[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Epilog

[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Epilog

Translator: Chesky Aseka & Friends
Proofreader: Chesky Aseka

Epilog

Sejak dulu, dunia ini terasa tidak benar-benar menyatu denganku. 

Bukannya aku membencinya. Bahkan bisa dibilang aku cukup suka. Tapi tetap saja, rasa janggal itu tidak bisa dihapuskan. 

Aku kurang merasakan bahwa diriku benar-benar bagian dari dunia ini...


Suatu hari, aku menyadari bahwa aku telah bereinkarnasi. 

Di kehidupan sebelumnya sebagai orang Jepang, hidupku biasa-biasa saja, lalu mati dengan mudah karena kecelakaan. Sosok yang sangat tidak indah, itulah diriku yang dulu. 

Lalu orang seperti itu tiba-tiba sadar bahwa dirinya berada di dunia fantasi klise yang penuh dengan pedang dan sihir, mustahil rasanya bisa langsung beradaptasi. 

“Ini bukan soal kenyataan, mungkin lebih ke ‘rasa realitas’...?” 

Rasanya seperti tersesat di dalam sebuah buku. 

Tubuh orang lain, nama orang lain, latar dunia yang terasa usang dan sering dipakai.

Saat berbicara dengan penduduk dunia ini pun, aku tanpa sadar melihat mereka dengan pikiran seperti, oh, tipikal dialog ya, atau ini karakter figuran atau karakter utama? Aku tidak bisa membangun persahabatan yang benar-benar dari lubuk hati. 

Bahkan ketika orang tuaku di dunia ini meninggal, aku memang merasa sangat disayangkan, tapi sama sekali tidak merasakan kesedihan...

Rasanya seperti sebuah game dengan tujuan yang jelas pun tidak ada, syarat penyelesaian yang tidak diketahui, bahkan alur ceritanya pun kabur, tiba-tiba menyala sendiri, lalu hanya melemparkan kendali kepadaku. 

Menganggap ini sebagai kehidupan kedua dan langsung menemukan tujuan hidup? Itu bukan sesuatu yang masuk akal. Aku yang biasa-biasa saja ini hanya menjalani hari-hari dengan mengamati cerita yang datar dan membosankan, tanpa ikut terlibat, dari pinggir panggung. 


Sampai hari di mana aku bertemu dengan sang Pahlawan.


Melihat orang-orang diserang oleh bangsa iblis pun, perasaanku tetap sama, aku tidak merasakan apa-apa. Aku hanya berpikir, oh, mereka memang karakter yang mati di sini, lalu sedikit merasa kasihan. 

Bahkan diriku sendiri tidak terkecuali. Jika aku mati di sini, ya berarti aku hanya karakter figuran. Sambil merasa sedikit menyesal, saat itu aku menerimanya saja... 

Namun, saat pertama kali aku melihat seorang Pahlawan muda yang menyelamatkanku ketika aku diserang bangsa iblis, aku berpikir seperti ini. Bagi dirinya, ini bukanlah kehidupan kedua. Ini adalah kehidupan pertamanya sekaligus satu-satunya. Justru karena dia benar-benar nyata, tanpa kebohongan, maka dia tidak bisa menerima ketidakadilan di mana seseorang disakiti begitu saja. 

“Jika sudah tahu siapa tokoh utamanya, tentu saja aku akan mengejarnya. Itu karena aku ingin menikmatinya dari kursi penonton terbaik!” 

Sejak menemukan dirinya, rasa bosan pun menghilang. 

Rasa janggal karena aku bukan penduduk dunia ini juga bisa kututupi dengan empati terhadap dirinya. 

Dalam artian, aku merasa telah diselamatkan. 

“Sejak saat itu, setiap hari adalah kegiatan mengidolakan!” 

Agar bisa terus mengejarnya, aku mencari uang. Aku memanfaatkan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya, dan jujur saja, aku tidak terlalu memilih cara. 

Tentu saja aku tidak melakukan kejahatan. Jika tertangkap, aku tidak bisa mengejarnya lagi... 

Dengan terus mengikutinya seperti itu, duniaku yang tadinya hitam-putih mulai dipenuhi warna. Sekarang aku ingin tinggal di dunia ini lebih lama lagi. 

Karena dari itu, aku tidak ingin mati, dan aku sama sekali tidak berniat menerima kematian. 

“Bagaimana denganmu?” 

“Kurang lebih, aku pun sama... Aku mengejar Raja Iblis dan akhirnya berada di pasukan Raja Iblis.” 

“Haha, jadi Jenderal Iblis juga begitu ya.” 

Sambil menutup buku harianku, aku mengajukan pertanyaan itu pada Jenderal Iblis Bertopeng. 

Jenderal Iblis Bertopeng memegang minuman keras murahan di tangannya, sambil mengobrol santai denganku. Bagaimanapun juga, dia adalah rekan pertamaku, sekaligus orang yang mengetahui latar belakang ceritaku. 

Sekarang, hanya ada kamu berdua. 

Yang lain sedang melakukan persiapan, sementara Pak Tua dan Ortlinde pergi melakukan peninjauan lokasi. 

“Aku mengandalkanmu.” 

“Terima kasih, aku senang mendengarnya.” 

Keberadaan dungeon dan tempat tidur ini juga berkat bantuan Jenderal Iblis Bertopeng. 

Aku tidak tahu kapan status buronanku akan dicabut, tapi sampai saat itu, tempat ini adalah markas kami dan menjadi tempat pertama di dunia ini yang benar-benar bisa kuanggap rumah. 

“Akhir-akhir ini, dunia terlihat bersinar. Yah, semua ini juga berkat sang Pahlawan.” 

“Aku hanya akan mengikutimu Emo. Sama seperti dulu saat aku mengikuti Raja Iblis.” 

“Sungguh sebuah kehormatan.” 

Sambil meminum teh hitam, aku menikmati waktu santai ini. 

Ternyata aku masih bisa merasakan rasa kebersamaan dan kehangatan. Semua ini terjadi karena aku mengejar sang Pahlawan, karena dialah yang memberiku senyuman. 

“Oh?” 

“...Sepertinya, waktunya sudah tiba.” 

Itu adalah kabar dari Ortlinde dan Pak Tua. Pesannya tersampaikan lewat komunikasi telepati. Sepertinya, mereka sudah selesai melakukan peninjauan. 

Berita yang sangat patut disyukuri. 

“Bisa kamu panggil Dewa Iblis dan Larschalte ke sini?” 

“Siap.” 

Jenderal Iblis Bertopeng pergi memanggil dua orang yang berada di ruangan lain. 

Aku pun membayangkan event yang akan datang. 

Kami semua dari Tim Pendukung Pahlawan akan pergi berziarah ke makam Pahlawan Pertama, lalu mungkin bertemu langsung dengan sang Pahlawan. Dia pasti akan terharu dan menangis. 

Melihat dirinya yang seperti itu, aku pun bisa kembali merasakan kehangatan. 

Rasa janggal yang terus menempel pun bisa lenyap. 

“Indah sekali.” 

Aku menyukai kisah kepahlawanan. 

Aku menyukai cerita yang klise, yang terasa usang, dan benar-benar biasa saja. 

Yang menggerakkan hati manusia bukanlah episode murahan yang penuh trik, melainkan sosok yang menghadapi konflik yang pernah dipikirkan siapa pun setidaknya sekali dalam hidup, lalu berhasil melaluinya, itulah yang membuat orang bisa berempati. 

Kupikir sang Pahlawan adalah tipe pahlawan yang sangat biasa. Namun, dirinya yang hidup tepat di depan mataku adalah nyata, dan bagiku, dia adalah sosok yang tidak tergantikan. 

“Hai, persiapannya sudah selesai? Aku ingin menjadikan ini event yang meriah.” 

“...Sudah.” 

“Eee.” 

“Tentu saja. Pahlawan Pertama adalah buruanku.” 

Larschalte dan gurunya, dan Dewa Iblis Kara pun datang. 

Sekarang, semuanya sudah lengkap.

Dengan melewati pintu keluar yang disiapkan oleh Jenderal Iblis Bertopeng, kami semua menuju negara tetangga. 

“Dengan tangan kita sendiri, mari kita buat Pahlawan Pertama bersinar.”


Post a Comment

Join the conversation