yang penuh dosa...?” 

Apakah wajah tampan yang memikat seluruh dunia ini adalah sebuah kejahatan? 

Aku bersumpah tidak pernah mempermainkan perempuan, dan merasa sudah mengabdikan diri demi rakyat. Namun, entah bagaimana rumor tidak berdasar menyebar luas ke mana-mana. 

“Apa ini karena rasa iri hati?” 

Apakah para pria lain iri lalu menyebarkan rumor seperti ini? Tidak, bukan seperti itu. 

Bukan ingin menyombongkan diri, tapi aku juga populer di kalangan pria. 

Bahkan, justru lebih sering disukai pria, sementara para wanita, entah kenapa, setelah berbincang sebentar, memasang wajah seolah mengerti sesuatu lalu segera pergi. Sikap malu-malu seperti itu, menurutku menggemaskan. 

“Pelarian seindah apa pun pasti ada batasnya.”

Sejak saat itu, aku melarikan diri ke negara tetangga. Di negeri ini aku belum masuk ke dalam daftar buronan. Jadi, bisa masuk lewat jalur resmi itu setidaknya sebuah keberuntungan kecil. Namun, uangku sudah benar-benar habis. 

Hari-hari setelahnya pun tidak lagi indah. 

“Aku mau makan... mau mandi... mau tidur dengan tenang...”

Hasrat biologisku terus menumpuk. 

Aku tidak lagi bisa menjalani hidup yang sehat dan sejahtera. Beginikah kejamnya hidup tanpa uang? 

Di gang sempit yang remang-remang ini, apakah aku akan mati begitu saja? 

“Daun-daunan ini enak sekali ya.” 

Aku menggigiti rumput liar yang tumbuh di sekitar, sambil melarikan diri dari kenyataan. Untungnya hujan sedang turun, jadi aku merentangkan kedua tangan lalu meminumnya. 

Mulai sekarang, aku ingin hidup sebagai pria yang memeluk hujan dan mekar dengan liar! 

“Ini adalah kehidupan yang terbaik.” 

Ini pertama kalinya aku merasa bahwa hidup itu sulit. Artinya, selama ini aku dibesarkan dalam lingkungan yang begitu layak. Aku tidak pernah benar-benar memahami perasaan orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. 

Kini aku tahu betapa menyakitkannya hari-hari ketika seseorang meragukan apakah hari esok akan datang. 

Hidupku memang tidak lagi berjalan mulus, tapi meski hanya sementara, setidaknya pernah ada momen di masa itu, dan itu sudah termasuk keberuntungan. Itu karena ada juga orang-orang yang bahkan tidak pernah merasakannya. 

“...Ara?” 

Saat aku tergeletak dan wajahku mencium tanah, terdengar suara seorang wanita. 

Aku hanya mengangkat pandangan mataku untuk melihat pemilik suara tersebut. 

“Cantiknya.” 

Tanpa sadar, aku menghela suara kekaguman. 

Gadis itu mengenakan gaun gothic hitam, dengan stoking merah. 

Mata kirinya merah, mata kanannya putih. Rambutnya pun bercampur warna merah dan putih. Dan yang terpenting, wajahnya begitu manis nan indah hingga membuatku terpana. 

“Terima kasih. Wajahmu juga sama indahnya, tidak kalah dariku. Namun, kamu sangat kotor... Persis seperti diriku sebelum diselamatkan.” 

“O-Oh.” 

Gadis itu berjongkok, lalu mengusap wajahku dengan saputangan. Ekspresi lembutnya dan sentuhan kain itu terasa sangat nyaman. Seolah-olah kelelahan dan keputusasaan yang kurasakan menghilang begitu saja. 

Tangannya sedikit menyentuh pipiku. Tanpa sadar, aku mengeluarkan suara aneh. 

“Suka~”

“...?”

“T-Tidak, bukan apa-apa. Berada di gang seperti ini sangat berbahaya. Sebaiknya kamu segera pergi.” 

“Ara ara, kamu mengkhawatirkanku?” 

“Tentu saja. Aku akan menemanimu ke jalan yang ramai.” 

Tiba-tiba aku berpikir. 

Dari mana gadis ini datang? 

Aku adalah seorang Pendekar Pedang. Aku peka terhadap keberadaan orang lain dan tidak lengah dalam berjaga. Namun, kehadirannya terasa mendadak, seolah-olah dia datang dengan teleportasi. 

“Kamu datang dari mana? Aku sendiri berasal dari negara tetangga.” 

“Aku juga sama. Soalnya, kota tempat tinggalku sudah kuhancurkan...”

“B-Begitu ya.” 

Mungkin saja kami tinggal di kota yang sama. Mungkin maksudnya “dihancurkan”, tapi sisi ceroboh seperti itu yang membuatnya menjadi imut...! 

Aku merasakan takdir. Tidak ada pilihan lain selain menikah. 

“Maukah kamu berjalan bersamaku di altar pernikahan?” 

“...Apa kamu ingin menjadi ayahku?” 

“Maaf, salah ucap. Lupakan saja.” 

“Hah...?” 

Sial, karena berada dalam kondisi ekstrem, kepalaku tidak bekerja dengan normal. Hasrat seksualku juga sedang menumpuk, sampai-sampai aku mengarahkannya dengan pandangan yang tidak pantas... 

Padahal gadis ini dengan tulus menunjukkan kebaikannya padaku. 

“Apa kamu punya uang?” 

“...Tidak. Maaf aku pria yang tidak berguna. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?” 

“Tidak, bukan begitu.” 

Gadis itu tersenyum lembut lalu menyerahkan beberapa koin emas. Dengan jumlah ini, mungkin aku bisa bertahan selama tiga hari. 

“...Kenapa?” 

“Sebagai ucapan terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Kamu lagi sulit masalah uang, ‘kan?” 

“...!”

Air mata meluap. 

Rasa lega ini, rasa hina karena harus menerima belas kasihan dari gadis ini, dan rasa frustrasi. 

Dia pasti menyadari bahwa aku benar-benar tidak memiliki uang sepeser pun. Seharusnya keadaan kita terbalik. Akulah yang ingin berguna bagi anak ini... 

“Maaf.” 

“Ara ara, aku ingin mendengar ucapan terima kasih.” 

“...Terima kasih. Aku pasti akan membalasnya. Aku tidak akan melupakan jasamu ini.” 

“Astaga... sebenarnya ini hanya kepuasan diri semata. Kamu mengingatkanku pada diriku sendiri di masa lalu. Hanya itu saja, aku tidak bisa berpura-pura tidak melihat.” 

“Meski begitu, aku senang dan sangat tertolong. Kamu adalah penyelamat hidupku.” 

“Aku akan pergi sekarang. Tolong jalani hidup dengan kuat.” 

Gadis itu melambaikan tangan lalu pergi. 

“Justru di tengah kekotoran yang seperti neraka itulah, keindahan sejati berada.” 

Orang-orang yang mendekatiku selama ini hanyalah mereka yang ingin menjalin hubungan dengan Pendekar Pedang saja. Setelah aku kehilangan kedudukan itu, tidak seorang pun mengulurkan tangan untuk menolongku. 

Seakan membalik telapak tangan, mereka malah memandang rendah diriku. 

Namun, hanya gadis itulah yang menyelamatkan orang asing sepertiku. Dia berada di sisiku. 

Deg-deg.

Apa ini...? Detak jantungku tidak bisa kutahan! 

“Apa aku... jatuh cinta?”


* * *


“Tuan Sugiru adalah orang yang menakutkan.” 

Beliau tidak menolak. Dia menerima keberadaan seseorang apa adanya, begitu saja. 

Tidak hanya membalaskan dendam atas putriku yang telah dibunuh. Aku bahkan diizinkan untuk bergerak sebagai orang jahat yang dapat berguna... 

Kekuatan tempur Ordo Pahlawan, pasukan di bawah Tuan Sugiru, berada di tingkat yang sama sekali berbeda. Namun, semuanya memberi kesan seolah masing-masing memikul luka di dalam diri mereka. 

Apakah Tuan Sugiru itu seorang yang kuat atau tidak, itu hanyalah perkara sepele. 

Bahkan ketika seorang petualang bernama Nordi menyebutnya sebagai orang lemah, aku merasa itu tidak penting. Mungkin semua orang merasakan hal yang sama. Mereka hanya terpikat oleh kepribadian dan karisma beliau. 

“...Mungkin justru beliaulah yang merasakan kesepian.” 

Tuan Sugiru memiliki sorot mata yang aneh. Bukan soal mata sihir atau semacamnya. Sorot matanya Seolah-olah memandang dunia ini dari kejauhan, seakan tidak benar-benar merasakan bahwa dirinya hidup, di dalamnya bersemayam sebuah kesepian. 

Jika ini hanya kesalahpahaman orang tua sepertiku, semoga saja demikian... 

“Pahlawan.” 

Ada momen ketika mata Tuan Sugiru bersinar. Itu terjadi setiap kali dia membicarakan Pahlawan. Mungkin, pada dasarnya, dia sama sekali tidak tertarik pada apa pun selain Pahlawan. Alasannya tidak diketahui. 

Namun, karena aku ingin beliau bahagia, aku dengan senang hati akan membantu siapa pun yang bisa kulakukan. 

“Membunuh manusia adalah dosa. Itu merupakan kejahatan yang jelas. Mungkin dia memiliki orang tua. Mungkin dia memiliki anak. Mereka semua pada akhirnya akan meneteskan air mata karena rasa sakit. Namun, membunuh kejahatan, pada saat-saat tertentu, dapat menjadi sebuah keselamatan.” 

“...Ada apa dengan kakek tua ini?” 

Justru karena diri ini adalah kejahatan, ada hal-hal yang bisa diselamatkan. Seperti halnya sang Pahlawan yang suci tidak mampu menyelamatkanku, dan justru Emo Sugiru-lah, seorang penjahat yang menyelamatkanku. 

Aku sedang berjalan di kota bawah tanah, sisi gelap dari negeri ini. 

Seorang pemuda menatap tajam sambil mencengkeram kerah bajuku. Mungkin dia anak buah orang itu. Tiba-tiba merepotkan.

“Aku ada urusan dengan atasanmu.” 

“Hah?” 

“...Hmm. Pernahkah kamu membunuh seseorang?” 

“Pernah. Jika kamu tidak mau mati sekarang juga, tinggalkan barang berhargamu dan enyahlah.” 

“Begitu ya.” 

“Apa...?” 

Tanpa sempat memahami apa yang sedang terjadi, kepala pemuda tersebut menggelinding ke tanah. Melihat tubuhnya sendiri dari bawah, dia mengembuskan napas terakhir dengan wajah penuh keheranan. 

Setelah membuat kontrak dengan malaikat jatuh, aku kini memiliki kekuatan yang setara dengan petualang peringkat A. Ada berbagai batasan, tetapi aku mampu memotong ruang tertentu. 

“Mereka jahat karena tidak tahu bobot sebuah nyawa. Bahkan kematian mereka sendiri pun tidak mampu mereka pahami. Orang-orang seperti itu tidak mungkin memiliki hati untuk memikirkan penderitaan orang lain. Bukannya seharusnya kamu mendidik anak buahmu?” 

“...Kamu memang tidak pernah berubah, Si Tua dari Dunia Gelap.” 

“Kamulah yang berubah. Memimpin anak buah tidak berkualitas dan serendah ini.” 

“Mereka yang berkualitas tinggi sudah dijadikan anak buah oleh targetmu dulu... Namun, kupikir kamu sudah mati. Perampok itu, meski brengsek, dia tetaplah monster yang setara dengan petualang peringkat S. Aku tidak menyangka dia bisa dibunuh.” 

“Ya, aku justru membunuhnya setelah dia menyerangku lebih dulu.” 

Pria yang sedang berbicara denganku ini ialah pemimpin organisasi gelap yang mengendalikan negeri ini dari balik layar. Dia menyebut dirinya No Name. Aku memastikan bahwa dia adalah mantan petualang peringkat S, tetapi selain itu, tidak ada informasi lain sama sekali.

Dulu, kami saling mengenal saat aku mengumpulkan informasi tentang kelompok perampok yang menjadi musuh bebuyutanku. 

“...Aneh. Kudengar dia sudah mati?”

“Tuanku yang membalaskan dendam itu. Sekarang, aku hanya menjadi pelayan rendahan.” 

“Tuan, katamu? Orang aneh memang ada saja. Tapi masuk akal juga, aku tidak merasakan ketakutan darimu. Saat kita bertemu dulu, kamu jelas ketakutan ketika melihatku, bukan?” 

“Benar. Waktu itu, aku tidak boleh mati, dan jika aku bertarung denganmu, aku pasti akan kalah.” 

“...Hei, cara bicaramu seolah sekarang kamu bisa menang.” 

“Siapa tahu?” 

“Jangan bilang kamu menyamakanku dengan preman jalanan biasa?” 

“Tidak.” 

“...Sampaikan urusanmu. Tergantung isinya.” 

“Sebentar lagi, tuanku berniat mengadakan festival besar-besaran di kota ini.” 

“Ini wilayah kekuasaanku. Aku tidak akan membiarkanmu bertindak sesuka hati.” 

“Itulah sebabnya kami datang terlebih dahulu.” 

No Name sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kejengkelannya dan melepaskan kekuatan magisnya. Para anak buah di sekitarnya pun tampak gentar, tidak mampu bergerak...


Sepertinya memang tidak bisa menghindari pertarungan. 

“Kemampuan intelijenmu itu cukup merepotkan, Itu dapat menghalangi tujuan kami. Kamu adalah rintangan yang seharusnya disingkirkan terlebih dahulu.” 

“Kamu pikir bisa menang?” 

“Jika kamu bersedia untuk tutup mata, hal seperti ini pun sebenarnya tidak diperlukan.” 

“...Negosiasi gagal.” 

Begitu kata itu terucap, para anak buah yang bersembunyi di sekitarnya langsung menyerbuku secara bersamaan. 

Dari bayanganku, terpancar sebuah cahaya, lalu semuanya pun habis terbakar. 

“Hah?” 

“Wah wah... pengawal Nona Ortlinde memang luar biasa, ya.” 

“Roh, malaikat...? Tidak, ini berada di tingkatan yang lebih tinggi...” 

“Kalau tidak salah, Seraph? Sepertinya dua sosok sekaligus telah disiapkan sebagai pengawal.” 

“...Sebenarnya, siapa tuanmu itu?” 

“Yang terikat kontrak dengan kedua makhluk ini sebenarnya bukanlah tuanku... Namun, kamu juga tidak perlu tahu siapa beliau. Negosiasi sudah gagal.” 

“T-Tunggu...” 

“Selamat tinggal.” 

Tanpa sempat memberi perlawanan, No Name pun menghilang. Hanya jejak bakar yang tersisa. 

Seharusnya, dia adalah sosok kuat yang mustahil bisa kukalahkan. Dia seharusnya setara dengan perampok itu. Namun, kenyataannya begini. Rupanya bahkan di level peringkat S pun terdapat perbedaan yang sangat jauh... 

Ortlinde Marteno. Dewa Iblis Kara. Di antara Ordo Pahlawan, dua orang tersebut memang berada di tingkat yang berbeda. 

Menurut penilaianku, Larschalte Arlgan dan mayat yang pernah dipanggil “guru” itu kira-kira setara dengan No Name, atau sedikit lebih kuat. Jenderal Iblis Bertopeng itu pun kekuatannya kurang lebih di sekitar situ. 

“Tidak ada organisasi yang mampu menandingi kemampuan tempur mereka. Bahkan negara sekalipun.” 

Untuk menumbangkan Ordo Pahlawan, satu-satunya jalan hanyalah persatuan. Jika dunia tidak secara jelas mengakui mereka sebagai ancaman dan bersatu, mustahil untuk menang. 

Artinya, perang informasi adalah satu-satunya titik lemah. 

Dikarenakan ini adalah sebuah ujian, tugasku yaitu menyebarkan informasi agar mereka diakui sebagai ancaman. Namun, bukan sekarang waktunya. 

Setidaknya, ini cukup sampai ke telinga sang Pahlawan. Kini belum saatnya untuk memusuhi seluruh dunia. 

“Aku tidak ingin Tuan Sugiru mati.” 

Tidak akan ada perbedaan besar. Begitu dunia mengetahui insiden yang akan terjadi di kota ini, mereka akan mengakui Ordo Pahlawan sebagai ancaman. Hanya masalah waktu yang sedikit tertunda. 

Mereka pasti berniat mengumpulkan jasad Pahlawan Pertama dan membangkitkannya dengan otoritas milik Larschalte...

“...Apa rencana Tuan Sugiru benar-benar hanya sebatas itu?” 

Motif sesungguhnya tidak dapat kupahami. 

Namun, satu hal pasti, bagi sang Pahlawan, ini tidak akan membawa apa pun selain kemalangan. 

“Penghalang sudah disingkirkan. Kekhawatiran bahwa jasad Pahlawan Pertama akan disembunyikan pun telah lenyap. Tinggal melacak lokasinya saja.” 

Jika ucapan dari petualang yang bernama Nordi itu dapat dipercaya, jasad itu seharusnya berada di bawah tanah. 

Pada titik itu, aku mencurigai kemungkinan bahwa jasad tersebut berada di bawah kendali No Name. Dia unggul dalam mengumpulkan informasi dan jaringan relasi, dan jika dia memilih untuk melarikan diri, itu akan sangat merepotkan. 

Jika tujuan berupa jasad Pahlawan Pertama itu sampai terungkap, maka jasad itu takkan pernah bisa ditemukan lagi. 

“Oh? Sejak kapan percikan darah ini menempel...?” 

Sepertinya saat pertama kali aku mengubur pemuda itu, percikan darahnya menempel di pakaianku. Jika aku naik ke permukaan dengan keadaan seperti ini, mungkin aku akan segera dilaporkan. 

Tidak, jika dipikir-pikir, aku memang sudah diberikan topeng. Entah ada maksud tertentu atau tidak, tapi sesuai perintah, sebaiknya aku mengubah wajahku dan bertindak...


* * *


“Mandi, makan, tidur... Hal-hal yang dulu kuanggap biasa, sekarang terasa seperti keajaiban.” 

Aku berbaring di atas ranjang penginapan. 

Berbeda dengan saat aku tidak punya uang sepeser pun, sekarang aku memiliki uang yang diberikan oleh gadis cantik itu. Bahkan untuk mencari uang lewat Guild Petualang sekalipun, dibutuhkan sejumlah biaya sebagai ongkos perantara permintaan. 

Jika aku tidak bertemu gadis itu, mungkin aku benar-benar sudah mati terlantar. 

“Sudah waktunya pergi ke Guild Petualang.” 

Aku juga berhasil tidur nyenyak setelah sekian lama. Jadi, kondisi fisikku pun telah pulih. Aku punya modal awal, jadi aku akan bekerja dan mengembalikan uang itu kepadanya secara tunai. 

Kemudian, aku akan menyampaikan perasaanku ini. 

“Ah, sayangku.”

Aku telah bertemu dengan pasangan takdirku. Aku bahkan tidak tahu namanya, tetapi jika aku beraktivitas di kota ini, mungkin aku akan bertemu dengannya lagi. 

Aku keluar dari penginapan dan berjalan di tengah keramaian. 

“...?”

Aku merasakan tatapan. Bukan karena ketampananku. Ini lebih seperti deja vu. 

Tatapan itu, seperti menatap seorang yang mencurigakan. 

Di negeri ini, seharusnya aku belum masuk ke dalam daftar buronan. Lalu, kenapa aku dipandang seperti ini? 

“Dia di sana!” 

“Ciri-cirinya cocok. Namun, tidak ada darah percikan...?”

“Pasti dia ganti pakaian. Tangkap dia.” 

Pria-pria yang tampak seperti pasukan penjaga berkumpul dalam jumlah yang banyak. Sepertinya mereka berniat menangkapku. 

Aku sama sekali tidak paham... Apa yang sebenarnya telah kulakukan? 

“A-Aku bukanlah Pendekar Pedang yang jahat!” 

Aku mencoba membuat alasan seperti itu, tetapi para penjaga mengabaikannya dan langsung mencengkeramku. 

Kenapa bisa jadi begini? Padahal aku tidak melakukan hal buruk apa pun! 

“Ah.” 

“Ah.” 

Saat aku bermumpul dengan para penjaga, seorang gadis cantik yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya. 

Gadis yang memberiku uang itu, dia sedang menatap ke arahku. 

“T-Tidak!” 

“Diam dan jangan melawan! Kamu dicurigai telah membantai para kriminal bawah tanah!” 

Lenganku ditahan kuat oleh para penjaga. 

Gadis itu menatapku dengan wajah sangat kebingungan. Wajar saja. 

“A-Aku tidak bersalah! Sungguh, percayalah padaku!” 

“...”

Aku disalahpahami oleh gadis cantik yang kuanggap sebagai pasangan takdirku... Aku tidak mau perpisahan seperti ini. 

Kalau begitu, setidaknya...! 

“A-Aku mencintaimu! Aku suka padamu! Menikahlah denganku!” 

“...Maaf?” 

“Guh!” 

Dibandingkan hidup di kondisi ekstrem sebelumnya, yang ini memberikan kerusakan mental yang jauh lebih parah. 

Rasa putus asa mewarnai hatiku... Apa ketidakadilan seperti ini pantas dibiarkan!? 

Memang salahku menyatakan rasa cintaku di saat seperti ini, tapi kenapa aku harus diperlakukan seperti penjahat!? 

“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” 

Aku berlari sambil berteriak. 

Aku mematahkan cengkeraman para penjaga dengan kekuatan fisikku dan melarikan diri sekuat tenaga. 

Ini bukan karena aku takut ditangkap. Aku lari dari tempat itu karena syok telah ditolak. 

Berkat itu, kekuatan yang keluar bahkan lebih besar dari biasanya, dan aku berhasil kabur. 

“Kenapa harus aku!? Apa salahku, aaaaaaaaah!!” 

Aku sudah tidak tidak tahu lagi. Sebenarnya... apa yang salah? 

Aku menerobos kerumunan orang dan berlari sekuat tenaga. Jika ini mimpi buruk, tolong cepatlah berakhir. 

“Dia di sana!” 

“Kepung dia!” 

“Jangan biarkan dia lolos!” 

Para penjaga datang bukan hanya dari belakang, tapi juga dari depan, dalam jumlah banyak. Sepertinya ini sudah tidak mungkin lagi. 

Kenapa selalu aku... 

“Dunia sialan ini... AKU BENCI DUNIA INIIIII!!” 

Bersamaan dengan teriakanku, sebuah pedang satu tangan jatuh dari langit. Pedang itu menghujam tanah dengan dahsyat, menimbulkan gelombang kejut yang menyapu sekeliling. Tanahnya pun retak, kerusakannya tidak terbayangkan.

Aku, para penjaga, dan warga sipil, tidak ada satupun yang luput, semuanya terempas. 

“Aku menemukannya, calon yang cocok... Raih aku dengan tanganmu itu! Maka...”

“Kesempatan bagus untuk kabur.” 

“Hei! Aku bicara padamu! Kamu pasti mendengarnya... Kamu yang memiliki kecocokan pasti bisa mendengar suaraku! Bukannya kamu telah mengutuk dunia ini dengan sepenuh hati?” 

“Eh...?”

Aku mendengar suara dari pedang. Kupikir itu halusinasi pendengaran dan kuabaikan, tapi... pedang itu sedang berbicara kepadaku? 

Dengan ragu-ragu, aku mendekati pedang itu. 

“A-Aku?” 

“Benar, kamulah orangnya.” 

“Kenapa pedang bisa bicara!?” 

“Kalau orang bodoh sepertimu saja bisa berbicara, pedang yang berbicara pun bukan hal aneh.” 

“Oh, begitu. ...Eh? ...Hei.” 

“Orang yang baru saja ditolak seorang gadis lalu memanggilku, itu merupakan pertama kalinya. Sungguh Raja Iblis yang tidak ada tandingannya.” 

“Aku tidak ingat pernah memanggilmu.” 

“Pedang sihir ini beresonansi dengan kutukan murni yang kuat. Sudah 150 tahun sejak terakhir kali ada kecocokan.” 

“Aku sama sekali tidak bisa mengikuti obrolan ini...”

Para penjaga yang sempat pingsan mulai bangun. Gawat, kalau begini terus, aku bakal dikirim ke penjara. 

“Jika kamu menggenggamku, kamu akan mewarisi takhta Raja Iblis sejati.” 

“Hah?” 

“Orang biasa akan mati seketika saat menggenggamku, tapi kamu mungkin akan baik-baik saja.” 

“Hee... Aku lebih memilih untuk menolak...” 

Kepalaku rasanya mau pecah. Aku tidak bisa mencerna semua ini. 

Pedang yang bisa bicara, diperlakukan sebagai penjahat, ditolak oleh pasangan takdirku, tidak satupun hal ini yang masuk akal. Yah jika sudah ditolak, mau bagaimana lagi...

“Tanpa senjata, bisakah kamu lolos dari para penjaga ini? Mustahil, bukan? Terimalah aku.” 

“Dasar pedang yang sok berkuasa... Lebih baik kutinggalkan saja.” 

“A-Ah tunggu, maafkan aku. Aku keterlaluan. Sudah lama aku tidak memiliki lawan bicara, jadi aku terlalu bersemangat... Tolong maafkan aku.” 

“Tadi kamu bilang pedang sihir?” 

“Benar. Pedang sihir yang diwariskan turun-temurun oleh para Raja Iblis, itulah aku. Ngomong-ngomong, aku juga Raja Iblis pertama, tahu? Waktu masih hidup, aku super kuat.” 

“Jadi, itu semacam latar cerita?” 

“Ini bukan latar! Ini sungguhan!” 

Cerita tentang Raja Iblis pertama dan pewarisan itu terdengar seperti sesuatu yang belum pernah kudengar. Sejujurnya, lebih sulit untuk mempercayainya. Namun, kalau begini terus, tidak ada jalan bagi diriku. 

Lagipula, bukannya Raja Iblis seharusnya sudah dibunuh oleh sang Pahlawan? 

“Memangnya Raja Iblis generasi sekarang punya pedang?” 

“Hmm? Entahlah. Dia cuma Raja Iblis gadungan. Hanya mereka yang mewarisiku yang merupakan Raja Iblis sejati... Paling cuma gelar atau julukan saja.” 

“...Apa aku akan menjadi musuh umat manusia?” 

“Tidak juga.” 

“Hah? Bukannya aku akan menjadi Raja Iblis?” 

“Aku dulu akrab dengan manusia. Kecuali Pahlawan Pertama, aku membencinya. Setiap melihatku, dia langsung menyerang... Uh, menakutkan sekali.” 

“Bukannya wajar Pahlawan dan Raja Iblis bertarung?” 

“Dia menyerangku secara seksual.” 

“Eeh...” 

Sejujurnya, aku sudah malas berpikir. Lagipula, hidupku sudah hancur berantakan. Ya sudah, akan kugenggam saja. 

Tanpa ragu, aku menggenggam pedang sihir itu. 

“Cukup pas di tangan...” 

Tubuhku terasa ringan. Sihir dan semangat tempur mengalir di dalam diriku...

Mungkin ini kondisi terbaik dalam hidupku. Mulai sekarang, rasanya aku tidak akan kalah dari siapa pun. 

“Tapi tetap saja, aku ini...” 

Hidup yang dulu berjalan mulus entah kemana, tanpa kusadari berubah menjadi keadaan yang mengenaskan. Kehidupan neraka tanpa sedikit pun keindahan. Jika hidupku sudah hancur, maka akan kuhancurkan semuanya. 

Padahal aku hanya berbuat baik, tapi selalu diperlakukan sebagai penjahat. Dunia seperti itu pantas dihancurkan. 

Aku sudah menyatakan cinta, tapi tetap ditolak. Kalau begitu, pasangan-pasangan lain juga sebaiknya ikut musnah saja. 

“Ayo jatuh ke neraka bersamaku, rekanku.” 

“...Tiba-tiba saja akrab sekali. Kamu menyentuhku dan jadi mabuk kekuatan, ya.” 

Hidup yang hanya indah itu rapuh. 

Justru di dalam lumpur kehidupan yang seperti neraka inilah terdapat keindahan sejati. Aku akan terus meronta! 

“Tidak... Aku tidak mau...” 

Aku melepaskan seluruh kekuatan sihirku tanpa sisa. Tanpa ragu, aku melancarkan tebasan kepada para penjaga. 

Padahal seharusnya ini pertama kalinya aku menggunakannya, tapi aku bisa memperlakukan pedang sihir itu seperti tangan dan kakiku sendiri. Aku memahami bagaimana mekanismenya. 

“Aku tidak mau ditolaaaaaakkkk!!” 

Aku berteriak. 

Kata-kata yang dipenuhi kutukan murni itu memperbesar sihir dan semangat tempurku. Bahkan roh ilahi di kota itu, Seraph, mungkin bisa kukubur dengan satu serangan. 

Namun, aku tidak berniat membunuh para penjaga. Aku mengayunkan pedang dengan membayangkan gelombang kejut, bukan tebasan langsung. 

“A-hya-hya-hya-hya!” 

“Cara ketawamu menjijikkan.” 

Aku tertawa dengan tensi maksimum. Tidak ada lagi yang perlu kutakuti. Sekarang aku bebas. 

Para penjaga beterbangan. 

Warga sipil menjerit diterpa ledakan angin. 

Dan rekan pedang sihirku tampak menunjukkan ekspresi jijik. 

“Aku akan hidup dengan meledak-ledak! Mulai hari ini, aku adalah Raja Iblis!” 

Hal terindah di dunia ini adalah kebebasan. 

Artinya, saat ini akulah yang paling indah di dunia!


Post a Comment

Join the conversation