[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Chapter 1

[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Chapter 1

Translator: Chesky Aseka & Friends
Proofreader: Chesky Aseka

CHAPTER 1 :Dalang itu Sungguh Menyelamatkan Hidup Seseorang...

“Aku tidak mau mati...”

Kematian merupakan hal yang setara. 

Manusia tidak bisa memilih lingkungan, tempat lahir, maupun bakatnya. Mereka yang bahkan tidak bisa memilih bagaimana hidup mati, orang-orang malang seperti itu ada di mana-mana. 

Aku ini jenius. Disebut sebagai anak ajaib, dan diberi harapan yang besar sebagai pengguna roh. Faktanya, pada usia 17 tahun, aku telah mencapai ranah yang setara dengan para elf yang hidup ratusan tahun. 

“Tidak... akhir seperti ini...”

Ini adalah kehidupan yang terlalu kejam. Aku pikir aku telah memilih cara hidupku, namun ternyata itu hanyalah ilusi. 

Aku beraktivitas di hutan dekat kota ini untuk mengumpulkan tumbuhan obat khusus, karena tumbuhan tersebut menjadi katalis dalam kontrak roh. Namun, akibat wabah penyakit yang menyebar di kota ini, kini aku berada dalam kondisi sekarat. 

Di atas ranjang terisolasi, di sebuah ruang rumah sakit yang kosong, aku hanya menunggu datangnya kematian... 

“Padahal, semuanya baru saja dimulai...”

Aku tidak terlahir dalam keadaan yang beruntung. Aku mengagumi para nona bangsawan, hingga meniru gaya bicaranya. 

Padahal hanya tinggal sedikit lagi, hanya sedikit lagi, bakatku seharusnya bisa diakui oleh dunia. Namun aku jatuh sakit dan mati di tengah jalan. 

Apa arti usaha yang kulakukan? Apa itu bakat? 

“Bahkan berdoa kepada Tuhan pun tidak diizinkan.” 

Katalis, lingkaran sihir, dan teori, semuanya telah sempurna. Ini adalah sihir tingkat tertinggi. Namun, kekuatan sihir tidak dapat lagi dihimpun. Kekuatan sihirnya sudah mengering, dan vitalitas hidup jauh dari kata cukup. 

Seandainya, seandainya saja masih tersisa kekuatan sihirku, mungkin aku dapat memanggil roh tingkat tinggi dan berharap pada sihir penyembuhan. Penyakit ini adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh umat manusia dengan ilmu kedokteran modern. 

“Berakhir tanpa pernah dimengerti oleh siapa pun...” 

Teori lingkaran sihir ini hanya dapat dipahami oleh diriku seorang di dunia ini. Dan juga satu-satunya manusia yang memiliki total kekuatan sihir yang cukup untuk mengaktifkannya, hanyalah aku. 

Artinya, semuanya menjadi tidak bermakna. 

“Baik Tuhan maupun pahlawan, semuanya tidak dibutuhkan.” 

Berdoa kepada Tuhan pun tidak pernah memberiku keselamatan. Sekalipun pahlawan menyelamatkan umat manusia, aku tetap tidak bahagia. Tidak, bahkan lebih buruk dari itu...

“Pahlawan hanyalah ilusi...” 

Ketika sang pahlawan menaklukkan naga yang hidup di sekitar kota ini, banyak orang terselamatkan. Itu terjadi setengah tahun yang lalu. Namun, bangkai naga tersebut membusuk dan menjadi sumber wabah penyakit. 

Tentu saja, jika naga itu tidak ditaklukkan, kerusakan yang ditimbulkan tidak akan dapat dibandingkan dengan wabah penyakit. Maka dari itu, sang pahlawan hanya melakukan hal yang benar. 

Akibatnya, akulah yang mati. Hanya itu saja. 

“Siapa pun tidak masalah. Tolonglah aku... siapa saja. Setidaknya, katakan bahwa semua ini ada artinya.” 

Bakat apa pun akan menjadi tidak bermakna bila seseorang mati. Usaha sebesar apa pun akan runtuh dengan mudah hanya oleh satu penyakit. Doa atau harapan apa pun tidak berdaya di hadapan kematian. 

“...?”

Aku tidak bisa bangkit untuk memastikan, tetapi seseorang datang. 

Aku merasakan kehadirannya. 

Padahal, demi menghindari risiko penularan, bahkan para dokter pun sudah tidak mendekat. Di saat seperti ini, siapa yang datang? 

“Halo, Nona. Aku akan mengganggumu sebentar.” 

“...Siapa kamu?” 

“Aku? Namaku Emo Sugiru. Seorang tokoh terkenal yang masuk ke daftar buronan.” 

“Oh, jadi kamu seorang kriminal... Tidak apa-apa. Aku merasa kesepian.”

Entah dia orang jahat atau bukan, aku tetap merasa senang. Karena aku dilahap oleh kesepian dan keputusasaan. Ada seseorang yang menemaniku di saat-saat terakhir saja sudah menjadi sebuah keselamatan. 

Aku tahu, pria ini tidak datang karena niat baik. 

“Di sini, sepertinya tidak ada yang akan mengejarku. Hidup sebagai buronan itu berat, ya... meskipun, dibandingkan dengan kehidupanmu di rumah sakit, mungkin itu tidak seberapa.” 

Pria yang aneh. 

Auranya tidak menunjukkan wibawa apa pun, namun sekali melihatnya, sulit untuk melupakannya. Seperti itulah sosoknya. 

Dari penampilannya, tidak ada satupun hal yang bisa dibayangkan. 

Tidak ada penjelasan apakah dia kaya atau kuat, tidak ada ciri khas yang dapat ditangkap. Datang ke sarang wabah penyakit hanya karena merasa tidak akan dikejar oleh siapa pun jelas merupakan tindakan yang tidak masuk akal. 

“Aku merasa telah diselamatkan.” 

“Hm? Benarkah? Dari sudut pandangku, kamu terlihat sedang sekarat.” 

“Ya... aku mungkin akan segera meninggal. Namun, hanya dengan adanya seseorang di saat-saat terakhir, itu sudah menjadi keselamatan.” 

“Haha, kamu cukup positif.” 

Ini terasa aneh. Dia sama sekali tidak terlihat bersimpati. Atau dia memang tidak peduli. Namun justru karena itu, aku merasa senang. 

Jika dia mau berbicara denganku sebagai sesama manusia hingga akhir, itu sudah cukup membahagiakan. 

“Aku tidak tahu penyakit apa yang kamu derita, tetapi konsep Tuhan itu sungguh tidak masuk akal. Lingkaran sihir itu, kamu yang menggambarnya, bukan? Itu sihir tingkat tinggi untuk memanggil serta mengikat roh ilahi, bukan roh biasa. Bahkan elf dalam tim pahlawan pun seharusnya pernah gagal melakukannya, tetapi kamu berhasil. Kamu memang jenius.” 

“Eh...?” 

Seseorang mengerti diriku? Apa benar ada orang yang mengerti nilai dari lingkaran sihir ini? 

Dengan mengerahkan sisa tenagaku, aku membentangkan lingkaran sihir itu di atas meja. Sesuatu yang mustahil dipahami oleh orang biasa. 

“Daripada percaya pada Tuhan, lebih baik mengabdikan diri pada seseorang yang secara khusus jauh lebih membahagiakan. Bahkan orang berbakat sepertimu bisa mati hanya karena penyakit, jadi dunia ini memang tidak masuk akal.” 

“Ah...” 

Rasanya, seluruh keberadaanku telah diakui. 

Rasanya, aku diberi tahu bahwa semua ini memang memiliki makna. 

“Aku suka kisah kepahlawanan. Aku menghormati orang-orang yang menunaikan tugasnya. Maka dari itu, aku mengamati perjalanan tim pahlawan. Dia hanyalah senjata, alat negara untuk membasmi Raja Iblis.” 

“Oh, padahal kamu menyukai pahlawan, tapi ucapanmu kejam sekali.” 

“Tidak juga. Justru bagian itu yang kusukai. Saat dipaksa memilih untuk menyelamatkan mayoritas umat manusia dengan mengorbankan segelintir orang, dia memilih mayoritas itu sambil menangis.” 

“...Ya, mungkin memang begitu.” 

“Kalau begitu, apa kamu memiliki suatu misi?” 

“Mungkin memang ada... tapi, semuanya sudah berakhir.” 

“Tidak juga. Maukah kau meminum ini?” 

“Baiklah...” 

Aku diberikan cairan yang aku sendiri tidak tahu apa itu. Aneh rasanya, tapi aku tidak merasa takut. 

Apa ini akan memberiku kematian yang tenang? 

Aku pun menuruti ucapannya, dan meminum cairan yang ada di dalam botol kecil itu.


* * *


“Sungguh... betapa menakjubkannya dirimu. Aku sudah memutuskan. Aku sudah memutuskannya!” 

Belum pernah aku merasa diselamatkan seperti ini. 

Belum pernah aku diperlakukan dengan kelembutan seperti ini. 

Belum pernah pula aku dimengerti sejauh ini. 

“Tuan Sugiru... Hehe, akan kupersembahkan kehidupan keduaku untuk dirinya!” 

Dia meremehkan balas budiku. 

Alasan dia mengatakan dirinya buronan, kemungkinan besar karena negara adalah musuhnya. Namun hal semacam itu bukanlah lawan bagi diriku yang kini telah menjadi sempurna...! 

“Baiklah, mari kita selesaikan kontraknya... aku merasa bersemangat.” 

Lingkaran sihir pun aktif. 

Sihir tingkat tinggi pun diaktifkan. 

“Padahal, berdoa kepada dewa pun aku tidak bisa, namun aku malah memanggil roh ilahi, sungguh ironis.” 

Lingkaran sihir ini berada pada tingkatan yang sama sekali berbeda. 

Kapasitas sihirku bahkan melampaui manusia, dan berada di ranah yang tidak dimiliki oleh kaum iblis manapun. 

Aku dengar kalau penyihir dalam tim pahlawan mencetak nilai tertinggi dalam pengukuran, namun kekuatanku bahkan tidak dapat diukur, karena perbedaannya terlalu jauh. 

Aku dengar kalau peri dalam tim pahlawan adalah seorang pengguna roh kelas satu. Namun, diriku berada satu tingkat lebih tinggi, aku ini seorang pengguna roh ilahi

“Tidak seorangpun dapat mengerti nilai diriku... baik secara teori, kekuatan sihir, maupun diriku sendiri.” 

Aku sangat jenius. 

Aku datang terlalu terlambat. 

Seharusnya aku mati tanpa pernah diketahui, tanpa pernah mencapai apa pun. 

“Heheh... saatnya telah tiba untuk mengubah sejarah! Ah, jantungku berdegup kencang!” 

Tidak terhitung jumlah dewa dan buddha penghancur yang turun ke dunia. 

Ini bukanlah lingkaran sihir yang hanya memanggil satu entitas. Tingkat dan jumlah yang dipanggil ditentukan oleh besarnya kekuatan sihir sang pengguna. 

Kekuatan sihir yang melampaui akal manusia, teori yang sempurna, serta mata sihir yang memungkinkan kendali mutlak. 

“Aku punya semua.” 

Yang tidak kupunya hanyalah umur panjang dan seorang yang mengerti diriku. Namun kini, semuanya telah kudapatkan. 

Dikarenakan pendengaranku melemah, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tetapi dalam organisasi bernama Ordo Pahlawan atau apa pun itu, aku pasti akan menjadi salah satu petinggi di sana. 

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun berdiri di sisi Tuan Sugiru!” 

Sebagai langkah awal, kota inilah yang akan menjadi sasaran. Dengan memanfaatkan pasukan roh ilahi yang tidak terhitung jumlahnya, akan kupenuhi tempat ini dengan keputusasaan dan kekacauan. 

Dengan begitu, hal ini akan menjadi ajang unjuk kekuatan bagi organisasi, Tuan Sugiru yang sedang masuk dalam daftar buronan juga akan lebih mudah melarikan diri. 

“Mari kita mulai kehidupan yang kedua! Heheeheh!” 

Aku tertawa. 

Ini bukanlah tawa yang hampa, ataupun tawa yang lahir dari keputusasaan.

Ini adalah tawa yang dipenuhi oleh harapan dan kebahagiaan. Karena pada saat inilah hidupku benar-benar dimulai dengan lantang dan penuh keyakinan.


Aku suka tidur. 

Aku suka dengan keheningan. 

Karena dari itu, aku membantai seluruh makhluk hidup hingga ke akar-akarnya. Pernah sekali aku membunuh tujuh puluh persen umat manusia. 

“Apa kamu berniat mengganggu tidurku? Melupakan ancaman sang dewa iblis seperti ini, arus zaman sungguh menakutkan...” 

Membunuh adalah tindakan yang mengirim lawan menuju tidur abadi dan keheningan. Kupikir, mereka pun pasti akan berbahagia karenanya. Dengan niat baik, aku membunuh, menghancurkan, dan memusnahkan. 

Yang pertama, tidak. Jika mempertimbangkan perbedaan zaman, seharusnya disebut pahlawan pertama. Bagaimanapun, aku disegel oleh pahlawan tersebut. 

“Dia yang bilang kalau aku ini jahat. Sungguh nostalgia.” 

Pahlawan pertama mengecam diriku. 

Katanya, aku ini pembunuh keji yang tidak seperti manusia, dan moralku adalah kejahatan. 

Mungkin itu memang benar. Biasanya, makhluk hidup tidak menginginkan kematian. Aku ini makhluk abadi yang suka tidur, sampai-sampai aku merasa iri pada mereka.

“Zaman ini tampaknya membosankan...” 

Hanya Pahlawan Pertama dan Raja Iblis yang menjadi hiburan bagiku. Mereka setara denganku. Itulah sebabnya aku mau mendengarkan kata-kata Pahlawan Pertama. 

“Mungkin sudah ribuan tahun berlalu sejak saat itu, tidak seorang pun dari zaman tersebut yang tersisa.” 

Entah mengapa, segel ini berusaha dilepaskan. 

Segel ini, meskipun tidak sempurna, merupakan jurus pamungkas yang dilepaskan sang Pahlawan dengan mengorbankan nyawanya. 

Segel seperti ini tidak mungkin terlepas secara alami hanya karena berlalunya waktu. Artinya, ini adalah perbuatan yang disengaja. Sebuah tantangan. 

“Demi menghormati Pahlawan yang telah tiada, akan kubiarkan zaman ini tidak binasa.” 

Siapa pun yang mencoba membuka segel ini adalah orang bodoh. Ini adalah bukti bahwa umat manusia tidak belajar apa pun.

Pahlawan telah mengorbankan nyawanya untuk menyegelku, dan mereka malah mencoba melepaskannya dengan tangan mereka sendiri, sungguh bodoh. 

Mereka pasti berniat memanfaatkan kekuatanku, tetapi pemahamannya dangkal. Aku ingin tahu orang seperti apa dia. Bahkan kata-kata yang akan diucapkan pun mudah kubayangkan. 

“Agar bahasa kita bisa saling dipahami, sebaiknya kupersiapkan terlebih dulu.” 

Tampaknya aku pun menjadi sedikit lebih lembut. 

Sudah ribuan tahun berlalu. Bahasa pasti berubah. 

Aku mempersiapkan diri dengan menggunakan sihir unik yang menggabungkan dunia dan jiwa, lalu beradaptasi dengannya. 

“Apa yang kamu inginkan...?”


* * *


Di tengah kehidupan pelarianku, tiba-tiba saja kotanya hancur. 

Saat ini aku sedang berada dalam status buronan dan menghabiskan hari-hariku dalam pelarian. Tidak, lebih tepatnya sekarang aku bukan melarikan diri dari pengejar manusia, melainkan dari para roh ilahi. 

Kejadian itu berlangsung sekitar satu jam yang lalu. Tiba-tiba, sejumlah monster yang tidak terhitung muncul di kota ini.

Semuanya terjadi dalam sekejap. Jika bukan karena Magic Item, aku pasti sudah mati. 

Monster yang kekuatannya setara dengan satu dari Empat Raja Surgawi pasukan Raja Iblis, muncul puluhan ekor dan menyerang kota ini. 

“Ini bukan lagi krisis negara, tapi krisis dunia, ‘kan?” 

Jika monster sebanyak ini bermunculan, bahkan pasukan Raja Iblis yang terorganisir rasanya masih lebih baik. 

Hanya tim pahlawan yang mungkin bisa menghentikannya. 

Tidak, dari sudut pandangku yang selama ini mengamati mereka sebagai penggemar, bahkan tim pahlawan pun pasti akan kewalahan. 

Situasinya benar-benar terasa seperti akhir dunia. 

“Jangan-jangan, semua orang melupakanku...!” 

Dalam kondisi seperti ini, tidak mungkin ada yang masih mengingat nama Emo Sugiru. Bagaimanapun juga, ini adalah krisis dunia. 

Satu-satunya hiburan bagiku adalah kenyataan bahwa tim pahlawan pasti akan datang ke kota ini. 

“Aku harus merekamnya dengan benar...” 

Sudah lama sekali aku bisa menyaksikan aksi tim pahlawan! Pada momen seperti inilah aku merasakan arti dari hidup! 

“Sebelum itu, aku harus melarikan diri.” 

Kota yang dipenuhi puing-puing tersebut berubah menjadi pemandangan neraka, dengan api yang berkobar di mana-mana. 

Saat aku mencoba menghindari api, tanah di bawah kakiku runtuh dan aku terjatuh ke bawah tanah. Saat ini, aku sedang terus berjalan maju menyusuri lorong yang remang-remang. 

“Di mana ini...”

Sebagai seorang penggemar, aku harus segera kembali ke permukaan. 

Setelah berjalan beberapa saat, aku menemukan sebuah prasasti batu tua. 

Mungkin elf dari tim pahlawan bisa membacanya, tapi sayangnya aku tidak mampu menguraikannya. 

“Oh, ini seperti penghalang, ya?” 

Apa ini jebakan penyegelan? 

Bangunan ini tampak sangat tua, jadi mungkin saja ada seseorang yang jatuh sepertiku dan secara kebetulan terkurung di sini. 

Kalau begitu, sekalian saja kutolong dan meminta dia menunjukkan jalan. Aku memang buruk dalam urusan arah. 

“Sedikit disayangkan, tapi sepertinya akan kugunakan.” 

Kunci Pelepasan. Sekitar setengah tahun yang lalu, sang pahlawan pernah disegel akibat siasat pasukan Raja Iblis, dan ada sebuah kisah dimana tim pahlawan mendapatkan kunci ini dan berhasil membebaskannya. 

Pada saat itu, pahlawan yang bangkit kembali terlihat sangat keren...! 

Dikarenakan benda itu hancur hanya dengan sekali pakai, benda tersebut sempat dibuang, namun aku memungutnya. Tentu saja itu sudah tidak bisa dipakai, jadi aku meminta seorang pandai besi terkenal untuk memperbaikinya. 

Episode pembebasan pahlawan sudah kurekam dengan baik, jadi yang kedua tidak diperlukan. Aku sudah bersiap agar hal yang sama tidak terjadi lagi, walau hanya kemungkinan kecil. Ini adalah usaha yang diperlukan sebagai seorang penggemar. 

Memang tidak sempurna dan fungsinya juga sudah menurun, tapi seharusnya masih bisa digunakan. 

“Sepertinya memang ada orang di dalam.” 

Sekalian saja, demi meminta petunjuk jalan, akan kuhancurkan penghalang ini. Semoga orang tersebut paham betul geografi di sekitar sini. 

“Hai, selamat pagi. ...Atau harus kukatakan selamat bebas?

“Siapa kamu...”

Penghalang tersebut sepertinya berhasil dihancurkan tanpa masalah. Dari dalam muncul seseorang yang tampak seperti kesatria berzirah merah. Wajahnya tidak terlihat. 

Aku langsung bertepuk tangan sambil tersenyum lembut kepadanya. Pasti dia merasa sangat kesepian. 

“Bagaimana rasanya setelah terbangun?” 

“Jawab pertanyaanku, wahai manusia.” 

“Aku? Namaku Emo Sugiru. Hanya orang biasa yang tersesat di jalan.” 

“Kamu berniat memanfaatkan kekuatanku? Manusia rendahan sepertimu, berani-beraninya padaku.” 

“Itu benar. Aku ingin minta tolong kepadamu untuk menjadi penunjuk jalan.” 

“Hah...?” 

Kenapa ya? 

Pak kesatria terlihat bengong. Padahal aku tidak mengatakan hal yang aneh sama sekali. 

“Kita sama-sama sial bisa terjebak di tempat seperti ini. Bagaimana kalau kita naik ke permukaan bersama?” 

“...Begitu rupanya.” 

“Hehe, aku senang kamu bisa paham.” 

Kesatria itu menatapku dengan ekspresi seolah sudah mengerti segalanya. 

Syukurlah, tidak terjadi kesalahpahaman. Akhir-akhir ini aku sering disalahartikan, jadi cukup merepotkan...

“Ini adalah penjara besar bawah tanah Aramesia... Sarang makhluk-makhluk terkutuk yang disegel oleh Pahlawan Pertama. Jadi kamu juga berada di posisi yang sama denganku. Menarik... baiklah, aku akan memandumu.” 

“...? Syukurlah, kita sesama rekan dengan nasib yang sama.” 

“Benar. Rupanya bukan cuma aku.” 

Sepertinya kesatria ini cukup paham soal geografi dan sejarah daerah sekitar. Jujur, itu sangat melegakan. 

Dia juga mengatakan ‘posisi yang sama’, jadi kemungkinan besar dia juga jatuh dari permukaan dan tanpa sengaja terjebak di dalam segel. Entah kenapa, aku jadi merasa dekat dengannya. 

“...Ada apa ini?” 

“Kenapa memangnya?” 

“Hei, manusia. Apa yang terjadi di permukaan? Tidak, apa yang sebenarnya terjadi di zaman ini...?”

Entah kenapa, kesatria itu menatap ke atas sambil berkeringat dingin. Sebenarnya wajahnya tertutup zirah, tapi suasananya terasa seperti itu. 

Apa dia sedang menghitung noda di langit-langit? 

Aku sangat mengerti perasaannya. Pasti dia ingin lari dari kenyataan. Terjatuh tanpa sengaja lalu terperangkap ke dalam penghalang, itu pasti sangat memalukan. 

“Ngomong-ngomong, Ortlinde aman tidak ya... anak itu juga kurang beruntung.” 

Ortlinde Marteno. Setelah susah payah sembuh dari penyakit, tepat setelah itu para roh ilahi mulai mengamuk. Sungguh anak yang benar-benar sial. 

Kalau bisa, semoga dia masih hidup. Kuharap dia bisa hidup ceria sebagai bagian dari Tim Pendukung Pahlawan. 

“...Sepertinya aku juga terlalu sombong. Zaman ini benar-benar mengerikan.” 

“Ketimbang disebut zaman, lebih tepatnya situasi kita yang gila.” 

“Begitukah? Manusia, aku merasakan ketenangan dari dirimu. Menghadapiku dengan sikap seperti itu... bahkan Raja Iblis pun pernah menunjukkan rasa hormat.” 

“Raja Iblis...? Oh, maksudmu properti panggung untuk pahlawan, ya. Dia berperan dengan sangat bagus.”

“Hmph, menyebut Raja Iblis sebagai properti panggung... sungguh keterlaluan...” 

Raja Iblis di zaman ini memang kuat, tapi dia sombong. 

Begitu lengah, dia ditaklukkan oleh tim pahlawan. Aku memang bersyukur bisa merekam aksi sang pahlawan dengan cukup memuaskan, tapi sejujurnya aku berharap dia bisa bertahan sedikit lebih lama. 

Meski begitu, karena senang, aku sampai bertepuk tangan, hingga menjadi seperti itu...

“Aku ini Dewa Iblis, hanya sedikit makhluk yang pernah setara denganku... hei manusia, kamu ini aneh. Dari dirimu, aku tidak merasakan apa pun. Sampai-sampai aku sendiri bisa merasakan perbedaan yang terpisah sejauh ini, kamu benar-benar sosok yang patut diacungi jempol.” 

“Ironis ya... sebaiknya kita tidak saling mengorek terlalu dalam. Aku sedikit malu.” 

“Benar juga.” 

Wajar jika ada jurang kekuatan antara aku dengannya. Karena aku tidak bisa menggunakan sihir maupun teknik bela diri. Kesatria itu tiba-tiba menyindirku, jadi aku memintanya untuk berhenti. 

Lagipula, dia sendiri ceroboh hingga terjatuh. Bahkan sampai terjebak ke dalam penghalang, bukannya itu lebih memalukan daripada aku...?

“Seberapa kuat pun, tetap saja aku adalah sosok yang pernah disegel oleh pahlawan...”

Kesatria itu bergumam pelan. 

Seakan-akan berbicara pada diri sendiri, aku tidak bisa mendengarnya... mungkin dia merasa malu. 

“Oh, ini lingkaran sihir teleportasi?” 

“Ya, sepertinya begitu.” 

Saat berjalan, kami menemukan sesuatu yang mirip lingkaran sihir yang mengarah ke permukaan. Akhirnya, kita bisa kembali ke atas. 

“Setelah kembali ke permukaan, apa rencanamu?” 

“Di zaman ini, sepertinya dipenuhi dengan orang-orang yang setara denganku. Terutama, mengikutimu sepertinya akan menarik. Jika seorang Dewa Iblis sepertiku mengikutimu, kamu tidak keberatan?” 

“Kamu tidak perlu mengikutiku. Kamu sudah bebas. Mari kita berjalan bersama sebagai rekan yang setara.” 

“Hmph, orang aneh.” 

Dibandingkan kesatria itu, menurutku aku masih lebih normal. Aku cuma mengajaknya kabur sambil berjalan bersama setelah sampai di permukaan. Tetapi dia menafsirkannya secara berlebihan... 

“Baiklah, waktunya jalan-jalan. Kamu sudah siap?” 

“Kamu bilang namamu Emo Sugiru, ya? Kamu bicara pada siapa? Kamu pikir aku ini siapa?” 

“Apa itu pertanyaan konyol?” 

“Dasar...” 

Ketimbang jalan-jalan, lebih tepatnya kehidupan pelarianku dimulai lagi. 

Aku baru sadar belum menanyakan nama kesatria itu. Marah-marah tanpa memperkenalkan diri itu tidak bagus, tapi aku juga tidak terlalu tertarik, jadi ya sudahlah...


“Benar-benar pertanyaan yang bodoh. Dibandingkan dengan kedatangan tim pahlawan, itu hanyalah perkara sepele.” 

Memikirkan bahwa aku bisa kembali merekam aksi sang pahlawan membuatku bahagia. Darah seorang penggemar sepertiku bergejolak! 

Demi melanjutkan kegiatan mengidolakan dan pelarian, kami pun kembali ke permukaan.


* * *


Tiba-tiba saja, aku sadar bahwa aku membenci Raja Iblis. 

Dia memang tampak seperti seorang pasifis yang peduli pada rekan-rekannya, namun dia sama sekali tidak menunjukkan belas kasih kepada umat manusia. Terlebih lagi, karena kekuatannya yang berlebihan, dia memiliki sifat angkuh dan mudah lengah. 

Sampai di titik itu, sebenarnya tidak masalah. Berkat dirinya, aku dapat merekam perjuangan tim pahlawan, sehingga membuatku merasa berterima kasih. 

Masalahnya hanya satu, dia meremehkan sang pahlawan. Itu saja sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman mati berkali-kali. 

“Menghina sosok yang dikagumi di hadapan para penggemarnya, itu benar-benar suatu kebodohan.” 

Ya, pada akhirnya memang sesederhana itu. 

Sejak saat itu, sekalipun Raja Iblis memiliki masa lalu yang tragis atau alasan untuk bertarung, aku tidak mungkin menyukainya. Ditambah lagi, karena saking membencinya, aku tanpa sadar bertepuk tangan saat dia dikalahkan...

“Apa benar Raja Iblis di zaman ini benar-benar menghina sang pahlawan?” 

Seorang pria yang tampak seperti kesatria, diselimuti zirah merah. Kami bertemu di bawah tanah dan kini kita berjalan bersama. 

Kesatria itulah yang melontarkan pertanyaan tersebut. 

“Ya. Dia menyebutnya remeh dan tidak berarti. Namun, menurutku, sejak dia berpura-pura sebagai yang terkuat, justru Raja Iblis itulah yang sebenarnya yang terlihat lemah dan picik...”

“Heh. tidak diragukan lagi. Seseorang yang benar-benar kuat tidak perlu berkoar-koar tentang kekuatannya sendiri.” 

“Meski begitu, di hadapan Tuan Jenderal Iblis, aku tidak berniat menjelekkan Raja Iblis.” 

“Apa maksudmu...?”

Aku tahu bahwa sosok yang dikagumi oleh Jenderal Iblis Bertopeng adalah Raja Iblis. Maka dari itu, di hadapannya aku tidak akan menghina Raja Iblis. 

Meskipun tidak dapat mengerti, menghina sosok yang dikagumi orang lain adalah tindakan paling rendah. 

“Dia adalah mantan perwira tinggi pasukan Raja Iblis yang dikenal sebagai Jenderal Iblis Bertopeng.” 

“Oh begitu...” 

“Katanya dia akan membentuk organisasi bernama Tim Pendukung Pahlawan. Bagaimana kalau kamu ikut bergabung?” 

“Omong kosong... sebentar, orang itu bawahanmu?” 

“Bukan bawahan. Aku hanya menerimanya sebagai seorang teman.” 

“Hm, begitu rupanya...”

Kesatria itu pandai menanggapi pembicaraan. Tanpa sadar, aku pun terus melanjutkan percakapan. 

Entah bisa dibilang kekanak-kanakan atau tidak, tapi dia mendengarkan ceritaku dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Bahkan untuk hal-hal yang cukup umum, dia terlihat puas seolah baru saja mendapatkan informasi penting. 

Di dalam pikiranku, tingkat kesukaanku pada kesatria ini langsung melonjak drastis. Membahas soal idola itu memang menyenangkan. Aku sangat berterima kasih padanya. 

“Para roh ilahi ini... apakah mereka memang sesuatu yang kamu inginkan? Karena ini menggangguku, bolehkah kubunuh saja?” 

“Entahlah... Aku tidak masalah jika kamu membunuhnya.” 

Sepertinya kesatria itu akan membereskan para roh ilahi sambil membuka jalan ke depan. 

Aku memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Dengan begini, keamananku terjamin, untuk sementara aku bisa bernapas lega! 

Situasi ini sebenarnya bukan sesuatu yang sejak awal kuinginkan. Namun karena hasilnya menguntungkan, bisa dibilang ini juga termasuk keinginanku. Lagipula, kami bisa keluar dari kota. 

“Hm... jadi kamu bukan pengguna sihirnya, ya? Kalau begitu, kita bahkan tidak bisa berjalan santai.” 

“Iya, kamu benar.” 

“Cara terbaik menghadapi pemanggil roh adalah menghantam langsung sang penggunanya. Ya, dalam kasus ini, kurasa lebih tepat disebut pemanggil roh ilahi...” 

“...Siapa tadi, Ortlinde ya?” 

Dari cara bicara kesatria tersebut, sepertinya para roh ilahi ini sengaja dipanggil oleh seseorang. Nama yang langsung terlintas di pikiranku adalah Ortlinde Marteno. 

Lingkaran sihir itu... jangan-jangan merupakan alat untuk memanggil roh ilahi? 

“Kamu mengenal sang pemanggil?” 

“Entahlah... tapi jika itu merupakan seorang gadis bernama Ortlinde, tolong jangan dibunuh.” 

“Hm, jadi kamu sendiri juga tidak begitu yakin. Baiklah, aku sih masih bisa menahan diri.” 

Mengatakan “menahan diri” terhadap makhluk yang mampu memanggil puluhan monster yang bahkan menyaingi Empat Raja Surgawi Raja Iblis... Orang ini sebenarnya sekuat apa? 

Bahkan bagi tim pahlawan, seharusnya itu merupakan ancaman yang tidak memberi ruang untuk lengah sedikit pun...

“Kalau begitu.” 

“Eh...?”

“Aku akan pergi mengalahkan sang pemanggil. Emo Sugiru atau siapa pun namamu, kamu juga memiliki tujuan sendiri, bukan? Mulai dari sini, kita berpisah.” 

“Tunggu...” 

Sebelum sempat kudengar jawabanku sendiri, kesatria itu sudah melesat pergi dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa kulihat. 

Padahal perlengkapannya terlihat begitu berat, bagaimana caranya dia bisa bergerak seperti itu... Mungkin dia memang orang yang luar biasa. 

“Eh, pengawalku pergi ke mana...?”

Aku ditinggalkan sendirian di tengah pemandangan neraka seperti ini. Untuk sementara, lebih baik aku bersembunyi saja. 

Kesatria itu pasti akan menghentikan orang yang memanggil roh-roh ilahi tersebut. Setelah itu, mungkin akan aman jika bisa keluar dari kota dengan perlahan. 

“...Tidak, lebih baik aku mencari tim pahlawan. Ini kesempatan bagus untuk merekam aksi mereka, bukan?” 

Jika ada pemandangan di mana orang-orang tidak berdosa mati berguguran, tim pahlawan pasti akan datang. Karena mereka adalah pahlawan. Mereka adalah pelindung umat manusia. 

“Setelah kejadian ini, sepertinya aku tidak perlu khawatir akan dikejar lagi.” 

Ini adalah insiden besar berskala nasional. 

Tidak mungkin mereka masih mempedulikan satu orang buronan saja. Lagipula ini tidak ada hubungannya denganku, dan seiring waktu, aku pasti akan dilupakan. 

“Meski begitu, dilupakan oleh pahlawan itu sedikit terasa menyedihkan.” 

Sebagai penggemar, diakui olehnya itu terasa menyenangkan. 

Tentu saja, kalau saja tidak ada embel-embel buronan dan hukuman mati. Setelah menyaksikan ancaman sebesar ini, tidak mungkin mereka sempat memikirkanku. 

“Oh ya, ngomong-ngomong, ke mana ya tuan Jenderal Iblis? Semoga dia baik-baik saja... Sekalian saja aku mencarinya.” 

Aku berjalan untuk mencari tim pahlawan dan tuan Jenderal Iblis. 

Karena sudah cukup lama aku tidak bisa bebas melakukan aktivitas mengidolakan, aku jadi tidak sadar melompat-lompat kecil. Tidak perlu khawatir dilihat oleh orang lain, mari maju dengan gembira. 

“Ah...” 

Saat sedang melompat, tepat di depan mataku ada roh ilahi. 

Wujudnya seperti malaikat, dengan enam sayap tumbuh dari punggungnya, entah boneka atau perempuan. 

Dia telanjang bulat, seluruh matanya putih, itu agak menyeramkan. Kalau dianggap sedang memasang wajah aneh, mungkin akan terlihat lucu. 

Apa dia dewa hiburan? Apa sebaiknya aku mendekat sambil bertepuk tangan? 

“Sial, lari! Kamu bisa mati!” 

“Itu benar! Cepat lari!” 

Beberapa pria paruh baya berpenampilan kasar berteriak ke arahku. 

Dilihat dari tampangnya, mereka mungkin kriminal sepertiku. Tidak, aku ini hanya korban fitnah. 

“Tunggu, bukannya dia Emo Sugiru?” 

“Buronan yang sedang dicari itu...” 

Dalam situasi darurat seperti ini, ketahuan pun tidak masalah. Bagaimanapun juga, aku akan kabur dari kota ini. 

Untuk saat ini, si ‘dewa hiburan’ itu hanya menatapku, dia tidak menyerang atau melakukan apa pun. 

“Hai, dengan penampilan seperti itu, kamu tidak kedinginan?” 

“Emo Sugiru, target perlindungan yang ditentukan oleh pihak kontraktor telah dikonfirmasi. Memulai pengawasan.” 

“Eh?” 

Seorang gadis telanjang bulat yang terlihat seperti roh ilahi, dengan mata memutih, mengatakan untuk mengawasiku. 

Situasi ini terlalu tiba-tiba, sampai-sampai otakku tidak bisa mengikutinya... 

Saat aku mundur perlahan, ‘dewa hiburan’ tersebut mendekatiku. 

“Kenapa kamu mengikutiku?” 

“Karena kamu adalah target perlindungan yang ditentukan oleh kontraktor.” 

“Tidak, dengar ya... kalau aku berjalan sambil membawa gadis telanjang bermata putih, aku bakal dianggap sebagai orang mesum, tahu. Tolonglah...”

Saat aku berjalan, dia mengikutiku dari belakang dengan perlahan. 

Entah gadis ini benar-benar roh ilahi atau bukan, ini semakin mencurigakan... Mungkin dia cuma orang aneh. 

Para pria paruh baya itu juga terpaku melihat pemandangan tersebut. Aku paham perasaan mereka, karena aku juga berpikir demikian. 

“Oh, benar. Dalam situasi seperti ini, lebih baik aku memakai topeng. Aku akan mengganti wajah menjadi pria tampan seperti sebelumnya.” 

Aku mengubah wajahku menjadi wajah pria tampan yang sebelumnya sempat berpapasan denganku. 

Topeng ini memang praktis. 

“Dengan begini, aku bisa jalan dengan tenang. Lagipula, di situasi seperti ini, pria tampan ini pasti sudah mati, jadi tidak masalah, bukan?” 

Aku pun kembali berjalan sambil melompat-lompat kecil.


* * *


Di dunia ini, “penyihir” dan “pemanggil roh” itu berbeda. Penyihir mengasah kekuatannya sendiri, sementara pemanggil roh menguasai kekuatan di luar dirinya. Keduanya sama-sama menggunakan sihir dan membutuhkan pengetahuan tentang lingkaran sihir. 

“Aku ini pengecualian dalam sejarah umat manusia, bukan? Karena aku satu-satunya ‘pemanggil roh ilahi’.” 

Sejak lahir, setiap manusia sudah ditentukan kecocokannya. 

Pada dasarnya, organ yang disebut sirkuit sihir hanya ada satu. Dalam satu sirkuit sihir, hanya satu atribut yang bisa dimiliki, itulah batas umat manusia. Maka dari itu, jalan hidup seorang penyihir adalah mengasah satu atribut tersebut sepanjang hidupnya. 

Lalu, bagaimana dengan pemanggil roh? 

Mereka sama sekali tidak menggunakan atribut milik sendiri, dan hanya memakai sirkuit sihir sebagai jalur kontrak dengan roh. Sebagai gantinya, mereka meninggalkan atribut bawaan dan meminjam atribut serta sihir dari roh yang dikontrak. 

“Entah itu mendalami sesuatu yang mutlak, atau mengejar keserbagunaan.” 

Mempelajari interpretasi sihir atribut dan mengembangkan sirkuit sihir, itulah usaha seorang penyihir. 

Mempelajari lingkaran sihir dan memanggil serta mengontrak roh tingkat tinggi, itulah usaha seorang pemanggil roh. 

“Pendekatannya berbeda. Aku telah menguasai keduanya. Padahal aku memiliki bakat sebesar ini, tapi selain Tuan Sugiru, tidak seorang pun mengakui nilainya.” 

Bagiku, itu bahkan bukan sebuah pilihan. Keduanya bisa kucapai dengan wajar, tanpa pernah merasakan perbedaan di antaranya. Aku serba bisa, sekaligus merupakan satu yang tertinggi. 

Dalam konsep bernama sihir, aku bisa menyatakan dengan yakin bahwa tidak ada bakat yang bisa melampauiku. 

“Aku memiliki bakat untuk membunuh Raja Iblis dalam hitungan detik, namun justru tidak bisa mengalahkan penyakit, sungguh ironis sampai terdengar seperti lelucon... Meski begitu, teori itu baru saja selesai tepat menjelang kematianku.” 

Bahkan hanya dari sisi sebagai penyihir saja, aku sudah melampaui Raja Iblis. Sebagai pemanggil roh pun, sejak dulu aku sudah luar biasa. 

Hanya saja, teori lingkaran sihir untuk memanggil roh ilahi benar-benar baru selesai belum lama ini. 

“Ini adalah takdir.” 

Padahal dia sudah menyelamatkan bakat sebesar ini, namun Tuan Sugiru tidak meminta apa pun. 

Baginya itu hanyalah keisengan, sekadar belas kasihan yang diberikan pada orang yang kebetulan ditemuinya. Bahkan tidak berniat memanfaatkanku. 

“Ara ara, cepat sekali sampainya, ya?” 

“Jadi kamu... kamu yang membuat kota ini jadi berantakan...! Tidak akan kumaafkan!” 

Tim pahlawan telah tiba. 

Sindiran dariku membuat sang pahlawan memasang wajah seperti menelan sesuatu yang pahit. Jika dipikir secara normal, mereka memang datang dengan cepat, namun semuanya sudah terlambat. 

Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Kota ini telah musnah dalam arti yang sesungguhnya. 

“Pahlawan yang tidak bisa menyelamatkan siapa pun hanyalah senjata cacat.” 

“Apa katamu...!?” 

“Tarik kembali ucapanmu!” 

“Itu benar! Kami telah menyelamatkan umat manusia! Kami telah mengalahkan Raja Iblis!” 

Tiga anggota tim pahlawan itu marah. 

Seorang pendeta pria berbadan besar, gadis penyihir, elf pemanggil roh, mereka merupakan para pahlawan yang telah menyelamatkan umat manusia. 

“Heheh, tapi tapi, sangat disayangkan, kota ini ‘kan sudah...”

“Kurang ajar...!”

Bahkan, hanya dengan mencapai tempat ini saja sudah bisa disebut prestasi besar. 

64 roh ilahi telah dipanggil dan sedang menginjak-injak kota. Fakta bahwa mereka bisa tiba di hadapanku dalam waktu sesingkat ini membuktikan bahwa mereka memang kuat. 

Namun, meski mereka kuat, meski mereka adalah senjata, meski mereka adalah pahlawan, mereka tetap tidak mampu menyelamatkan orang-orang di kota ini. 

“Kalian itu ‘kan pahlawan, ya? Kalian hanya menyelamatkan umat manusia sebagai sebuah spesies. Kalian tidak akan pernah dan tidak akan mampu menyelamatkan seorang individu sepertiku.” 

Seorang pahlawan tidak bisa menghabiskan waktu hanya untuk menyelamatkan segelintir orang. Jika ada pilihan, mereka akan dipaksa untuk menyelamatkan jumlah yang lebih banyak, itulah keberadaan yang disebut “pahlawan”. 

Bahkan jika sama-sama “sedikit”, nilai sebuah nyawa tidaklah setara. 

Coba bandingkan nyawa seorang raja atau bangsawan dengan rakyat jelata, maka nyawa rakyat jelata tak lebih dari sampah. Kenapa? Karena nyawa yang “bernilai” adalah mereka yang bisa memimpin dan menyelamatkan banyak orang. 

“Kalian paham, bukan? Aku tebak alasan keterlambatan kalian... bukannya karena kalian diperintahkan untuk tetap tinggal di ibu kota kerajaan?” 

“Bagaimana kamu tahu...?”

Sang pahlawan tampak goyah. Reaksi yang cukup menggemaskan. 

Usianya mungkin tak jauh berbeda denganku. Bakat yang masih muda, sebuah senjata, seorang pahlawan.

“Kalian tahu? Berkat bangkai naga yang kalian bunuh, wabah penyakit menyebar, dan sejak awal kota ini sudah berada dalam keputusasaan. Kalian yang sibuk berlatih di dungeon berlevel tinggi... wajar saja sampai tidak terpikir soal pengurusan bangkai.” 

“Tidak mungkin...!” 

“Aku pun seharusnya mati. Kalau saja tidak diselamatkan oleh Tuan Sugiru.” 

Sambil tertawa, aku menceritakan keberadaan Tuan Sugiru. 

Berbanding terbalik dengan ekspresiku, wajah sang pahlawan semakin muram... Namun, dia pasti tidak akan mempercayai ucapanku. Karena baginya, aku adalah orang jahat. 

“Kamu menganggapku jahat, bukan?” 

“Itu sudah jelas.” 

“Aku tidak menyangkalnya... tapi justru karena kejahatan itulah, terkadang keselamatan bisa tercipta, tahu?” 

Ada istilah yang disebut euthanasia. 

Ada orang-orang yang hidup sambil berpikir bahwa mati itu jauh lebih baik. 

Contohnya penyakit. 

Keputusasaan karena tidak bisa bergerak, hanya menunggu kematian, pahlawan tidak akan pernah memahami hal itu. Di kota ini, keputusasaan semacam itu ada di mana-mana. Pahlawan tidak akan mampu membayangkan orang-orang yang justru diselamatkan dengan dibunuh.

“Segelintir orang yang tidak bisa diselamatkan oleh para pahlawan, akulah yang menyelamatkan mereka.” 

“Kamu gila...! Di mana letak keselamatan itu!?” 

Sang pahlawan berteriak. 

Bakat yang melimpah, rekan-rekan yang solid, misi yang diagungkan. 

Dia tidak mampu mengerti perasaan dan rasa sakit dari segelintir orang yang harus dikorbankan. Itu Karena dia kuat, karena dia adalah pahlawan. 

“Kamu yang membunuh kaum iblis demi menyelamatkan umat manusia. Dan aku membunuh orang sakit demi menyelamatkan mereka. Apa bedanya? Bukannya keduanya sama-sama diselesaikan lewat kekerasan?” 

“Jelas berbeda! Itu hanya tindakanmu secara sepihak! Aku menjalankan misi yang diberikan, dan mewujudkan harapan. Sedangkan kamu hanyalah kepuasan diri sendiri!” 

“Wah, berat sekali ya menjadi senjata cacat yang hanya bisa menyelamatkan jika diperintah? Heh, yang menyelamatkan itu sebenarnya hanyalah pihak yang memberimu perintah, tugasmu hanyalah membunuh, bukan?” 

“A-Apa...”

Kekuatan yang tidak digerakkan oleh kehendak sendiri lebih buruk daripada kekerasan. 

Mengabaikan mereka yang gagal diselamatkan dengan alasan “itu bukan kehendakku”. Pada akhirnya, pahlawan hanyalah senjata belaka. 

Sosok bernama Emo Sugiru, yang menyelamatkanku dengan kehendaknya sendiri dan berkata agar aku hidup bebas, sosoknya seperti sebuah cermin. Dia berada di kutub yang sepenuhnya berlawanan dengan sang pahlawan. 

“Ordo Pahlawan.” 

“A-Apa...?” 

“Ini adalah organisasi yang dibentuk atas ajakan Tuan Sugiru. Seleksi para pahlawan, mungkin sebuah organisasi untuk mengajukan pertanyaan kepada senjata sepertimu. Apa kamu benar-benar layak disebut pahlawan sejati.” 

“Lagi-lagi... Emo Sugiru! Apa sebenarnya yang dia lakukan di kota ini!?” 

“Entahlah... Beliau tidak memberitahukannya padaku. Karena itu, aku harus membuktikan bahwa aku bisa berguna. Tentu saja dengan mengalahkan kalian.” 

Sang pahlawan mencabut Pedang Suci-nya dari pinggang. 

Pedang Suci Arleria, berukuran seperti pedang satu tangan, berwarna putih murni. Harta nasional khusus yang hanya bisa digunakan oleh pemilik sirkuit sihir atribut cahaya. 

Konon, hanya dengan menggenggamnya, kemampuan fisik akan meningkat hingga tiga kali lipat kekuatan ras iblis. 

“Tiga orang di belakangmu itu mengganggu.” 

“...!”

“Tidak mungkin...” 

“Mustahil...” 

Aku melepaskan kekuatan sihirku, dan dengan satu tangan menggambar lingkaran sihir di udara. 

Yang akan kulepaskan sekarang adalah jurus pamungkas seorang penyihir. 

Bagi tim pahlawan yang mengira aku hanyalah pengguna roh ilahi, fakta bahwa sang pemanggil roh sendiri bisa bertarung pasti sulit dipercaya.


“Sign - Pusaran Penghancur.”

Sihir Konstruksi, puncak tertinggi yang bisa dicapai seorang penyihir. 

Sihir ini mewujudkan hukum pribadi milik sang pengguna ke dalam suatu ruang tertentu. Tanpa evolusi sirkuit sihir hingga batas ekstrem, tubuh tidak akan sanggup menahannya dan akan terbakar habis. 

Bagi penyihir biasa, hanya dengan menggunakannya saja sudah cukup untuk menyebabkan kematian. 

“T-Tidak... tidak mungkin!” 

Gadis penyihir dari tim pahlawan menggelengkan kepala sambil gemetar. 

Elf sang pengguna roh pun terpaku, tidak mampu berkata-kata. 

Sang pahlawan dan pendeta bahkan belum bisa memahami apa yang sedang terjadi. 

“Ara ara, sekelas tim pahlawan saja sudah goyah hanya karena ini... Bukannya Raja Iblis seharusnya bisa menggunakannya?” 

“Dia menggunakan anak buahnya untuk mempertahankan segel kedua tangan. Sedangkan kamu, bagaimana bisa...?”

Benar, Sihir Konstruksi memang memiliki kelemahan. Karena ini dapat menghabiskan energi sihir dalam jumlah yang sangat besar. Penggunanya harus terus-menerus mempertahankan segel dengan tangan. Itulah sebabnya teknik ini sangat efektif dalam pertempuran skala besar. 

Namun, pemilik Mata Sihir adalah pengecualian. Selain kemampuan unik masing-masing, Mata Sihir memiliki fungsi umum seperti mampu melihat energi sihir dunia dan tubuh manusia, termasuk alirannya. 

Artinya, tanpa segel tangan pun, mempertahankannya adalah hal yang mudah. 

“Aku ini punya Mata Sihir juga, tahu?” 

“T-Tidak mungkin... khah...”

Gadis penyihir itu memuntahkan darah dari mulutnya. 

Hukum yang kubangun ialah memaksa energi sihir di sekitarnya untuk menyatu, lalu memisahkannya kembali. 

Sederhananya, menghancurkan sirkuit sihir hingga tidak berbentuk. 

“Cepat... lakukan penyembuhan... guh.”

Pendeta bertubuh besar bergegas menghampiri gadis penyihir tersebut. Dia pasti bertugas sebagai penyembuh. 

Namun, semakin dia menggunakan sihir, semakin besar penderitaan yang dialaminya. Bahkan jika itu adalah sihir pemulihan sekalipun. 

Pendeta itu pun akhirnya tumbang, akibat terpengaruh energi sihir dari para penyihir dan elf di sekitarnya. 

“Seperti yang diharapkan dari seorang pahlawan. Hanya kamu yang tidak terluka meski dalam kondisi seperti ini.” 

“Sebutkan namamu. Aku akan menghabisimu di sini...”

“Ortlinde Marteno. Tenang saja, aku akan menahan diri. Lagipula, kamu adalah favoritnya Tuan Sugiru.” 

“Setelahmu, selanjutnya Emo Sugiru... Dia tidak akan pernah kumaafkan. Karena telah memanfaatkan kelemahan hatimu dan membiarkanku membunuhmu dengan tanganku sendiri.” 

Sang pahlawan salah paham. 

Emo Sugiru tidak pernah berniat memanfaatkanku. Dia tidak pernah menuntut balasan apa pun. 

Keputusan untuk menginjak-injak kota ini, adalah keputusanku sendiri. 

“Ara...?” 

“Apa itu...?” 

Aku dan sang pahlawan sama-sama menatap ke arah langit. Karena tekanan energi sihir dan keberadaan yang luar biasa sedang mendekat. Kemungkinan besar, seorang veteran yang benar-benar tidak masuk akal. 

Dia jatuh bersama embusan ledakan. 

“Kamu pengguna sihir yang mengendalikan para roh ilahi itu, ya? Batalkan sekarang juga.” 

“Siapakah dirimu?” 

“Aku adalah Dewa Iblis Kara. Aku datang untuk menepati janjiku dengan Emo Sugiru.” 

Sosok keberadaan seperti kesatria yang mengenakan zirah merah. 

Dia memancarkan energi sihir yang tidak masuk akal, bahkan dari gerakan sekecil apa pun, terasa jelas bahwa dia adalah seorang yang sangat kuat. Baik sebagai petarung maupun sebagai penyihir, levelnya jelas berbeda. 

Bahkan petualang peringkat S pun tidak sekuat ini. 

“...Dewa Iblis legendaris? Makhluk yang konon disegel oleh Pahlawan Pertama dengan mengorbankan nyawanya, yang kini hanya sekedar dongeng? Aku tidak percaya dia benar-benar ada.” 

“Segel tersebut dilepaskan oleh Emo Sugiru. Karena itulah aku ada disini.” 

“Begitu rupanya...!”

Wajah sang pahlawan dipenuhi keputusasaan. Namun, di saat yang sama, ada ekspresi seolah dia akhirnya mengerti segalanya. 

Kota ini, tempat penyegelan Dewa Iblis? 

Mungkin sang pahlawan sudah mengetahuinya sejak awal... Itu sebabnya dia tidak tinggal di ibu kota dan segera bergegas kemari. Kalau begitu, ini menjadi masuk akal. 

Dengan mata lain, tujuan Tuan Sugiru adalah kebangkitan Dewa Iblis. Tidak heran jika dia diburu. 

“...Bagaimanapun juga, ini adalah segel yang dipasang oleh seorang Pahlawan. Tanpa Kunci Pelepasan, hal itu nyaris mustahil untuk dicapai. Kalau bukan itu, maka satu-satunya cara hanyalah jalan lurus. Menghabiskan batu sihir dengan kemurnian tinggi dan jumlah energi sihir yang sangat besar, lalu melakukan ritual khusus.” 

“Jangan-jangan...!”

Begitu mendengar ucapanku, sang pahlawan bereaksi. Apa dia punya dugaan? 

“Apa itu batu sihir Raja Iblis? Demi benda itu, kami dipaksa untuk bertarung?” 

Sang pahlawan pun runtuh berlutut. 

Air matanya mengalir, terlihat bahwa wajahnya dipenuhi keputusasaan. 

Itulah kenyataannya. Raja Iblis dibunuh oleh sang pahlawan, lalu batu sihirnya digunakan untuk membangkitkan ancaman yang jauh lebih besar, yaitu Dewa Iblis. 

Bagi seorang pahlawan yang bertarung demi perdamaian umat manusia, secara tidak langsung dia dipaksa membantu hal tersebut. Tidak heran jika dia putus asa. 

“Dewa Iblis Kara, apa kamu berada di bawah perintah Tuan Sugiru?” 

“Tidak. Aku tidak berniat tunduk padanya. Bahkan, aku yang ditolak.” 

“Ara ara... seperti yang diharapkan dari Tuan Sugiru.” 

“Meski begitu, dia mengatakan bahwa kami merupakan rekan setara.” 

“Heheh, itu benar! Begitulah seharusnya Tuan Sugiru!” 

Dia membangkitkan sang Dewa Iblis, lalu menariknya sebagai sekutu.

Bukan dengan kekuatan, melainkan dengan karisma. Aku bisa memahaminya, dan itu membuatku senang. 

“Jika tujuanmu hanyalah kebangkitan, maka tidak perlu lagi mengulur waktu. Mari kita tarik kembali roh ilahi... Tidak perlu menghadapi sang pahlawan.” 

“J-Jangan bercanda!” 

Sang pahlawan berteriak dengan wajah yang dipenuhi amarah. 

Tatapannya penuh kebencian. 

Jika dia dibiarkan hidup, sang pahlawan pasti akan mencoba membunuh Emo Sugiru. Meski begitu, Tuan Sugiru pasti tetap ingin membiarkannya hidup. 

“Diam kamu, bocah.” 

“Guh...!” 

Dalam sekejap, sang Dewa Iblis telah menginjak pahlawan itu. 

Gerakannya sama sekali tidak terlihat. Kecepatan dan kemampuan fisiknya benar-benar di luar nalar. 

“Makhluk yang lemah tidak punya hak berbicara padaku. Gadis yang berada di sana masih lebih pantas bertarung denganku, tapi kamu tidak layak berada di tempat ini. Diam dan tidurlah.” 

“Kh, sial...”

Sang pahlawan masih sadar, tapi sepertinya tidak bisa berdiri. 

Menaklukkan sang pahlawan dengan satu serangan, dia memang sangat kuat. Dia sesuai dengan standar yang diinginkan Tuan Sugiru. 

“Jika roh ilahi ditarik, tidak ada alasan untuk bertarung.” 

“Ara, Jadi, bolehkah kita memutuskan siapa yang layak menjadi nomor dua?” 

“Oh...?”

Dalam Ordo Pahlawan, aku dan sang Dewa Iblis akan bergabung. Penting untuk menentukan siapa yang bisa menjadi tangan kanan Tuan Sugiru. 

“Emo Sugiru memang memilihku. Tapi kamu berbeda, bukan?” 

“Begitulah... Namun, aku akan membuktikannya dengan mengalahkanmu.” 

“Menarik. Apa kamu yakin?” 

“Apa maksudmu?” 

“Jika mereka terseret dalam pertarungan kita, bocah-bocah di sana pasti akan mati.” 

“Itu tidak boleh terjadi. Hehehe, kita simpan untuk lain waktu saja.” 

Saat aku dan Dewa Iblis sedang berbicara, terdengar suara langkah kaki. Perlahan suaranya mulai mendekat. Ada seseorang di sana, tapi sama sekali tidak terasa energi sihir. 

...Tuan Sugiru di sana?


* * *


“Ah, tim pahlawan sudah dataaaaaaaaaang!!” 

Aku berteriak kegirangan. 

Aku menemukan tim pahlawan melalui sela-sela reruntuhan. Semua anggota tim pahlawan tergeletak. Mungkin mereka sedang kesulitan melawan roh ilahi? 

...Dilihat dari sini sih kurang jelas. 

“Hah? Ortlinde dan kesatria itu juga ada di sana!?” 

Karakter favoritku dan orang yang kukenal sedang berbincang. Pemandangan yang terlalu berharga. Mereka pasti sedang membantu tim pahlawan yang terdesak. Alur cerita yang mendebarkan. 

“Oh iya, aku harus mengganti wajah dulu.” 

Sepanjang perjalanan, entah kenapa setiap aku berjalan menggunakan wajah ini, orang-orang asing selalu minta tolong kepadaku. 

Mereka memanggilnya “Tuan Kensei”, sepertinya pemilik wajah tampan ini bernama Kensei. Dia pasti orang yang sangat bisa diandalkan. 

Meski begitu, setiap kali mereka melihat dewa hiburan telanjang bulat di belakangku, dia langsung lari begitu saja. 

“Pemandangan mengharukan seperti ini layak diberi tepuk tangan.” 

Dua orang tersebut pasti sudah meluruskan kesalahpahaman sang pahlawan. Jika aku keluar sekarang, kemungkinan besar sang pahlawan akan berterima kasih. 

Lagipula yang membantu mereka berdua itu ‘kan aku, secara tidak langsung aku juga ikut menolong sang pahlawan. 

“Kali ini pasti.” 

Jika sebelumnya hanya kesalahpahaman, kali ini tepuk tanganku pasti diterima dengan senang hati. 

Mereka pasti akan sadar bahwa aku ini hanyalah penggemar biasa. 

Aku berjalan pelan sambil menghindari puing-puing. 

“Hai, teman-teman. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Bolehkah aku ikut bergabung?” 

Dengan senyum di wajah, aku mengatakan itu pada para pahlawan. 

Tentu saja, aku melakukannya sambil bertepuk tangan!


* * *


Aku terlahir sebagai anak rakyat jelata. 

Aku mendapatkan berkah sang pahlawan saat berusia 10 tahun. Sebelum itu, aku benar-benar tumbuh dalam keluarga yang biasa saja. 

Aku tidak tahan melihat orang-orang yang hidup dalam ketakutan terhadap ancaman pasukan Raja Iblis. Mungkin Tuhan memilihku karena selalu melihat hal tersebut.

“Kehidupanku... perjalanan kami, pertarungan kami, apa arti semua itu!?” 

Sejak umur 10 tahun hingga sekarang, aku hidup di medan perang. 

Mengumpulkan rekan, mempererat ikatan, melewati pertempuran sengit melawan pasukan Raja Iblis demi melindungi orang-orang. Bahkan di saat tersulit dan tersedih, aku tidak pernah menyerah. 

Itu karena aku tidak pernah mau berkompromi dalam menyelamatkan siapa pun. 

Bahkan saat melawan Raja Iblis itu, aku tidak putus asa. Justru aku bertarung dengan harapan, merasa bahwa inilah akhirnya. 

Namun sekarang, setelah dipikir-pikir, mungkin aku memang dipaksa bertarung. 

“Raja Iblis itu memang sombong... tapi dia ragu-ragu. Kami tahu tidak ada pilihan lain. Itulah sebabnya aku membunuhnya!” 

Raja Iblis adalah seorang penganut perdamaian. 

Pertikaian antara bangsa iblis dan manusia tidak akan berakhir sampai salah satu pahlawan atau Raja Iblis mati. Maka dari itu, aku terus meyakinkan diriku bahwa saling membunuh memang tidak bisa dihindari...

Namun ternyata, semua itu berada di telapak tangan Emo Sugiru. Kami dimanfaatkan demi membangkitkan ancaman yang jauh lebih besar dari Raja Iblis, yaitu kebangkitan sang Dewa Iblis. 

“Kamu ini, sampai sejauh mana kamu ingin mempermainkan manusia...!? Kenapa kamu masih bisa tertawa!?” 

“Hm...? Aku? Manusia tertawa karena itu menyenangkan baginya, bukan?” 

“Apa...” 

“Kalau begitu, izinkan aku mengucapkan terima kasih sekali lagi. Berkatmu, dunia ini menjadi sangat menyenangkan.” 

“...!”

Tidak ada kata-kata yang bisa keluar. Kebencian ini, amarah ini, tidak bisa diungkapkan dengan bahasa apa pun. 

Emo Sugiru tersenyum licik sambil bertepuk tangan. Dia muncul tepat di saat aku kalah dan tidak bisa bergerak. Tidak, justru karena semuanya sudah berakhir, dia menampakkan diri. 

Dialah dalang dibalik semuanya. Akar dari seluruh kehancuran. 

Jika pria ini tidak ada, mungkin masih ada jalan lain selain saling membunuh dengan Raja Iblis. Dengan begitu, seharusnya masih banyak orang yang bisa hidup bahagia. 

Tubuhku tidak bisa bergerak. Bergerak... bergeraklah! 

Sial, kenapa... aku selemah ini!?

“EMO SUGIRUUUUUUUUUU!!!” 

Aku berteriak. 

Sepanjang hidupku, belum pernah sekalipun aku mengarahkan amarah sedalam ini kepada orang lain. 

“Haha, tidak perlu berteriak sekencang itu, aku bisa mendengarmu kok. Sampai-sampai aku hampir terharu dengan fan service yang luar biasa ini, tapi sayangnya aku sedang sibuk. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Keberanianmu sudah sangat jelas di mataku, jadi kurasa aku pamit dulu.” 

“Jangan main-main...!”

“Oh? Sepertinya aku tidak perlu repot-repot mencarimu. Terima kasih.” 

“Apa...?” 

Emo Sugiru sedang melihat ke arah belakangku. 

Tubuhku tidak bisa bergerak, jadi aku tidak dapat menoleh, tapi aku bisa merasakan keberadaannya. Siapa itu...?

Terdengar suara langkah kaki. Aura dan suaranya seperti kaum iblis. Aku sudah terlalu sering mendengarnya, jadi mustahil aku tidak mengenalnya. 

“Hei, seorang pahlawan malah merangkak di tanah seperti ini. Kalau Raja Iblis melihatnya, pasti dia akan sangat terkejut.”

“Apa... suara itu ‘kan...” 

Mustahil. 

Aku mengenal pemilik suara ini. Dia adalah musuh yang dulu kutebas dalam perang melawan pasukan Raja Iblis. 

Pemilik suara itu menginjak kepalaku, lalu tersenyum padaku. 

“Sudah lama tidak bertemu, Pahlawan.” 

“Jenderal Iblis Bertopeng...!” 

“Aku sudah kehilangan satu lengan, bahkan Raja Iblis pun telah tiada. Kupikir kamu mengampuniku karena menganggapku bukan ancaman lagi, aku benar-benar berterima kasih, tahu?” 

“Mustahil! Kenapa lenganmu bisa kembali...!?”

Saat itu, aku yakin sudah menebasnya dengan Pedang Suci. Kemampuan untuk menciptakan topeng seharusnya telah tiada. 

“Apa yang sebenarnya terjadi...?”

“Dia adalah teman bagiku, jadi akulah yang menyembuhkan lengannya. Tuan Jenderal Iblis, aku paham perasaanmu, tapi menginjak kepala pahlawan itu rasanya kurang pantas. Bagaimanapun juga, kamu pernah menjadi petinggi pasukan Raja Iblis. Bukannya kamu seharusnya menjaga martabat?” 

“Ah, maaf, Emo. Pahlawan ini memang kesayanganmu, ya.”

Jenderal Iblis Bertopeng itu meminta maaf. 

Pemandangan yang sulit dipercaya. Dia seharusnya merupakan pria yang tidak akan pernah tunduk pada siapapun selain Raja Iblis. 

Tidak, justru sebaliknya...

Kepatuhannya pada Raja Iblis hanyalah sebuah sandiwara. 

“Ah...”

Aku paham. Aku benar-benar mengerti sekarang. 

Mengapa Emo Sugiru bisa mengendalikan pasukan Raja Iblis?

Alasan total kekuatan pasukan Raja Iblis meningkat adalah berkat penguatannya melalui topeng. Hal ini sering kali membalikkan keadaan di medan perang. Artinya, Jenderal Iblis ini berada pada posisi yang bisa mengatur segalanya. 

Dan jika sejak awal Jenderal Iblis ini merupakan sekutu Emo Sugiru, jika dia adalah anggota organisasi bernama Ordo Pahlawan, maka semuanya menjadi masuk akal. 

“Baiklah, sepertinya kalian sudah berdamai, jadi mari kita pergi. Tidak ada alasan lain berada di kota ini lebih lama. Lagipula, para anggota tim pahlawan pasti bisa memulihkan diri dengan kekuatan sendiri.” 

“Bahkan sampai sejauh itu...”

Dengan nada mengejek, Emo Sugiru berkata demikian. 

Apa yang barusan terjadi itu... disebut ‘berdamai’?

Begitu. Oh, jadi itu maksudnya...! Pada saat ini juga, Jenderal Iblis Bertopeng telah kembali ke wujud aslinya. 

Dari musuh bernama pasukan Raja Iblis, kembali menjadi anggota Ordo Pahlawan. 

“Ortlinde, bagaimana kondisi tubuhmu?” 

“Berkat Anda, saya sangat sehat. Tuan Sugiru, bolehkah saya bergabung dengan Ordo Pahlawan? Saya yakin bisa sangat berguna.” 

“Hm? Lakukan saja sesukamu. Kebebasan itu harus dinikmati, bukan?” 

“Baik...!” 

Ortlinde Marteno, makhluk yang sebelumnya tampak seperti monster, kini memperlihatkan wajah tunduk dan penuh gairah. 

Dia sangat tergila-gila pada Emo Sugiru. Kelemahannya dimanfaatkan, dan dirinya dikendalikan. 

Dia mungkin adalah jenius yang hanya lahir seribu tahun sekali. Seorang petarung yang bahkan tim pahlawan seperti kami tidak mampu melawannya. Dan orang seperti itu kini ditundukkan hanya dengan kata-kata manis. 

Ditambah lagi Dewa Iblis dan Jendral Iblis Bertopeng... 

Ini bukan lelucon, kekuatan mereka benar-benar bisa menghancurkan dunia. 

Pertarungan melawan pasukan Raja Iblis merupakan pertarungan demi kelangsungan hidup umat manusia. Namun kini... berada di tingkat yang sama sekali berbeda. 

Musuh yang harus dihadapi seluruh ras, dengan mempertaruhkan keberadaan mereka sendiri. Kejahatan besar bernama Emo Sugiru, tidak bisa dimaafkan. Dia harus dibunuh. 

“Kamu... Apa sebenarnya yang kamu inginkan!? Kenapa sampai melakukan semua ini...!”

Mengapa Emo Sugiru melakukan ini? 

Bagaimana dia bisa melakukan kekejaman ini? 

Apa dosa orang-orang yang tinggal di kota ini? Mengumpulkan kekuatan sebesar itu, apa dia ingin menciptakan neraka seperti ini? 

“Ini karena aku seorang penggemar.” 

“Hah...?” 

“Sudah kubilang, ‘kan? Aku ini penggemarmu. Kamu ini pahlawan sejati, bukan?” 

“Apa... apa yang kamu bicarakan...?”

Aku tidak bisa memahaminya. 

Tidak mungkin. Apa dia menghancurkan sebuah kota hanya untuk menguji diriku seorang? 

Menaklukan pasukan Raja Iblis, mengorbankan sedikit orang demi banyak orang... semua itu hanyalah permainan Emo Sugiru? 

“Aku ini suka dengan orang yang menjalankan misinya. Karena itu aku mengamati perjalanan kalian. Lalu, apa sebenarnya yang disebut pahlawan? Apakah hanya sekadar senjata? Atau seseorang yang tetap berada di pihak manusia? Atau justru mereka yang terjepit di antaranya, berjuang sambil tersiksa...?” 

Emo Sugiru mulai berbicara. 

Kata-katanya terdengar tulus, itulah motivasinya, keinginan terdalamnya. 

“Aku ingin melihat kilauan seperti itu. Seperti kisah kepahlawanan, cahaya yang seolah berteriak bahwa dialah tokoh utama, aku suka itu. Dan kamu selalu menjadi sosok pahlawan.” 

Itu sebabnya dia menyukaiku. 

Hanya dengan alasan sesederhana itu, dia mengadu manusia dengan iblis, bahkan membangkitkan Dewa Iblis... 

Semata-mata sebagai ujian, hanya untuk memastikan apakah kami benar-benar pahlawan. 

“Ini keterlaluan...!” 

“Aku ini bersungguh-sungguh. Ini merupakan pujian yang tulus dari hati. Awalnya dunia ini tidak cocok denganku, dan membosankan. Namun masa menyedihkan itu sudah berakhir, karena aku sudah menemukanmu. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi ini caraku melakukannya.” 

Pria bernama Emo Sugiru ini, dia sudah lebih dari menyimpang. 

Dia sudah rusak. 

“Aa... aaahhh... uaaaaaaaaaaaaaaahhh!!” 

Aku pun akan hancur. 

Aku tidak bisa memikirkan apa pun. Aku tidak ingin memikirkan apa pun. 

Aku tidak peduli jika seluruh pertarunganku, seluruh hidupku, hanyalah mainan bagi orang ini. 

“Senang rasanya melihatmu begitu tersentuh.” 

“Ugh... uuu...”

Tanpa peduli rasa malu, aku menangis terisak-isak. Aku tidak sanggup menahannya. Bahkan rasa mual itu pun lenyap. 

Begitu ya, inilah yang disebut keputusasaan sejati.


* * *


“Wajah saat menangis itu sangat menawan.” 

“Ara ara, aku jadi cemburu.” 

Saat aku menikmati fan service dari sang pahlawan, Ortlinde mengintip dari bawah. 

Posisinya imut sekaligus menggoda. Sepertinya aku benar-benar memikat hatinya. 

“Kalau begitu, mari kita pergi.” 

Aku mengusulkan agar kami semua melakukan aktivitas seorang penggemar bersama. Hidup sebagai penggemar itu luar biasa. 

Sang pahlawan pun ikut menangis bahagia, dan tampaknya seluruh kesalahpahaman telah sepenuhnya hilang. 

Lagipula aku sudah bilang padanya bahwa semua orang di sini adalah penggemarnya. Pasti dia sangat senang, bukan? 

“Terlalu banyak melihat air mata pun itu tidak sopan.” 

“Anak kecil itu, kasihan juga...” 

“Bahkan rasa dendamku pun sudah lenyap. Seperti yang diharapkan dari Tuan Sugiru.” 

“Haduh, bersama dengan Emo memang tidak pernah membosankan.” 

Kesatria, Ortlinde, dan Dewa Iblis, semuanya tampak dalam suasana hati yang sangat baik. 

Mereka telah menyaksikan momen fan service yang begitu mengharukan, tidak mungkin masih ada niat jahat yang tersisa. Kami semua berjalan bersama dengan rukun, menuju kota berikutnya. Terus melangkah di jalan seorang penggemar! 

Dari belakang, sang pahlawan berteriak dengan suara yang sudah parau. 

“Emo Sugiru... hanya kamu... yang tidak akan pernah kulupakan, bahkan jika aku mati!” 

Sang pahlawan mengatakan sesuatu yang begitu membahagiakan. 

Fan service macam apa ini, benar-benar sempurna. Dia memang baik hati, sungguh.


Lagipula aku sudah bilang padanya bahwa semua orang di sini adalah penggemarnya. Pasti dia sangat senang, bukan? 

“Terlalu banyak melihat air mata pun itu tidak sopan.” 

“Anak kecil itu, kasihan juga...” 

“Bahkan rasa dendamku pun sudah lenyap. Seperti yang diharapkan dari Tuan Sugiru.” 

“Haduh, bersama dengan Emo memang tidak pernah membosankan.” 

Kesatria, Ortlinde, dan Dewa Iblis, semuanya tampak dalam suasana hati yang sangat baik. 

Mereka telah menyaksikan momen fan service yang begitu mengharukan, tidak mungkin masih ada niat jahat yang tersisa. Kami semua berjalan bersama dengan rukun, menuju kota berikutnya. Terus melangkah di jalan seorang penggemar! 

Dari belakang, sang pahlawan berteriak dengan suara yang sudah parau. 

“Emo Sugiru... hanya kamu... yang tidak akan pernah kulupakan, bahkan jika aku mati!” 

Sang pahlawan mengatakan sesuatu yang begitu membahagiakan. 

Fan service macam apa ini, benar-benar sempurna. Dia memang baik hati, sungguh.


Post a Comment

Join the conversation