[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Prolog

[LN] Tada no Kouhou Udegumi Tenseisha, Ukkari Yuusha ni Hakushu o Okuttara _ Volume 1 ~ Prolog

Translator: Chesky Aseka & Friend
Proofreader: Chesky Aseka

Prolog

“Luar biasa. Tidak kusangka bisa sampai sejauh ini.” 

“S-Siapa kamu...?” 

Aku tersenyum lebar, lalu perlahan menghadap ke sang pahlawan sambil bertepuk tangan. 

Dia telah melewati begitu banyak rintangan, dan akhirnya menaklukkan Raja Iblis. Benar-benar seorang pahlawan. Memberikan pujian sebagai seorang penggemar kepada sosok yang akan menjadi legenda seperti dirinya adalah hal yang wajar. 

“Aku sudah menjadi penggemarmu... Itu benar-benar pertarungan yang luar biasa. Kamu tumbuh melampaui dugaanku.” 

“A-Apa yang kamu bicarakan... Jangan-jangan...”

“Ya, itu persis seperti yang kamu pikirkan.” 

Aku menyetujui kata-kata sang pahlawan. Jika dia yang mengatakannya, maka akan menjadi sebuah kebenaran. Sejujurnya, aku sendiri tidak begitu paham maksudnya, tapi itu tidak masalah. Itu karena, dialah yang mengatakannya. 

Sang pahlawan yang berhasil memenangkan pertempuran sengit itu bersama rekan-rekannya... semuanya menatapku dengan tajam. 

“Seluruh pertarungan yang kalian lalui sampai sekarang, semuanya, berada di telapak tanganku...” 

Aku memperlihatkan sebuah sihir yang terlihat seperti item drop dari monster, namun sebenarnya itu merupakan batu sihir khusus untuk mengambil sebuah gambar (ukurannya terlihat seperti benda yang muncul dari mayat Raja Iblis). 

Sebagai seorang penggemar, aku harus memastikan sisa catatan pertarungan kalian untuk generasi mendatang, ‘kan? 

“Jangan bilang...”

“Ini pasti bohong...” 

“Tidak mungkin!” 

“Sudah kuduga, Raja Iblis memang tidak bertarung ya?” 

Para pahlawan tampaknya sedang dilanda kekhawatiran. Wajar saja, mereka terkejut oleh kehadiranku yang secara tiba-tiba muncul dari belakang. 

Seorang gadis penyihir yang cantik, seorang pendeta bertubuh besar yang merangkap sebagai tameng sekaligus penyembuh, dan seorang gadis elf pengguna roh. 

Tentu saja, kepada para rekan yang menopang sang pahlawan, aku juga menaruh rasa hormat. Maka dari itu─

“Kepada kalian juga, aku harus menyampaikan rasa terima kasih. Aku sudah lama menantikan momen ini... Terima kasih banyak. Berkat kalian, keinginanku akhirnya tercapai.” 

“K-Kamu bajingan!” 

Sang pahlawan pasti senang menerima pujian dari seorang penggemar. Suaranya terdengar bergetar. 

Namun, mereka semua sudah berada di ambang batas. Badan yang penuh luka, bahkan berdiri pun hampir tidak mampu. Itu karena pertarungan sebelumnya merupakan pertarungan habis-habisan bagi mereka semua. 

“Bahkan tim pahlawan yang terkenal pun tidak akan bisa bergerak dengan luka seperti itu. Kali ini aku hanya ingin memberi salam saja. Sepertinya aku akan undur diri... Ah, kita pasti akan bertemu lagi suatu hari nanti, selama kamu masih terus bertarung.” 

“Siapa kamu sebenarnya!?” 

“Sudah kubilang, aku penggemar kalian semua.” 

“Jangan bercanda...! Sebutkan namamu!” 

Pahlawan yang biasanya tenang sampai berteriak seperti itu, merupakan situasi jarang terjadi. Adegan langka ini sebaiknya kurekam.

Dipaksa melayani penggemar saat sedang kelelahan, wajar jika itu membuatnya kesal. Sisi manusiawi yang tidak terduga seperti itu menurutku cukup menggemaskan. 

“Aku? Namaku Emo Sugiru. Bisa dibilang aku ini seorang reinkarnator yang datang dari dunia yang berbeda dengan dunia kalian.” 

“Kamu ini... Apa sebenarnya tujuanmu! Dan batu sihir itu untuk apa!?” 

“Untuk mengubah sejarah. Bahkan tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa benda ini dapat memberi titik akhir pada masa lalu.” 

Ya... melalui rekaman yang tersimpan di batu sihir ini, kisah kepahlawanan akan tetap dikenang. 

Bagi negara ini, tidak, bagi umat manusia, ini layak disebut sebagai halaman pertama dalam sejarah. Keseharian yang dipenuhi ketakutan terhadap monster dan Raja Iblis telah berakhir. 

“Sangat disayangkan... tapi sekarang ancaman bernama Raja Iblis sudah lenyap, maka pertarungan kalian juga berakhir sampai di sini.” 

“Belum... belum selesai! Aku akan... aku pasti akan...!” 

“Haha, jangan memaksakan diri. Meski kamu disebut pahlawan, kamu tetaplah manusia. Demi keselamatanmu sendiri, lebih baik kamu diam saja dan berbaring di sana, oke?” 

Kenapa ya? 

Padahal aku hanya mengkhawatirkan mereka, tetapi semuanya memasang ekspresi yang luar biasa tegang. Mereka menggertakkan gigi, tampak begitu frustasi. 

Oh, begitu... aku paham. Rupanya karena ada penggemar di depan mereka, mereka ingin tetap terlihat keren. 

“Ah, benar juga. Sebagai penutup, bagaimana kalau aku bongkar rahasianya?” 

“...Apa?” 

Sebagai penutup, aku memutuskan untuk memberi mereka penjelasan. Alasan mengapa mereka tidak menyadari kehadiranku, dan alasan mengapa aku tidak terseret ke dalam pertarungan. 

“Apa kalian bisa menebak ini?” 

“Tidak mungkin...!” 

“Magic Item...” 

Sang pahlawan terkejut, dan gadis penyihir cantik itu membalasnya. Ini adalah dunia fantasi di mana pedang dan sihir merupakan sebuah latar yang sangat klise. Dalam dunia seperti itu, Magic Item adalah senjata yang umum ditemui. 

Mereka yang kuat bertarung dengan cara menguasai sihir dan teknik bela diri, sementara Magic Item biasanya hanya diperlakukan sebagai alat bantu. Namun, aku tidak memiliki bakat. Maka dari itu, aku mengenakan banyak Magic Item. Barang-barang unggulan yang dilengkapi dengan pemutus kehadiran dan penghalang sihir, yang kudapatkan dengan menghamburkan banyak uang. 

“Untuk menghadapi kalian, ini saja sudah cukup, ‘kan?” 

“...!”

Jika mereka adalah tim pahlawan, tanpa penjelasan panjang pun pasti akan mengerti. Berkat bantuan Magic Item, aku bisa berada di belakang mereka tanpa diketahui. 

“Jadi menurutmu, sihir dan teknik bela diri pun tidak layak digunakan!?” 

“Haha, siapa yang tahu? Lagipula, jarak antara kalian denganku terlalu jauh.” 

Aku bukanlah jenius seperti tim pahlawan. Aku tidak pernah bisa menggunakan sihir maupun teknik bela diri... Namun, demi menguntit, ehm, ehm... maksudku, sebagai seorang penggemar, aku harus menghindari keterlibatan dan meniadakan kehadiranku. Itulah peran Magic Item ini! 

“Baiklah, aku pamit dulu.” 

“T-Tunggu...! Aku... aku pasti akan, mengalahkanmu!” 

“Selamat tinggal, wahai tim pahlawan. Senang berbincang dengan kalian.” 

Aku mengatakannya dengan senyum kecil yang tertahan. Mnegobrol lebih lama dengan mereka pasti hanya akan merepotkannya. Mereka pasti kelelahan, jadi sebaiknya aku segera pergi.


* * *


“Eh...?” 

Keesokan harinya, entah kenapa, aku justru masuk ke dalam daftar buronan negara. Potret wajahnya mirip denganku, namanya pun sama. Di sana tertulis divonis hukuman mati, bahkan hadiah uang dalam jumlah besar pun disiapkan. 

Apa aku melakukan kejahatan separah itu? Tidak mungkin, ‘kan? 

“Kenapa aku diperlakukan seperti penjahat? Apa karena ketahuan menguntit?” 

Dan begitulah, kehidupan pelarianku pun dimulai.


* * *


Konon, ketika manusia didesak hingga batas ekstrem, sifat aslinya akan tersingkap. Menurutku, itu sedikit berbeda. 

Yang diuji bukanlah sifat asli, melainkan bakat. Untuk bisa bertahan hidup dari kondisi ekstrem, manusia akan mencoba menyelesaikan masalah dengan cara yang paling dia kuasai. Jadi, yang muncul bukanlah “jati diri”, melainkan “bakat”. 

“Aku ini jenius... jenius dalam mengidolakan...!”

Aku berusaha mati-matian meyakinkan diriku sendiri. 

Saat ini, tidak berlebihan rasanya jika menyebut keadaanku benar-benar ekstrem. Bagaimanapun juga, aku sedang diburu oleh negara...

Katanya, aku dituduh telah memanipulasi manusia dan ras iblis dari balik layar, memperoleh batu sihir Raja Iblis, dan merencanakan penaklukan dunia. Tampaknya kesalahpahaman semacam itu sedang berada di puncaknya. 

Jika aku tertangkap, aku akan dihukum mati. 

“Aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati. Bakat mengidolakan ini sama sekali tidak berguna...”

Kenapa bisa jadi begini? Aku hanya memberi salam dan pujian kepada tim pahlawan, itu saja. 

Aku tidak melakukan sesuatu yang pantas dihukum mati. Lagipula, tidak ada yang namanya batu sihir yang keluar dari jasad Raja Iblis. Ini sudah keterlaluan. 

“Jangankan keluar negeri, keluar dari kota ini saja sudah sulit... Apa yang harus kulakukan?” 

Bahkan hanya untuk meninggalkan kota ini pun, identitas setiap orang akan diperiksa. Apakah dia terdaftar sebagai petualang, atau sebagai pedagang. Intinya, tanpa jaminan identitas, seseorang bahkan tidak bisa keluar atau masuk kota. 

Singkatnya, begitu masuk daftar buronan, tamatlah sudah. Keberadaanku di kota ini pasti akan segera terdeteksi. Tinggal menunggu waktu. 

“Jika bukan karena Magic Item, aku mungkin sudah tertangkap dari tadi...” 

Magic Item yang kumiliki semuanya terfokus pada penyamaran dan penghindaran. Menghilangkan keberadaan, menghilang dari pandangan, atau menciptakan penghalang sihir untuk menahan serangan. Sama sekali tidak ada kemampuan ofensif. Aku hanya bisa “melarikan diri”. 

Efeknya pun bersifat sementara dan tidak bisa digunakan terus-menerus. Jadi, kalau begini terus, aku pasti akan tertangkap. 

“Hmm?” 

Untuk sementara, aku berada di sebuah gang sepi dimana tempat ini memiliki tingkat keamanan yang buruk. 

Memang benar ini lebih baik dibandingkan kawasan kumuh, tetapi bisa dibilang tempat ini merupakan sarangnya kaum miskin dan para kriminal. Alasan mengapa para kriminal di sini dibiarkan begitu saja adalah karena mereka bukanlah target penting yang layak menyita perhatian negara, itulah kenyataannya. Kalau sampai menimbulkan kerugian besar, itu lain cerita, tapi pada dasarnya mereka dibiarkan dan orang biasa pun tidak akan mendekat. 

“Permisi, mungkinkah kamu Jenderal Iblis Bertopeng?”

Saat aku berjalan, kulihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk di tanah, jadi aku menyapanya. 

Di satu tangannya ada minuman keras murahan, sementara matanya yang keruh menatap langit. 

Aura tanpa semangat. Pakaian yang kusut... Dia tampak tidak lebih dari seorang pemabuk miskin. Tetapi aku tahu bahwa dia adalah mantan anggota pasukan Raja Iblis. 

“...Siapa kamu?” 

“Aku? Namaku Emo Sugiru. Seorang figur populer yang sedang diburu oleh negara.” 

“Aku tahu itu. Tapi mengapa kamu bisa tahu jati diriku?” 

“Kamu pernah sekali memperlihatkan wajah aslimu di depan sang pahlawan, bukan? Aku ini penggemarnya.


Begitu kata “pahlawan” terucap...

Niat membunuh yang mengerikan langsung menghantamku. Seram, rasanya aku bisa mengompol. Tolong! 

“Meskipun kamu tahu wajah asliku, sampai bisa melacak lokasiku... aku tidak ingat pernah membuat kesalahan sebesar itu. Kemampuan informasimu luar biasa.” 

“Eh...”

Tidak, sebenarnya aku datang bukan untuk bertemu denganmu. 

Aku cuma kebetulan lewat, lalu melihat mantan jenderal musuh yang pernah kalah dari tim pahlawan, jadi kusapa saja. 

Topeng yang dibuat orang ini istimewa. Bukan hanya bisa mengubah wajah, tapi juga bisa memberikan berbagai kemampuan. Dengan kekuatan tersebut, dia dulu merupakan petinggi yang memperkuat prajurit pasukan Raja Iblis. 

Jika mempertimbangkan hidup menjadi pelarian, aku sangat menginginkannya. Apa dia mau menjual topengnya padaku? 

“Aku bertemu denganmu murni kebetulan kok.” 

“...Kebetulan, ya? Ya sudahlah. Jadi, ada urusan apa?” 

“Maukah kamu menjual topeng itu?” 

“Hoo... jadi kamu membutuhkannya untuk hidup melarikan diri, ya. Jawabannya sudah jelas ‘kan? Tidak.” 

Yah... tentu saja. Ditolak mentah-mentah. 

“Aku hampir tidak memiliki kekuatan lagi. Dalam pertarungan melawan pahlawan, aku kehilangan satu lengan... dan setelah Raja Iblis mati, kekuatan sihir yang diberikan padaku juga lenyap.” 

“Jadi... jika lenganmu kembali, bisakah aku mengartikan bahwa kamu setuju untuk membuatkannya?” 

“...Apa?” 

Sepertinya, dia tidak membenciku secara pribadi, itu cukup melegakan.

Singkatnya, karena dia kehilangan satu lengan, dia tidak bisa membuat topeng, dan juga karena kekuatan sihirnya berkurang, dia tidak bisa lagi menambahkan kemampuan khusus. 

Namun, kemampuan untuk membuat topeng yang mengubah wajah seharusnya bukan berasal dari kekuatan sihir Raja Iblis. Jika lengannya kembali, barang yang kuinginkan pasti bisa didapatkan. 

“Jika hal tersebut bisa terjadi, setidaknya akan kuberikan satu topeng padamu.” 

Sepertinya negosiasi berhasil. 

Jendral Iblis ini pasti menganggap meregenerasi lengan adalah hal yang mustahil. Kenyataannya, bahkan seorang jenius sihir pemulihan pun tidak mungkin menumbuhkan kembali lengan yang hilang. 

Sihir pemulihan di dunia ini tidaklah mahakuasa. 

Item umum seperti ramuan hanyalah versi lemah dari sihir, jadi tidak perlu dibahas lebih jauh. 

Katanya, para petarung yang bisa menggunakan energi kehidupan memiliki daya regenerasi setara sihir pemulihan, tapi meski begitu, menumbuhkan kembali lengan tetap tidak realistis. 

“Janji sudah kamu ucapkan, oke?” 

“Hei hei... kamu serius? Itu mustahil dengan sihir zaman sekarang.” 

“Iya, memang mustahil. Bahkan dengan teknologi dan sihir modern.” 

Aku yang selama ini menguntit tim pahlawan, ikut menembus reruntuhan kuno bersama mereka. 

Dalam perjalanan itu, aku memperoleh obat yang dibuat dengan teknologi kuno yang telah hilang. Dikarenakan tim pahlawan hanya mengambil Item seperlunya dan terus maju, aku pun meminjamnya. 

Tentu saja, awalnya obat itu hendak kupakai jika sang pahlawan berada dalam bahaya. 

Namun, tim pahlawan itu terlalu kuat. Mereka nyaris tidak terluka, dan peran penyembuhnya pun sangat andal, sampai-sampai tidak butuh Item sama sekali...

“Kamu tahu apa ini?”

“...Kamu pasti bohong, ‘kan? Tidak mungkin ini obat mujarab, bukan?” 

Di reruntuhan kuno tersebut, ada mata air yang memancar. 

Gadis elf pengguna roh pernah mengatakan bahwa itu adalah obat mujarab. Jumlahnya melimpah, namun tim pahlawan hanya mengambil seperlunya saja. 

Aku sendiri sudah mengumpulkan cukup banyak, sebagai persiapan jika tim pahlawan terluka. 

“...Dan juga, dari mana kamu mendapatkannya?” 

“Item box itu wajib, bukan? Bangsa iblis pun pasti memakainya.” 

“Aneh tidak berbentuk seperti kantong, tapi cincin? Jarang sekali. Apa ini dibuat oleh seorang jenius sihir ruang?” 

“Siapa yang tahu?” 

Aku sendiri juga tidak tahu siapa pembuat cincin ini. Lagipula, cincin ini kudapatkan saat mengikuti tim pahlawan. 

Lebih tepatnya, aku meminjamnya dari sesosok mayat di dungeon berlevel tinggi. Demi dedikasiku sebagai penggemar, mau tidak mau aku memutuskan untuk memakainya dengan penuh rasa syukur. 

“Kamu ini, benar-benar susah ditebak.” 

Saat aku menyerahkan obat mujarab tersebut, sang Jenderal Iblis Bertopeng, meski ragu, tetap menggunakannya pada bagian tubuh yang hilang. Seketika, lengannya beregenerasi. Dia tampak terpaku, menatap lengan yang telah kembali... Aku sedikit khawatir apakah lengan itu bisa digunakan seperti sebelumnya, aku pun bertanya. 

“Bagaimana kondisi lenganmu? Sudah bisa untuk membuat topeng?” 

“Ya... seharusnya bisa.” 

“Berapa lama sampai selesai? Aku memang terlihat santai, tapi sebenarnya cukup sibuk.” 

“Ambil saja ini.” 

Dia menyerahkan sebuah topeng. Sepertinya itu memang sudah dia miliki sejak awal. 

“Ini barang gagal yang dulu kubuat. Kalau buru-buru, ambil saja. Mulai sekarang aku bisa membuat topeng sebanyak apa pun. Tetapi, izinkan aku bertanya satu hal.” 

“Apa?” 

“Raja Iblis menginginkan perdamaian... Apa kamu memanfaatkan beliau?” 

“Tidak, aku tidak tertarik pada Raja Iblis.” 

“...Sudah kuduga. Yang Mulia bergerak atas kehendaknya sendiri. Aku pun tidak pernah percaya pada keberadaan dalang di balik layar. Namun setelah melihatmu, aku jadi ragu.” 

Apa maksudnya itu? 

“Kamu terlalu banyak berpikir... Aku hanya menyaksikan pertumbuhan tim pahlawan.” 

“Begitu ya. Meski kamu memang dalang yang bahkan memanfaatkan Raja Iblis sekalipun, aku tidak keberatan lagi. Karena kami gagal menghancurkan rencanamu beserta niat dibaliknya, itulah kekalahan kami...” 

Hah...? 

Sepertinya dia benar-benar menganggapku sebagai dalang di balik semuanya. Padahal aku sudah menyangkalnya! 

“Apa kamu berniat membalas dendam pada sang pahlawan?” 

“Aku tidak berniat demikian. Entah mengapa, aku juga tidak berniat membunuhmu.” 

Itu wajar saja. Aku bukan dalang di balik layar, dan aku juga tidak ikut serta dalam perang antara manusia dengan kaum iblis. Aku sepenuhnya hanya orang luar. 

“Pantas saja kamu disebut panglima tertinggi. Aku sempat bertanya-tanya seperti apa sosok yang mampu memimpin para berandalan dan penjahat itu, tapi ternyata kamu jauh lebih sulit ditebak dari yang kubayangkan.” 

“Hm...?” 

Apa yang sebenarnya dia bicarakan? 

Aku ini buronan, mustahil memiliki bawahan. Bahkan teman pun aku tidak punya...

“Sepertinya kamu terlalu mabuk...” 

“Ya... mabuk oleh kekalahan, hingga membusuk di tempat seperti ini. Sungguh memalukan.” 

“Ah... ya.” 

Dia tampaknya benar-benar mabuk berat. Obrolan pun tidak berjalan dengan baik. 

“Bagaimana? Tidak ingin memanfaatkanku juga? Dari dirimu, aku merasakan sesuatu yang berbeda dari Raja Iblis...”

“Aku tidak menganut prinsip memiliki bawahan. Tetapi, jika kamu mau ikut, aku tidak keberatan.” 

“Ketimbang memerintah, kamu hanya menerima?” 

“Bukannya itu lebih menarik?” 

Menjadikan seorang Jenderal Iblis sebagai bawahan itu terlalu menakutkan, aku sangat tidak menginginkannya. Sebagai kenalan, aku ingin menjaga jarak yang wajar dan tetap berhubungan dengan baik... Lagipula, menolaknya juga terasa menakutkan. 

“Dengan mudahnya menerima monster-monster sepertiku... Kamu benar-benar orang aneh.” 

“Eh...?”

“Akan kubuktikan bahwa aku bisa berguna. Katakan padaku prinsip hidupmu.” 

“Aku ingin melihat para pahlawan. Kisah kepahlawanan yang dikenang selamanya, aku menyukai hal semacam itu. Tidak lebih.” 

“Begitu rupanya...” 

Sepertinya Jenderal Iblis itu akhirnya memahami maksudku. Rasanya percakapan kami baru saja tersambung, dan aku pun sedikit merasa lega...

“Prinsipmu menarik, namun jika ingin menyatukan suatu kelompok, simbol itu diperlukan.” 

“Hm...? Ya, memang diperlukan bagi sebuah kelompok.” 

Tiba-tiba saja topiknya berubah. Apa maksudnya? 

“Akan kubuatkan topeng yang bisa menjadi simbol. Pengaruhnya memang tidak sebesar seperti masa kejayaanku.” 

“Lakukan saja sesukamu.” 

“Lalu, apa nama organisasinya?” 

Apa dia berniat membentuk klub bersama teman-temannya? Setidaknya, soal nama itu seharusnya dia tentukan sendiri. 

“...Bagaimana dengan Tim Pendukung Pahlawan?” 

“Ordo Pahlawan, ya? Tidak buruk.” 

Dia sama sekali tidak mendengarkanku dengan benar... Apa pula itu ‘ordo’? Benar-benar merepotkan ngobrol dengan pemabuk...

“Sesuai dengan prinsipmu, aku akan bertindak sebebas mungkin.” 

“Ah... ya.” 

Sambil mengucapkan kalimat tersebut dengan raut wajah penuh makna, sang Jenderal Iblis mengenakan topeng yang lainnya lalu pergi. 

Apa yang harus kulakukan sekarang? 

“Untuk sementara, bagaimana kalau keluar kota? Dengan topeng ini, aku bisa mengubah wajahku.” 

Aku kembali memeriksa topeng yang kuterima. Ini adalah Item luar biasa yang dapat merekam wajah orang yang dilihat, lalu mengubah pemakainya menjadi wajah tersebut. 

Untuk sementara, aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang ramai.


* * *


“Hei, apa kamu tahu cerita itu?” 

“Ya...”

“Katanya, ada seseorang yang diduga sebagai buronan terkenal terlihat di gang belakang tidak jauh dari sini.” 

“Paling-paling cuma rumor, ‘kan?” 

“Tidak juga. Itu karena...”

Saat ini, aku berada di sebuah kedai minum di kota. Tempat itu sangat biasa, tempat berkumpulnya para pria yang terlihat kasar, namun sebenarnya mereka hanya warga sipil. Dilihat dari penampilannya, setidaknya mereka terlihat seperti petualang kelas C. 

Aku tidak terbiasa minum alkohol, jadi aku hanya menyantap makanan pendamping sambil mendengarkan pembicaraan rumor mereka. 

“Katanya dia terlihat sedang berbincang dengan sisa-sisa pasukan Raja Iblis.” 

“Yang benar saja...”

“Itu berarti teori dalang di balik semua ini memang benar.” 

“Kalau begitu, rumor itu juga...”

Tampaknya ada yang melihatku sedang berbicara dengan sang Jenderal Iblis. 

Dikarenakan adanya kontak dengan sisa pasukan Raja Iblis, teori bahwa aku adalah dalang justru semakin diperkuat. Padahal, jika mereka tahu bahwa itu adalah pasukan Raja Iblis, seharusnya mereka juga mendengar isi percakapan kami. Namun entah mengapa, bagian itu tidak pernah dijelaskan...

“Mendengar percakapan tersebut, mengapa kecurigaannya malah semakin besar? Apa perlu aku sendiri yang menyebarkan rumor?” 

Saat ini, wajahku telah berubah. Aku menyalin wajah orang asing yang berpapasan denganku di jalan, lalu mengenakan topeng itu. Kebetulan pria itu cukup tampan, jadi aku rasa itu akan berguna. 

“Hei, kalian.” 

“S-Siapa kamu...!”

“Jangan bilang...?” 

Aku menyapa dua orang pria yang sedang membicarakan gosip tersebut. Reaksi mereka terasa berlebihan, lebih tepatnya terlalu heboh. 

Memang, wajah ini terlihat tampan. Namun, aku mulai sedikit menyesal telah menyapa mereka. 

“Pria bernama Emo Sugiru yang dirumorkan itu bukanlah orang jahat. Dia hanya sedikit terlalu antusias.” 

“K-Kamu juga bawahan Emo Sugiru...?”

“Itu pasti bohong...” 

Hmm, sepertinya tidak masalah jika aku dianggap sebagai bawahannya, agar mereka tahu bahwa aku orang baik. Lebih baik aku berpura-pura diperlakukan dengan baik olehnya. 

“Aku diperlakukan dengan sangat baik oleh Tuan Emo.” 

“Serius...?” 

“Orang sehebatmu sampai-sampai...”

Ya, ya. Jika pria setampan ini mengatakan bahwa dia orang baik, tentu mereka akan mempercayainya. Aku harus meluruskan kesalahpahaman, meskipun sedikit. Kalau tidak, aku bisa dihukum mati. 

Ayo, semangat. 

“Tagihan kalian akan aku bayar. Sepertinya kesalahpahaman tentang Tuan Emo sudah tersebar, jadi kalian akan menyebarkan hal ini juga, bukan?” 

“Ah, iya...” 

“Terima kasih... Jadi, aku cukup menyampaikan hal ini kepada yang lain, ‘kan?” 

“Ya, aku senang kalian cepat tanggap.” 

Betapa jujurnya orang-orang ini, aku sangat berterima kasih. Jika aku sedikit demi sedikit tidak mengatur kesan seperti ini, aku akan selamanya menjadi buronan. 

Aku juga ingin berjalan di kota ini dengan wajah asliku. Setelah keluar dari kedai ini, aku akan mengganti wajahku. 

Agar mereka mau menyebarkan rumor bahwa aku orang baik, sebaiknya aku meninggalkan cukup banyak uang. 

“Kalau begitu, permisi.” 

“Semoga sehat selalu. Ah, tidak. Ungkapan itu tidak pantas untuk orang sepertimu...” 

“Benar, orang seperti ini pasti bisa bekerja dengan baik bahkan di bawah Emo Sugiru.” 

“Hmm... begitu ya. Kalau begitu, selamat malam.” 

Entah mengapa, sepertinya mereka merasa enggan berpisah denganku. Mereka orang-orang yang cukup baik, bukan? 

Dengan perasaan senang, aku pun keluar dari kedai sambil melompat-lompat kecil.


* * *


“Sudah pergi, ya.” 

“Ya... Aku tidak menyangka kita bisa bertemu dengan petualang peringkat S, si Pendekar Pedang.” 

“Dan juga, dia rupanya bawahan Emo Sugiru...”

“Ini harus segera dilaporkan kepada kepala guild.”

“Ya ampun, apa mereka akan percaya bahwa kita bertemu dengannya di kedai? Yah, bagaimanapun juga ini janji kita.” 

Melihat uang yang diletakkan sedikit lebih banyak di atas meja, keduanya pun tersenyum. Seperti yang diharapkan dari petualang peringkat S, sungguh dermawan. 

“Namun aneh juga, bukan? Kalau sampai Pendekar Pedang berpihak padanya, apa dia benar-benar orang jahat?” 

“Entahlah. Bahkan orang jahat pun ada yang memiliki karisma.” 

“Karisma jahat yang mampu memikat Pendekar Pedang... Kalau orang seperti itu ternyata dalang di balik semuanya, masuk akal juga.” 

Rumor ini pun menyebar ke seluruh penjuru kota dalam sekejap. 


Korban terbesar dari semua ini merupakan Pendekar Pedang, namun itu menjadi kisah di lain waktu...



Post a Comment

Join the conversation